Batalkan Seruan Aksi, Dema Lakukan Audiensi Bersama Rektorat

Surat Edaran terkait perpajangan masa bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dari rektorat UIN Raden Fatah Palembang

UIN RF – Ukhuwahnews | Seruan Aksi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang untuk menuntut hak terkait Pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dibatalkan. Aksi tersebut dialihkan dengan audiensi yang dilakukan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) bersama pihak Rektorat UIN Raden Fatah Palembang. Rabu, (09/02/2022).

Presiden Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, Reja Anggara mengatakan telah menyampaikan aspirasi mahasiswa, mengenai pengurangan UKT kepada pihak rektorat melalui audiensi.

“Kami sudah menyampaikan kepada Wakil Rektor (WR) III jangan sampai tidak tau permasalahan yang terjadi di bidang kemahasiswaan,” katanya saat di Wawancarai di Gedung Rektorat Kampus A UIN Raden Fatah Palembang.

Reja menambahkan, jika nanti ada mahasiswa yang belum mendapatkan pengurangan UKT maka pihak DEMA UIN Raden Fatah akan terus mendampingi mahasiswa untuk mendapatkan solusi terbaik.

“Ini tak mengurangi semangat kami untuk terus mengawal teman-teman mahasiswa yang memiliki hak pengurangan UKT, kita tinggal menunggu saja keputusan dari rektorat,” tambahnya.

Dari hasil Audiensi tersebut, pihak rektorat kini mengeluarkan Surat Edaran Rektor tentang perpanjangan masa pembayaran UKT hingga14 Februari 2022  dan input mata kuliah Kartu Rencana Studi (KRS) di SIMAK pada tanggal 15 Februari 2022.

Baca juga: Labil Kebijakan Pengurangan UKT, Mahasiswa UIN RF Terancam DO

Menanggapi keputusan tersebut, salah satu mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, Siti Aisyah merasa kecewa dengan pembatalkan seruan aksi yang seharusnya  dilakukan secara terbuka bukan audiensi tertutup.

“Sedikit kecewa dengan Dema seharusnya itu ada aksi terbuka, bukan audiensi tertutup. Saya juga kecewa dengan pihak rektorat, rasanya tidak adil mahasiswa yang tidak memenuhi syarat mendapatkan potongan UKT, sedangkan saya yang sudah dari awal telah memenuhi syarat pengurangan UKT malah dibatalkan begitu saya oleh pihak kampus,” keluhnya.

Siti Aisyah juga berharap kepada pihak rektorat untuk terbuka hatinya, sebab masih banyak mahasiswa yang membutuhkan pemotongan UKT.

“Rasanya ingin sekali potongan UKT itu kembali, setidaknya potongan 80% atau 50% itu sudah sangat berarti sekali bagi saya dan rekan-rekan mahasiswa lain,” harapnya.

Disisi lain, Senat Mahasiswa UIN Raden Fatah Muhammad Ghozzy menjelaskan, alasan jajaran DEMA membatalkan audiensi sebab jumlah masa aksi penurungan UKT sudah melebihi batas yang telah ditentukan.

“Masa aksi ini tidak boleh melebih 30 orang, tetapi kenyataan dilapangan masa melebihi batas. Untuk itu kami sepakat untuk melakukan audiensi dengan pihak rektorat,” jelasnya.

Ghozzy melanjutkan, ia merasa kecewa dengan pihak rektorat yang mengambil keputusan untuk melakukan perpanjangan. Kini pihaknya akan melakukan aksi lanjutan untuk mengupayakan pengurangan UKT ini.

“Kami akan tetap mengupayakan agar setiap mahasiswa mendapatkan hal yang sama, saya pribadi turut merasakan semua rasa yang sama dengan mahasiswa lainnya. Semoga rektorat cepat memberikan kejelasan tentang pengurangan UKT,” tutupnya.

Reporter: Anissa Dwinahari
Editor: Siti Alicia Zahirah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *