Curiga Anak Korban Pelecehan Seksual? Kenali Tanda-tandanya!

Sumber: istockphoto/ozgurcankaya.

Tips – Ukhuwahnews | Belakangan kasus kejahatan seksual pada anak di bawah umur semakin ramah didengar telinga. Mulai dari pelecehan, hingga kekerasan yang dilakukan oknum tidak bertanggungjawab kini beranjak eksis.

Terjadinya perbuatan keji itu bisa jadi salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi psikologi sang korban. Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting dalam mengontrol kebiasaan anak sehari-hari yang mungkin menjadi penyebab terjadinya kegiatan hina itu.

Tentunya hal ini menyebabkan berbagai trauma yang dialami si korban. Lalu, bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan orang sekitar khususnya orangtua jika hal itu sudah terjadi?

Sebelum itu, orangtua harus paham terlebih dahulu kondisi sang anak yang bisa menjadi indikasi terjadinya perbuatan tersebut. Karena, pada situasi ini biasanya korban lebih tertutup dan tidak ingin orang terdekatnya mengetahui sesuatu yang dianggapnya ‘aib’ itu.

Selain itu, kebanyakan korban terkadang takut mengungkapkan pelecehan seksual yang dialami, baik karena diancam pelaku atau karena menganggap pelecehan yang terjadi diakibatkan oleh kesalahannya sendiri. Berikut tanda-tanda yang bisa ditunjukkan oleh anak saat mengalami pelecehan seksual yang dikutip dari Alodokter.

Ciri-ciri Anak Terkena Pelecehan Seksual

  1. Sering mengalami mimpi buruk hingga susah tidur
  2. Kehilangan konsentrasi dan sulit menerima pelajaran
  3. Sulit mengendalikan emosi
  4. Sangat tertutup atau menarik diri dari lingkungan sekitar
  5. Selalu terlihat sedih, cemas, atau takut berlebihan
  6. Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri

Tak hanya itu, biasanya secara tidak langsung korban juga memberi tanda tertentu sebagai petunjuk adanya pelecehan seksual yang dialaminya. Misalnya, anak mengalami tantrum setiap bertemu kerabat yang menjadi pelaku.

Baca Juga: Begini Cara Bedakan Barang Desainer Asli dan KW

Tanda lainnya, ciri pelecehan seksual juga bisa diketahui dari keluhan kesehatan sang anak. Waspadai luka atau memar tak wajar pada anak, terlebih jika disertai beberapa masalah kesehatan, seperti susah buang air kecil, nyeri saat berjalan atau duduk, perdarahan dari anus atau kemaluan, serta gejala penyakit menular seksual.

Cara Menyikapi Pelecehan Seksual pada Anak

Jika pelecehan seksual terjadi pada anak, orangtua tentu harus mengetahui cara menyikapi hal tersebut. Ini penting dilakukan agar sang korban tidak semakin terpuruk dengan keadaan yang sudah dialaminya, dan mencegah adanya dampak pada proses pertumbuhan.

Masih dikutip dari Alodokter, terdapat tiga sikap penting yang harus dilakukan orangtua dalam menghadapi anak yang menjadi korban pelecehan seksual.

1. Cobalah untuk mengajak anak berbicara

Cobalah untuk mengajak anak berbicara dengan dari hati ke hati. Ketika anak sudah mulai bercerita, usahakan untuk tetap tenang dan dengarkan semua yang disampaikannya dengan cermat.

Selain itu, hindari menyela perkataan anak meski merasa marah pada pelaku atau sulit memahami yang sedang diceritakan. Karena, menyela perkataan anak dapat membuatnya merasa kurang didengarkan, sehingga anak enggan bercerita lebih lanjut.

2. Berikan waktu untuk anak

Cobalah untuk memahami bahwa tidak semua anak dapat menceritakan kejadian buruk tersebut dalam waktu yang singkat. Jika korban belum siap untuk berbagi mimpi buruknya itu, berikan anak waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu hingga dapat terbuka dengan Anda.

3. Berikan dukungan penuh

Orangtua sebaiknya memberikan dukungan pada anak dengan memercayai seluruh perkataannya dan meyakinkan dirinya bahwa hal yang terjadi bukanlah kesalahannya. Coba juga untuk menjelaskan bahwa menceritakan kejadian yang ia alami merupakan tindakan yang tepat.

Selain itu, beritahu anak bahwa Anda akan selalu berada di sisinya kapan pun ia butuhkan. Dengan demikian, korban akan merasa lebih aman dan dilindungi.

Pelecehan seksual salah satu tindakan yang melanggar hukum. Jika Anda mencurigai anak menjadi korban pelecehan seksual, hal ini juga perlu dilaporkan kepada pihak yang berwenang, seperti kepolisian dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar dapat diproses secara hukum.

Tindakan bejat pada anak ini tentu menyebabkan trauma yang mendalam dan dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa. Pastikan orangtua selalu mendampingi anak agar ia tetap merasa aman. Bila perlu, bawa anak ke psikolog untuk berkonsultasi sehingga bisa mendapatkan pendampingan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Penulis: Annisa Dwilya Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *