Aliansi Mahasiswa UIN RF Kembali Gelar Aksi Untuk Kedua Kalinya

Sekelompok mahasiswa mengerumuni Rektorat Kampus A Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Sabtu (02/12/2023). Diketahui, sekelompok mahasiswa tersebut protes akan kebijakan Pemilihan Raya (Pemira) yang kurang tepat. Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar Prabowo.

UIN RF – Ukhuwahnews | Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang kembali melakukan aksi untuk yang kedua kalinya di Depan Gedung Rektorat Kampus A UIN RF pada Sabtu (02/12/2023).

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (DEMA FDK) sekaligus orator dalam aksi ini, Trio Zuliantino membacakan surat tuntutan untuk Task Force.

Task Force sendiri merupakan tim dosen yang dibentuk untuk menjembatani antara mahasiswa dengan pihak rektorat. Tim dosen ini berjumlah delapan orang dan dipilih berdasarkan latar belakangnya yang pernah mengikuti organisasi.

Surat tuntutan untuk Task Force yakni diantaranya;

  1. Task Force telah melanggar hukum.
  2. Task Force bersikap tidak independen dan berpihak kepada suatu lembaga.
  3. Task Force merupakan representasi dari rektorat namun tidak ikut serta dalam pesta demokrasi mahasiswa.
  4. Keberpihakan Task Force dibuktikan dengan kemunduran jadwal selama dua hari terkait penerimaan berkas pendaftaran.
  5. Bubarkan Task Force.
  6. Bubarkan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU-M)
  7. Penyegelan kedua kalinya, KPUM bobrok.
Salah seorang mahasiswa menyampaikan orasinya saat aksi di Rektorat Kampus A UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (02/12/2023). Ukhuwahfoto/Wisnu Akbar Prabowo.

Ditempat yang sama, Presiden Mahasiswa (Presma) UIN RF, M. Yoga Prasetyo menyampaikan bahwa aksi ini mengajak mahasiswa untuk peka terhadap demokrasi yang ada di kampus.

“Karena ada beberapa hal yang bersifat kontroversial untuk kemudian menjadi landasan diselenggarakannya aksi hari ini,” ujarnya.

Yoga juga menjelaskan alasan aksi ini diadakan pada bukan jam kerja melainkan di akhir pekan .

“Hari ini merupakan hari terakhir pendaftaran berkas para calon Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (Pemira) karena ketidaksenangan bersama dan ada beberapa kejanggalan, maka diimplementasikan lewat mimbar bebas pada hari ini,” jelas Yoga.

Ia juga menuturkan bahwa aksi ini harus ditindaklanjuti dan mendapatkan hasil.

“Keinginan dari kawan-kawan hari ini adalah KPU-M harus dibubarkan. Jika masih tidak ada respon, akan diadakan penyegelan,” tuturnya.

Yoga mengatakan seharusnya KPU-M tidak perlu takut untuk menemui para mahasiswa jika memang merasa benar.

“Pihak KPU-M seharusnya lebih berani dan tidak perlu takut menemui jika memang orientasi mereka adalah mengimplementasikan keinginan mahasiswa. Berdiskusi dengan mahasiswa yang melakukan mimbar bebas pada hari ini bisa menjadi perkara yang mudah,” kata Yoga.

Baca juga: Ungu Sebagai Label Janda, Mewarnai Status dan Makna

Terakhir, ia menyampaikan demokrasi yang ada dikampus ditempatkan dengan tepat, harus dijalankan dengan tepat, harus dilaksanakan sebagaimana mestinya, apalagi ada asas KPU pusat bahwa Jujur dan Adil Langsung Umum Bebas Rahasia (Jurdil dan Luber).

“Ketika masih mahasiswa saja sudah berani melanggar peraturan yang ada, kemungkinan besar akan terus melakukan hal tersebut. Pelaksanaan Pemira di UIN RF tahun ini layaknya pesta demokrasi yang dirasakan seluruh mahasiswa, bukan hanya sebagian orang saja,” pungkasnya.

Reporter: Annisa Shalsabilla Sukma
Editor: Imelda Melanie Agustin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *