Tetap Ber-Idul Fitri Meskipun di Masa Pandemi Covid-19

Terlihat seorang pria sedang salat di masjid dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu, menggunakan masker dan menjaga jarak. Ukhuwahfoto/M. Wahyu.

Penulis : Dr. Achmad Syarifudin, MA (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah)

Umat Islam di Indonesia bahkan mungkin di beberapa negara lainnya patut prihatin atas Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir. Bahkan muncul jenis varian baru yang sudah masuk ke Indonesia. Imbasnya, kegiatan sakral yang sebelumnya dapat dilakukan dengan sukaria, bersilaturahmi bersama keluarga, teman dan tetangga mengalami pembatasan (Physical Distancing).

Keputusan pemerintah untuk membolehkan umat Islam melaksanakan Salat isya’, Tarawih dan Witir secara berjamaah di masjid dan musala merupakan kabar baik yang direspon dengan semangat oleh masyarakat. Akan tetapi, angka kasus terpapar Virus Covid-19 semakin meningkat tajam, bahkan zona merah terjadi lagi.

Meskipun betul bahwa penyebarannya tidak dipastikan bersumber dari kerumunan jamaah di masjid dan musala. Namun, kekhawatiran pemerintah terhadap umat Islam menyebabkan ulama dan pemerintah bersatu dalam menghadapi situasi ini.

Belakangan muncul informasi bahwa 1200 masjid di Palembang tidak dapat melaksanakan Salat Idul Fitri (ID) demi mencegah penyebaran Virus SARS-CoV-2. Hal tersebut membuat pengurus Dewan Keamanan Masjid menjadi kebingungan. Tetapi itu belum final, sesungguhnya, yang resmi adalah penerapan protokol kesehatan secara ketat bagi pengelola masjid dan musala yang ingin menyelenggarakan Salat ID.

Kita bersyukur dengan edaran pemerintah terbaru, bagi pengurus masjid atau musala yang akan menyelenggarakan Salat ID diimbau untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Bahkan harus membuat pernyataan yang ditandatangani oleh ketua pengurus masjid atau musala dan diketahui oleh lurah/RT setempat.

Sejatinya, apa pun kondisinya, ber-Idul Fitri bagi umat Islam pasca Ramadan adalah hak yang perlu diapresiasi. Hanya saja, tidak perlu berlebihan dalam merayakan hari raya tersebut. Karena kebahagiaan adalah bersumber dari hati.

Maka dari itu, hati yang bersih, hati yang baik mencerminkan kepribadian orang yang bertaqwa sebagai output dari ibadah puasa di bulan Ramadan. Senantiasa bijak dalam menyikapi setiap peristiwa, tidak mudah berburuk sangka, luas wawasannya dan lapang jiwanya dalam merespon setiap keadaan.

Satu hal lagi, imbauan pemerintah untuk tetap stay di rumah, tidak mudik, adalah upaya agar masyarakat tidak terpapar Virus Corona. Ini merupakan ikhtiar pemerintah bersama ulama. Toh, silaturrahmi melalui media komunikasi masih bisa dilakukan, bahkan berbagi pun bisa melalui media elektronik.

Jadi, mari kita sikapi semua yang terjadi di muka bumi ini dengan kesabaran, kesyukuran dan tetap optimistis dalam kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *