Keluhkan Dosen Tidak Mengajar, Kepala LPM UIN RF: Laporkan ke Prodi

Ilustrasi dosen tidak mengajar. Ilustrasi/M Luthfi Septorio

UIN RF – Ukhuwahnews | Kuliah daring di UIN Raden Fatah telah satu tahun berjalan. Walau demikian, bukan berati kuliah tersebut tidak memiliki kendala dan masalah. Salah satunya sering dikeluhkan mahasiswa adalah oknum dosen yang tidak profesional.

Selama kuliah daring, UIN Raden Fatah mengandalkan E-learning sebagai media pembelajaran walaupun banyak dosen menggunakan media lain, seperti Zoom dan Whatsapp. Kehadiran mahasiswa pun dinilai melalui presensi yang ada di Elearning setiap pertemuan.

Tidak ada tempat belajar, tidak ada tatap muka dan sulit diawasi oleh orang luar khususnya dekan dan prodi dapat menjadi kesempatan oleh oknum dosen untuk tidak mengajar dan hanya memberikan absen. Kurangnya pengawasan saat kuliah daring menjadi kekurangan untuk UIN Raden Fatah saat ini.

Massayu Prina, mahasiswi Program Studi Pendidikan Matematika berkeluh mengenai hal ini. Tanpa ragu ia mengungkapkan, ada oknum dosen yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk tidak mengajar. Tentu hal ini sangat berdampak pada kegiatan perkuliahannya, ia merasa sulit untuk memahami materi.

Massayu beranggapan jika dosen ini memiliki pemikiran bahwa mahasiswa tidak akan memahami materi kuliah yang disampaikan selama kuliah daring, sehingga dosen lebih memilih untuk menugaskan mahasiswa belajar secara mandiri.

“Dosen yang memiliki pemikiran seperti ini akan berpikir jika mahasiswa harus mandiri.”

Selama ini Massayu dan teman-temannya belajar sendiri, mencari dan memahami materi. Sementara sebagian yang lain tidak belajar sama sekali karena mereka tidak paham.

“Meskipun serba online dan bisa mencari materi di mana saja, tetap saja harus ada interaksi tanya jawab jika tidak paham dan penjelasan sedikit mengenai materi, bukan hanya kasih judul materi saja.”

Lebih lanjut Massayu menuturkan, tidak seluruh materi dapat dipahami oleh mahasiswa. Tingkat pemahaman dan kemampuan mahasiswa berbeda-beda. Selain itu juga mahasiswa memiliki gaya belajarnya masing-masing yang tidak dapat disamakan.

Tak hanya itu, mereka juga ditugaskan untuk berdiskusi secara mandiri tanpa mengetahui kebenaran dari hasil diskusi.

Ketika ditanya apakah pernah melaporkan hal ini kepada Kaprodi, Massayu mengaku tidak melaporkannya karena pada saat itu ia masih duduk di semester satu atau mahasiswa baru dan tidak tahu harus berbuat apa.

Untuk ke depannya, Massayu berharap dosen dapat memperhatikan terlebih dahulu bagaimana cara menyampaikan materi pada mahasiswa. Setidaknya menjelaskan sedikit di awal dan juga menanggapi diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa sehingga mahasiswa dapat mengetahui benar dan salah.

Senada dengan itu, Athira Nur Fathiyah Mahasiswi Jurnalistik mengungkapkan, selama kuliah daring ada beberapa dosen dikelasnya yang mengajar dengan baik. Namun, masih ada oknum dosen yang tidak masuk kelas. Bahkan dalam satu semester hanya ada dua kali pertemuan.

“Sejauh ini dosen yang saya dapat pernah mengajar semua, tetapi memang ada beberapa yang jarang masuk.”

Athira terkadang kesal karena haknya untuk mendapatkan mata kuliah tidak terealisasikan dengan benar. Namun, Ia juga mengaku merasa senang karena beban tugas yang ikut berkurang.

“Ada kesel, dan gak munafik, ada senengnya juga.”

Setiap memikirkan kuliah daring Athira selalu berharap agar kuliah offline dapat segera terlaksana. Tapi menanggapi pembahasan sebelumnya, ia juga berharap para dosen dan mahasiswa bisa saling memahami dan mengerti, agar kondisi kuliah daring menjadi kondusif.

“Jadi bukan dosen saja yang harus begini, harus begitu, kita sebagai mahasiswa juga harus begini harus begitu juga.”

Sementara itu, salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam M. Junestrada Diem juga turut menanggapi hal tersebut. Menurutnya, hal ini tidak baik karena dosen memiliki kewajiban yaitu, Tri Dharma.

“Namanya mengajar ini mengajak batin menyampaikan sesuatu, mentransfer ilmu, pengalaman, dan contoh-contoh kehidupan terhadap keilmuan tersebut.”

Ia juga mengungkapkan bahwa terkadang dosen tidak selalu dapat mengajar, dan memberi tugas adalah hal wajar. Tetapi, jika intensitas memberikan tugas ataupun absen lebih banyak dari mengajar maka itu tidak dibenarkan.

Namun, Junes juga mengingatkan kepada pihak UIN RF untuk memberikan hak dosen tepat waktu. Sebab menurutnya, masih terdapat beberapa dosen yang belum memperoleh pembayaran sesuai jadwal, baik dosen PNS ataupun Luar Biasa (LB).

Oleh karena itu, Junes khawatir nantinya ada dosen yang menjadikan telatnya pembayaran sebagai alasan tidak mengajar.

Lebih lanjut sebagai tenaga pendidik, Junes berharap, semua dosen dapat terlibat dalam pengembangan kepribadian, kualitas dan profesionalisme. Seorang dosen bukan hanya memberikan tugas dan absen, tetapi ada moral yang harus dikembangkan.

“Dosen harus memberikan contoh yang baik berupa ketegasan, keikhlasan, persahabatan, persaudaraan dan itu adalah moral yang bisa meningkatkan kualitas diri mahasiswa dan itu bukan hanya dari tugas atau absen tetapi dari pengajaran.”

Terkait proses perkuliahan daring, Kepala LPM UIN Raden Fatah, Syahrul Jamil menyadari segala kekurangan yang ada. Paling utama menurutnya adalah kesulitan mengakses kuliah daring. Selain itu juga untuk mengantisipasi hal tersebut dosen seharusnya melakukan inovasi.

“Pada jam-jam yang sudah ditetapkan oleh sistem akademik dan mengantisipasi hal tersebut maka seyogyanya dosen menyiapkan media pembelajaran, bisa dalam bentuk video bisa atau program-program yang membantu para mahasiswa untuk memahami materi ajarnya.”

Sebagai penjamin mutu di UIN Raden Fatah Palembang, kata Jamil, dia dan timnya selalu memonitoring dan mengevaluasi perkembangan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh dosen.

Jamil juga menjelaskan, yang bertanggung jawab dari penyelenggaraan perkuliahan Program Studi (Prodi) adalah Kepala dan Sekretaris Prodi. Sehingga yang memonitor keterlaksanaan proses perkuliahan dengan baik dan benar menjadi tanggung jawab pihak tersebut.

“Mahasiswa dapat melapor kepada Kepala Prodi jika ada dosen yang belum melaksanakan tugas dan kewajibannya kemudian Prodi akan melakukan antisipasi dengan cara menyampaikan kepada dosen yang bersangkutan. Jika dia masih belum melakukan tugas dan kewajibannya maka akan dilakukan pergantian terhadap dosen yang bersangkutan oleh program studi. Tentu dengan sepengetahuan dari wakil dekan 1 dalam hal ini atas nama pejabat akademik,” jelasnya.

Namun Jamil menambahkan, jika Kepala Prodi terlambat memberi respon sehingga proses pembelajaran terhambat maka mahasiswa juga bisa meneruskan laporannya kepada wakil dekan 1 (WD1), maka kemudian WD 1 akan mengkomunikasikan dengan Prodi dan sekaligus juga kemudian memonitor perkembangan lanjutan dari keterhambatan proses perkuliahan yang ada itu sehingga kemudian ditemukan jalan keluarnya dari program yang tersebut yang ada itu.

“Kita berharap sekali kepada setiap ketua kelas pada pertemuan kedua atau ketiga itu segera memberikan laporan kepada Kepala Prodi jika ada dosen yang belum masuk kelas.”

Kepala Lembaga Penjamin Mutu (LPM) UIN Raden Fatah Syahril Jamil membenarkan bahwa memang belum ada mahasiswa yang mengadukan hal tersebut kepadanya.

“Sejauh ini belum ada laporan dari mahasiswa tentang dosen dosennya tidak mengajar dalam artian 1 semester penuh pada masa daring ini dan jika pun ada ini tentu kemudian akan dilakukan evaluasi,” ungkapnya.

Reporter: Bunga Yunielda, Desi Sari
Editor: Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *