Menguak Keberadaan Laboratorium Dakwah Fakultas Ushuluddin yang Terbengkalai

Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar

UIN RF – Ukhuwahnews|Keberadaan Laboratorium Dakwah Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSHPI) UIN Raden Fatah sampai saat ini berada dalam kondisi mangkrak atau terbengkalai.

Wakil Rektor II Abdul Hadi mengungkapkan, pengoperasian laboratorium tersebut sudah terhenti sekitar 10 tahun yang lalu. Rencananya, laboratorium akan dialihfungsikan menjadi klinik kesehatan.

“Memang laboratorium itu sudah lama terbengkalai. Jadi sebelum terbengkalai terlalu lama ya kami mempunyai rancangan dan itu membutuhkan waktu serta persetujuan dari pihak pusat,” ujar dia.

Akan tetapi, lanjut Hadi, belum ada kepastian mengenai kapan pengalihfungsian tersebut dilakukan. Menurutnya, pihak universitas masih mempelajari rancangan dan ditargetkan akan rampung pada 2024.

“Rencana itu diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan intelektual serta masyarakat sekitar,” tambah Hadi.

Kurangnya dana perawatan menyebabkan gedung tersebut tidak digunakan lagi. Gedung yang sudah berdiri sejak awal tahun 1980-an itupun terpaksa harus ditinggalkan.

Kondisi alat pengaman pintu depan Laboratorium Dakwah Fakultas Ushululddin dan Pemikiran Islam, sudah tidak berfungsi. Rabu, (31/3/21). Ukhuwahfoto/M. Ilham Akbar

Menurut Kepala Tata Usaha FUSHPI Muhammad Syahid, gedung tersebut merupakan salah satu gedung tertua yang ada di kampus. Uniknya, pembangunan gedung tua itu didanai oleh sumbangan para alumni FUSHPI.

“Dulu, pusat syiar dan dakwah itu berada di Fakultas Ushuluddin. Namun, fakultas itu belum memiliki laboratorium dakwah. Dari situlah muncul keinginan untuk membangun laboratorium dakwah dengan biaya yang diperoleh dari sumbangan para alumni fakultas tersebut,” jelasnya.

Sedangkan kegunaan awal dari gedung itu merupakan tempat berkumpulnya dai-dai yang berasal dari alumni FUSHPI. Sebelum benar-benar terbengkalai, gedung tersebut sempat digunakan sebagai sekretariat senat dan dewan mahasiswa.

Kondisi gedung yang sudah memprihatinkan menjadikan mahasiswa tidak diperkenankan lagi untuk menggunakannya.

“Selain berbahaya, tempat itu juga berada di luar jangkauan kampus sehingga susah untuk dipantau,” imbuhnya.

Syahid berharap gedung tersebut dapat ditukarkan dengan gedung Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pembantu yang ada di sebelah masjid kampus.

“Daripada dirobohkan lebih baik ditukarkan saja. Jadi masyarakat tidak harus memasuki kawasan kampus untuk mengunjungi Puskesmas,” tutupnya.

Reporter : Odelia Wineke
Editor : Wisnu Akbar Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *