Berkomedi, Sarana Berdakwah Efektif Di Era Generasi Z

Potret Habib Jafar sedang memaparkan materi kepada mahasiswa. Ukhuwahfoto/RhessyaMaris.

Kegiatan moderasi beragama oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) dengan tema “Pengarustamakan Karakter Moderasi Beragama Dikalangan Pemuda,”. Kegiatan ini dilangsungkan di Auditorium Perspustakaan Kampus B Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Jumat (01/11/2023).

Acara ini dihadiri oleh Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Sumatera Selatan, dan Wakil Rektor I UIN RF Palembang. Acara ini juga dihadiri oleh bintang tamu istimewa Habib Husein Bin Ja’far Al-Hadar.

Baca Juga: Asah Skill Mahasiswa Lewat PGMI Fest Sekaligus Penilaian Akhir Semester

Dalam Pemaparan materinya M Asrorun Niam Sholeh selaku Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, mengungkapkan banyak harapannya kepada anak muda yang merupakan agen perubahan.

“Anak muda sebagai agen perubhan sosial, syarat untuk mewujudkan fungsi Agent of Social Change itu adalah memiliki karakter kuat, kokoh dan sebagau individu juga karakter warga bangsa,” ungkap Asrorun

Lebih lanjut, Asrorun menambahkan menurutnya jalan tengah moderasi agama adalah Wasat’tiyah.

“Jadi itu bukan sekedar jalan tengah, akan tetapi kita memiliki nilai-nilai kebenaran yang kita yakini. Kemudia diatas kebenaran itu kita berpinak internal berupa perubahan masyarakat yang sangat akseleratif hari ini,” tambah Asrorun

Baca Juga: Besok! UKMK M-MKR Kembali Adakan GERASIMU III

Selain itu, Habib Jafar ikut menyampaikan tentang moderasi beragama, menurutnya moderasi beragama sulit untuk dimengerti khususnya dikalangan pemuda.

“Moderasi beragama ini penting untuk kita dalam berkehidupan sehari-hari, untuk menyampaikan pesan-pesan Moderasi beragama terutama kepada anak muda kita harus menggunakan pendekatan yaitu dengan komedi,” ungkap Habib

Lebih lanjut, Habib menambahkan berkomedi ini media yang efektif untuk menyampaikan pesan kita kepada orang lain.

“Pada Zaman Abu Nawas, Buhlul, Nasruddin Hoja itu mereka menggunakan komedi sebagai media untuk mengkritik Penguasa,” Tambahnya.

Menurutnya komedi adalah bahasa yang paling mudah untuk dipahami bahkan oleh siapa pun, karena itu komedi itu sangat menarik untuk dijadikan media penyampaian pesan.

“Kita kalau kritik kita guna komedi didalamnya, respon pertama orang itu bukan marah tapi ketawa, karna komedi itu membuat orang yang jauh jadi dekat bahkan menjadi simbol kedekatan antara satu dengan yang lain,” tutupnya.

Reporter: Rizqya Amalul Husna dan Mourizki (Calon Anggota LPM Ukhuwah).

Editor: Rhessya Maris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *