RUU HIP Tuai Polemik, Begini Kata Civitas Academica UIN RF

Foto : Internet

UIN RF – Ukhuwahnews| Perubahan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila mengundang kontra dari masyarakat, politikus dan sivitas akademika. Adanya RUU tersebut dapat membahayakan arti Pancasila.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Hukum dan Syariah UIN Raden Fatah Palembang Armasito. Menurutnya, Pancasila juga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, ketika merubahnya maka konsep ketatanegaraan secara keseluruhan ikut diubah. 

“Pancasila dalam kedudukannya sebagai sumber hukum formal yang fundamental dan menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara. jika diubah maka akan mengubah secara keseluruhan konsep ketatanegaraan dan itu hal yang salah,” ujarnya saat diwawancari Via Whatsapp, Kamis (18/06/2020).

Armasito menjelaskan, akan berbahaya jika menafsirkan Pancasila dilakukan dengan pandangan yang berbeda-beda, sehingga akan menimbulkan Polemik dan perpecahan dalam berbagai pihak.

“Karena banyak penafsiran pancasila dari berbagai pandangan yang berbeda-beda, hal ini yang akan menimbulkam polemik mengarah perpecahan, walaupun pancasila merupakan Ideologi terbuka,” jelasnya.

Menurut Sekretaris Program Studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah (HES) tersebut mengatakan, rencana perubahan tersebut tidak akan mudah dilakukan, mengingat nilai- nilai pancasila sudah terterah di bait-bait pancasila yang disepakati Tap Majelis Permusyawarat Rakyat (MPR) Tahun 1996.

“Jadi merubah itu tidak semudah membalik telapak tangan dan harus dipikirkan lagi. Walaupun hanya sebatas wacana Ius Constituendum, tetapi bahayanya ketika sudah ditetapkan negara ini bisa goyah karena adanya pertarungan ideologi, ” kata Armasito.

Armasito berharap, RUU ini tidak disahkan mengingat negeri ini sedang sakit, baik regulasi hukumnya dan adanya pandemi covid-19.

“Banyak hal yang terjadi di luar kendali kita semua saat ini, saya harap hal ini tidak menjadi pemicu rusaknya harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Selain itu, menurut salah satu Mahasiswa Kehutanan Universitas Gajah Mada, Waya Santika mengatakan, mengaku terkejut dengan adanya perubahan RUU yang dinilai melemahkan pancasila.

“Kok ada pemikiran mau melemahkan Pancasila dengan membuat hukum teknis yang alibinya sebagai payung hukum ideologi Pancasila. Sedangkan Pancasila jelas-jelas yang memayungi hukum di Indonesia,” ungkapnya saat diwawancari.

Waya juga menambahkan, rumusan ekasila dan trisila dinilai tidak sesuai dengan sila pertama seperti, ketuhanan yang maha esa menjadi ketuhanan yang berkebudayaan. Dan membuat perpecahan budaya.

“Kita tau kalau kebudayaan itu adalah manusia bukan tuhan. Sudah jelas perubahan ini bertentangan dengan sila pertama, khususnya Islam dan “ketuhanan yang berkebudayaan” justru akan menimbulkan perpecahan karena ragamnya budaya yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan Waya, Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Lampung, Siti Mardasela menyatakan, tidak setuju dalam rencana perubahan RUU. Merupakan hal yang  tidak masuk akal terutama pasal pertama yang meyimpang dan bisa memicu ancaman bagi masyarakat.

“Enggak setuju. Kalau pribadi sih langsung kutolak kalau memang jelas-jelas menentang sila pertama,dan yang dibahas di RUU itu menyangkut sila pertama yang makna keduanya jelas bertentangan. Pada saat sila pertama dibentuk itu saja perlu diganti karena isi sila pertama ada ancaman besar dari masyarakat, apalagi kalau diganti yang seperti ini,” pungkasnya.

Reporter : Bunga Yunielda dan Wisnu Akbar Prabowo

 Editor : Siti Srijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *