Webinar Series KPI, Minggu Ini Bahas Kepemimpinan

Hj. R.A Anita Noeringhati,S.H,M.H selaku narasumber memberikan pesan nasihat dalam webinar yang bertema “Transformasi dalam Membangun Karakter Leadership yang Ideal di Era Digitalisasi” secara virtual melalui aplikasi Zoom. Selasa,(12/10/21).

UIN RF – Ukhuwahnews | Program Studi Komunikasi dan Penyiaraan Islam (KPI) kembali menyelenggarakan webinar pada Selasa, (12/10/21). Webinar yang bertema “Transformasi dalam Membangun Karakter Leadership Ideal di Era Digitalisasi” disiarkan secara virtual melalui Zoom.

Webinar kali ini diisi langsung oleh Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati, Staf Ahli Menteri Perhubungan Cris Kuntandi dan Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Amaliah Hasanah.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Achmad Syarifuddin mengatakan, untuk menjadi pemimpin perlu mengikuti aturan dan etika yang berlaku karena pemimpin itu adalah sebuah contoh untuk anggota.

“Banyak dari kita terkadang tidak mencerminkan sebagai ledearship, kemampuan berempati harus menyesuaikan dengan posisi kedudukannya sebagaimana Rasulullah SAW ajarkan,” ujarnya saat sambutan.

Dalam materinya, Anita menyampaikan bahwa siapa saja bisa menjadi leadership yang ideal asal mengikuti dengan aturan dan gagasan yang berlaku.

Ia juga mengatakan kita harus berani untuk menjalankan kepemimpinan agar berkomunikasi bisa dijalankan efektif.

“Kepemimpinan merupakan seni untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, pemimpin digital harus mampu berpikir dan bekerja tanpa ada perbedaan interaksi, agar anggota bisa bekerja dengan cara masing masing yang sesuai standar yang ditetapkan. Seorang pemimipin juga harus memiliki ketanggapan dan kepekaan untuk memutuskan perusahaannya kebiasaan terhadap perilaku masyarakat,” tutupnya.

Tak hanya itu, pemateri kedua Amaliah Hasanah memaparkan bahwa pemimpin dalam organisasi atau instansi perlu beberapa karateristik agar yang dilakukan bisa terjalankan.

“Kemampuan organisasi di era digital ini harus memiliki karakteristik yaitu navigator (orang yang menavigasi perbedaan memimpin dengan tujuan tertentu), connector (penghubung visi yang bisa menghubungkan secara efektif), virtual leadership (memimpin teknologi berkomunikasi secara virtual), relater (menggambarkan secara budaya ditempat kerja sebagai pemimpin) dan empati,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa seorang pemimpin bukan berarti hanya memikirkan jabatan atau yang sudah didapat pemimpin juga harus bisa memikirkan bagaimana visi atau rencana yang ia buat untuk ke depannya pemimpin harus mengembangkan.

“Memberikan kekuasaan mengalokasikan biaya agar orang lain bisa bekerja dengan baik, pemimpin juga harus bisa menggunakan kemampuannya memulai program untuk memuaskan konsumen, memberikan inspirasi transformasi digital, serta berkomunikasi dengan baik rekan kerjanya, terakhir pemimpin juga harus bisa mengakui jika ia tidak mampu,” tutupnya.

Terakhir, Cris Kuntandi menyatakan pemimpin itu bukan hanya banyak penggemar atau pengikut melainkan bagaimana dia menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin.

“Pemimpin dikatakan pemimpin jika ia mampu menciptakan kader kader selanjutnya serta menjadikan dirinya sosok teladan atau contoh,” tutupnya.

Reporter: Odelia Winneke
Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *