Kloning dalam Kerja Jurnalistik Sulit Diatasi

Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Jurnalisme Mahasiswa Digital (JUMADI) yang berlangsung melalui Zoom, Kamis (14/1/21).

UIN RF – Ukhuwahnews | Praktik kloning masih menjadi suatu budaya di tengah kerja jurnalistik dan sulit ditanggulangi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang Ibrahim Arsyad dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Jurnalisme Mahasiswa Digital (JUMADI), Kamis (14/1/21).

Ibrahim juga mengatakan, praktik kloning bisa disebut plagiat atau copypaste yang diambil dari sebagian karya jurnalis untuk disampaikan ke sebuah media.

“Saya beri contoh, salah satu jurnalis bekerja di dua media online yang berbeda, ini akan menjadi beban ia ketika membuat berita yang sama di dua media tersebut,” jelasnya saat mengisi materi tentang Jurnalisme Kloning, Hoax dan Disinformasi.

Selain itu, Ibrahim menambahkan setiap penggalian data, tugas jurnalis harus memverifikasi dan mengecek data narasumber terlebih dahulu.

Menanggapi hal itu, salah satu peserta PJTLN Tiwi Sartika dari LPM Dinamika UIN Sumatra Utara (UIN SU) menyampaikan, jurnalisme kloning tidak memengaruhi kualitas berita yang dibuat.

“Itu sudah biasa dilakukan oleh wartawan pada umumnya, yang saling berbagi informasi, rekaman, foto, dan berita dengan tujuan agar banyak menghasilkan berita dalam satu harinya,” katanya saat diwawancarai via WhatsApp.

Baginya hal yang harus diperhatikan dalam jurnalisme kloning adalah ketika wartawan tersebut tidak dapat menghasilkan berita berbeda dari satu informasi yang didapat.

“Hal itu bisa menjadi fatal dan berpotensi menghasilkan berita plagiarisme,” tutupnya.

Acara PJTLN tersebut diadakan pada tanggal 14-16 Januari 2021 melalui aplikasi zoom.

Reporter: Reza Pramudya
Editor: Rezzy Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *