Peralihan Perkuliahan Daring ke Tatap Muka Picu Culture Shock

Ilustrasi pembelajaran tatap muka terbatas. Ukhuwahfoto/Kemas Prima

UIN RF – Ukhuwahnews | Sistem Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas telah banyak diterapkan di beberapa sekolah hingga universitas baik negeri maupun swasta, termasuk UIN Raden Fatah Palembang. Senin, (25/10/21)

Hal ini menjadi momok bagi mahasiswa yang telah beradaptasi dan terlanjur nyaman dengan pembelajaran daring selama satu setengah tahun mereka jalani. Sudah banyak mahasiswa mengalami Culture Shock perkuliahan tatap muka.

Culture shock adalah fenomena emosional ketika bertemu dengan lingkungan ataupun budaya baru. Mahasiswa yang mengalami culture shock perkuliahan tatap muka merasa bingung untuk menempatkan posisinya ke tempat yang baru ini dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka juga kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Salah satu mahasiswa program studi Manajemen Dakwah turut merasakan dampak culture shock perkuliahan tatap muka ini, Malita Giani merasa kaget dan tidak siap dengan adanya PTM dikampus.

“Diawal perkuliahan daring, saya kaget dan kurang nyaman, tidak bisa menerima materi dengan baik karena adanya beberapa kendala seperti sinyal dan kuota. Kemudian seiring berjalannya waktu saya mulai terbiasa dan nyaman dengan pembelajaran daring ini,” ujar mahasiswa semester tig aini.

Ia mengatakan setelah bertahun tahun menempuh pendidikan tatap muka. Namun, tiba-tiba berubah menjadi pembelajaran daring karena adanya pandemi ini, lalu berubah pola menjadi tatap muka lagi. Dirinya tidak siap menerima transisi yang begitu cepat ini.

“Dengan kuliah tatap muka ini juga saya harus lebih prepare ya. Misalnya sudah mulai mencari kost-kostan disekitar kampus, belajar hidup mandiri dan harus pinter-pinter manajemen waktu, karena sebelumnya kan tinggal dengan orangtua, tidak selalu sendiri. Jadi saya perlu banyak-banyak memahami keadaan dan beradaptasi nantinya,” ungakapnya.

Sementara itu, Dosen Psikologi Islam Fajar Tri Utami menjelaskan bahwa hal ini sangat wajar dirasakan oleh mahasiswa.

“Fenomena emosional ini wajar dialami mahasiswa ataupun pelajar diluar sana. Mahasiswa harus bangun lebih pagi, melawan rasa malas dan mencoba keluar dari zona nyamannya.”

Namun, ia menambahkan ‘shock´ disini tidak akan lama dan berat karena sudah pernah dilakukan sebelumnya meskipun rentang waktu yang cukup lama, jadi penyesuaian dirinya tidak butuh banyak kerja keras.

Reporter: Ellysa Meilani
Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *