Zakat Fitrah : Ketentuan dan Besarnya Zakat

See the source image
Sumber : Zakat.or.id

Penulis : Dr.,Dinnul Alfian Akbar, M.Si (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah)

Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila sudah mencapai nisab atau memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh agama, begitu juga dengan penyalurannya.

Dr. Yusuf Qardawi dalam bukunya Fiqhuz Zakaah menjelaskan bahwa zakat fitrah adalah zakat yang disebabkan oleh futur (berbuka puasa) pada bulan Ramadan atau disebut juga dengan sedekah fitrah.

Zakat fitrah adalah zakat jiwa yang berarti pensucian jiwa yang diwajibkan pada jiwa orang muslim yang berfungsi untuk mensucikan diri dari dosa-dosa yang telah menodai dirinya selama bulan Ramadhan, sehingga ia bersih seperti ia dilahirkan ibunya laksana kertas yang belum dinodai.

Dalam sejarahnya, perintah zakat fitrah belum memiiki ketentuan selama Nabi Muhammad berdakwah 13 tahun di Mekkah. Penjelasan ini dapat dilihat dari Tafsir Ibnu Katsir tentang surat Al-Muzzammil ayat 20,

Yakni dirikanlah salat wajib dan tunaikanlah zakat yang fardu. Dalam ayat ini terkandung dalil bagi orang yang mengatakan bahwa perintah wajib zakat diturunkan di Mekah, tetapi kadar-kadar nisab yang harus dikeluarkan masih belum dijelaskan dengan rinci kecuali hanya di Madinah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui,” (Tafsir Ibnu Katsir).

Perincian kadar harta yang dizakatkan, baru diberlakukan setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Setelah 17 bulan menetap, Allah mewahyukan surat Al-Baqarah ayat 183-184, tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Tak lama setelah ayat tersebut turun, mulai ada kewajiban zakat disertai dengan perinciannya.

Ukuran Zakat Fitrah

Besarnya zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah sebesar 3,5 liter atau 2,5 kg beras. Jika kamu ingin menggantinya dengan uang maka uang yang dibayarkan harus sesuai dengan harga 2,5 kg beras tersebut.

Imam Syafi’i berpendapat menurut sunnah Rasulullah SAW zakat fitrah adalah berupa makanan pokok atau makanan yang biasa dimakan oleh seseorang. Makanan yang harus dikeluarkan sebagai zakat fitrah adalah makanan yang paling sering dimakan oleh seseorang.

Jika seseorang mendapat pinjaman (berupa makanan) dari orang lain, kemudian pinjaman tersebut habis (pada malam satu syawal), maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah. Apabila keesokan harinya ia ternyata mendapatkan makanan yang bisa dipakai untuk membayar zakat fitrah, maka dalam hal ini ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah, karena waktunya sudah berlalu.

Abu sa’id AL Khudri RA berkata, “Di zaman Rasulullah SAW kami mengeluarkan zakat fitrah berupa makanan pokok sebanyak satu sha’ keju (susu kering) satu sha’ zabit (anggur kering), satu sha’ tamar (kurma kering), satu sha’ gandum. Demikianlah kami mengeluarkan zakat fitrah, sampai pada suatu hari Muawiyah datang berhaji atau berumrah, lalu ia berkhutbah di hadapan kaum muslimin. Diantara isi khutbahnya adalah, ‘aku berpendapat bahwa dua mud  yang berasal dari negeri Syam adalah sebanding dengan satu sha’ tamar’. Maka, kaum muslimin mengikuti apa yang diucapkan oleh muawiyah tersebut.”

Adapun ukuran yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah adalah satu sha’ yaitu satu sha’ yang biasa dipakai oleh Rasulullah SAW. Apabila makanan tersebut berupa biji-bijian, maka ia hanya wajib mengeluarkan biji-bijian tersebut, jadi ia tidak boleh mengeluarkan zakat berupa sawik, dan juga tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan harganya (dengan uang).

Sedangkan jenis barang yang harus dikeluarkan adalah bahan makanan pokok pada umumnya di suatu negeri. Baik berupa gandum, kurma kering, kurma basah, atau tepung. Bisa juga selain semua yang telah disebutkan, yang merupakan makanan pokok warga suatu negeri.

Misalnya beras, jagung, dan apa-apa yang merupakan makanan pokok mereka disuatu negeri masing-masing. Para ulama sepakat, bahwa zakat fitrah itu wajib, sebab lebaran pada akhir bulan Ramadan bertujuan untuk mengembirakan fakir miskin dan pembersih diri pribadi.

Tsauri, Ahamad, Ishak, Syafi’I dalam mazhab jadidnya, dan Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa waktu wajib zakat fitrah dimulai dari tenggelamnya matahari pada malam idul fitri karena waktu tersebut adalah waktu berbuka puasa.

Syarat Wajib Zakat Fitrah

Seseorang wajib membayar zakat fitrah apabila memiliki 3 kriteria berikut:

1. Islam dan Merdeka

Syarat pertama adalah orang tersebut beragama Islam dan merdeka, artinya tidak sedang dalam kondisi terjajah, tidak menjadi budak, dan sehat mental. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar RA menyebutkan,”laki-laki dan perempuan dari kaum muslimin.”

2. Menjumpai dua Waktu

Syarat kedua adalah tiap-tiap orang yang menjumpai 2 waktu yaitu: Ketika masuk bulan Ramadan dan awal bulan Syawal.

3. Mampu

Syarat ketiga adalah orang tersebut mampu membayar, dalam hal ini yaitu memiliki harta cukup untuk dirinya dan untuk orang-orang yang berada di bawah tanggungannya pada hari raya dan malamnya.

Adapun orang-orang yang tidak wajib membayar zakat fitrah yaitu :

  1. Bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan,
  2. Orang yang meninggal sebelum matahari terbenam di akhir bulan Ramadan,
  3. Orang yang baru masuk Islamsetelah matahari terbenam di akhir bulan Ramadan,
  4. Tanggungan istri yang baru dinikahi setelah matahari terbenam di akhir bulan Ramadan.

Rukun Zakat Fitrah

Rukun dalam zakat fitrah yaitu ada 5 yaitu:

  1. Niat ikhlas,
  2. Adanya pemberi zakat atau muzakki (bisa diwakilkan bagi anak-anak dan hamba sahaya),
  3. Adanya penerima zakat atau mustahik  (bisa disalurkan melalui Amil atau orang yang bertugas),
  4. Adanya makanan pokok sesuai dengan makanan pokok tempat yang akan diberikan zakat,
  5. Takaran sesuai dengan apa yang sudah disayari’atkan.

Kapan Waktu Paling Utama Mengeluarkan Zakat Fitrah ?

Waktu paling utama untuk mengeluarkan zakat fitrah yaitu sebelum pergi melaksanakan sholat Idul Fitri (waktu afdhal).

Apabila kamu ketinggalan waktu, maka tidak terhitung sebagai orang yang melaksanakan kewajiban zakat.

Penetapan waktu membayar zakat fitrah ditegaskan dalam Hadits Riwayat Tirmidzi yang berbunyi, “Telah menceritakan kepada kami (Muslim bin Amru bin Muslim Abu Amru Al Khaddza’ Al Madani), telah menceritakan kepadaku (Abdullah bin Nafi’ As Sha ‘Igh) dari (Ibnu Abu Zannad), Dari (Musa bin Uqbah), dari (Nafi); dari (Ibnu Umar), bahwasannya Rasulullah Shallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebelum berangkat (ke tempat shalat) pada hari raya Idul Fitri. Abu ‘Isa berkata, ini merupakan Hadits hasan shahih gharib, atas dasar ini para ulama lebih menganjurkan untuk membayar Zakat Fitrah sebelum berangkat Shalat,” (HR . Tirmidzi: 613).

Siapa yang Berhak Menerima Zakat Fitrah ?

Berdasarkan pendapat yang paling kuat dan benar, bahwa yang berhak menerima zakat fitrah hanyalah orang-orang fakir dan miskin saja, sedangkan 6 golongan penerima zakat lainnya tidak berhak menerimanya. Inilah pendapat yang dipegang oleh para ulama pengikut mazhab imam Malik, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. Pendapat ini dianggap lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fitrah, yaitu untuk memberi makanan orang miskin.

Berikut adalah 8 golongan orang yang paling mendapatkan prioritas untuk mendapatkan bagian zakat fitrah yaitu :

  1. Fakir : Orang yang hampir tidak mempunyai apa-apa sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup tidak mampu. Karena itu Allah SWT menyebutkan mereka kedalam ayat pada urutan pertama. Hal itu mengindikasikan kedudukan mereka yang harus diprioritaskan dan mendapat perhatian lebih.
  2. Miskin : Orang yang mempunyai harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan utama hidup. Golongan miskin adalah mereka yang memiliki harta ataupun usaha untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup berupa pangan, sandang, papan. Istilah miskin bisa juga berarti mereka yang tidak mengemis, tidak mau memohon balas kasihan orang lain meskipun kondisi mereka kekurangan.
  3. Amil : Orang yang mengumpulkan dan mendistribuskan hasil zakat. Orang yang paling utama menjadi amil ialah orang-orang yang sangat membutuhkan zakat tersebut, tetapi jika diantara mereka tidak ada yang sanggup, boleh juga orang-orang kaya yang betul-betul mau menolong orang yang miskin itu, mereka pun berhak menerima pembagian zakat karena termasuk bagian panitia (amil).
  4. Mualaf : Orang yang baru saja masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan tauhid dan syariat.
  5. Riqab : Budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Yaitu yang dijanjikan oleh tuannya bahwa ia boleh menebus dirinya, budak itu diberi zakat untuk menebus dirinya sendiri.
  6. Gharimin : Mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.
  7. Fisabilillah : Orang yang sedang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad, dan semacamnya.
  8. Ibnu Sabil : Orang yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah. Menurut Imam Syafi’i yang dinamakan dengan ibnu sabil ialah orang yang hendak berjalan dari negeri tempat tinggalnya, tanah tumpah daranya sendiri atau yang lain-lain, dan orang dagang yang berjalan jauh yang melewati tapal negerinya. Sebagian ulama Mazhab Hambali berpendapat bahwa ibnu sabil adalah orang yang terusir kareana negaranya dikuasai orang zalaim dan meminta suaka ke negeri lain demi mempertahankan akidahnya.

       

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *