Puasa Syawal, Puasa Sunah Yang Besar Pahalanya

Sumber : Freepik

Penulis : Abubakar Sidik, S.H.I., M.E.Sy (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah)

Puasa Syawal merupakan puasa sunah yang dianjurkan sebagai pelengkap puasa wajib Ramadan, sunah yang biasa kita maknai perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa.

Namun, hakikatnya sunah dimaknai, jika ditinggalkan sesungguhnya merugilah kita, karena dengan memperbanyakan ibadah sunah ialah salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dari Abi Ayyub bahwa Rasulullah SAW bersabda : “barang siapa saum (puasa) bulan Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari dibulan Syawal, maka itu seperti saum satu tahun”. (HR.Muslim).

Kemudian riwayat dari Tsauban dari Rasulullah Saw bersabda : “Allah menjadikan satu kebaikan pahalanya sepuluh kali sepertinya, sebulan menjadi sepuluh bulan, dan saum enam hari setelah fitri (hari raya) menyempurnakan setahun penuh.”

Selanjutnya diriwayatkan oleh Nasa’i : “Saum bulan Ramadan seperti saum sepuluh bulan (300 hari) , saum enam hari (puasa syawal) seperi saum dua bulan dan (60 hari) itulah saum satu tahun.”

Sementara itu, Syekh Muhammad bin Shalil Al-Utsaimin dalam bukunya “Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Salat, Zakat Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)” menuliskan, Ahlul ilmi berkata bahwa puasa di bulan Syaban dan puasa enam hari pada bulan Syawal diibaratkan seperti salat rawatib sebelum dan sesudah salat fardu.

Tata Cara Melakukan Puasa Syawal

Dalam buku fiqh sunnah sayyid Sabiq : menurut  riwayat Ahmad Puasa bulan Syawal boleh dilakukan secara berturut-turut dan juga boleh dilakukan dengan tidak berturut-turut; tidak ada keutamaan baik melakukannya secara berturut-turut maupun tidak.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i diutamakan melakukan puasa bulan Syawal secara berturut-turut, yaitu dimulai setelah hari raya.

Keutamaan Puasa

Dalam kitab Dzamul Hawa karya Ibnu Jauzia, Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba berbuat dosa, muncullah titik hitam di hatinya. Jika berbuat dosa lagi, maka mucul lagi titik hitam di hatinya hingga hatinya laksana kambing yang tertambat”.

Semakin sering seseorang melakukan dosa maka hati semakin menghitam dan mengakibatkan hati kita mengeras, untuk itu sebagai penawarnya perbanyak puasa salah satunya puasa Syawal.

Ada seseorang yang mengadu kepada Malik bin Dinar, lalu Malik bin Dinar berkata, “Langgengkanlah puasa, jika kamu masi menemukan hati yang keras, maka perpanjang salat, jika kamu masi menemukan hati yang keras, maka sedikitkanlah makan.”

Kemudian dalam kitab Lathaif al-Ma’arif  fima li Mawasim al-Am min al-Wadhaif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, menyebutkan lima keutamaan yang kita dapatkan dari melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal :

1. Puasa sunnah Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadan

Amalan ini di Qiyaskan dengan menyempurnakan salat fardu, kita dianjurkan melaksanakan salat sunnah rawatib, yaitu qabliyah dan bakdiyah. Dengan melaksanakan salat sunnah rawatib, maka salat sunnah fardu akan menjadi sempurna.

Begitu pun puasa sunnah Syawal yang dapat menyempurnakan puasa Ramadan. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan seorang hamba yang dihisab pertama kali di hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika salatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada salat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, ‘Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?’ Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya” (HR at-Tirmidzi).

2. Menyempurnakan pahala puasa menjadi pahala puasa setahun

Hal ini sebagaimana yang dijanjikan dalam hadits Rasulullah dalam kitab Shahih Muslim, “Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti pahala berpuasa setahun“.

3. Membiasakan puasa setelah selesainya puasa Ramadan adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.

Sesungguhnya Allah Swt apabila menerima amal kebaikan hambaNya, akan menganugerahkan perbuatan baik setelah itu.

4. Puasa Syawal sebagai tanda syukur kita kepada Allah Saw.

Melaksanakan puasa di bulan Syawal merupakan tanda syukur kita kepada Allah Swt atas anugerah yang melimpah dibulan Ramadan berupa puasa, qiyamul lail (salat malam), zakat dan lain-lain. Puasa di bulan Ramadan sesungguhnya meniscayakan ampunan bagi orang yang menjalankannya, hal ini didasarkan dengan hadits Rasulullah Saw yang diriwayakan oleh sahabat Abu Hurairah ra:  “Siapa saja yang berpuasa Ramadan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah,maka dosanya yang lalu akan diampuni”. (dalam riwayat lain): “siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah Swt maka dosa yang lalu akan diampuni.” (Hr. Bukhari dan Muslim). Karena ampunan ini lah patutnya kita bersyukur kepada Allah dengan malaksanakan ketaatan berupa puasa Syawal.

5. Ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadan tidak terputus.

Dengan selesainya bulan suci Ramdan, bukan berarti ibadah yang kita amalkan selesai. Namun, hendaknya kita berikhtiar untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas  ibadah dibulan selanjutnya. Maka puasa Syawal sebagai bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan untuk melestarikan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan.

Dengan berbagai keutamaan puasa Syawal, hendaknya hati kita tergugah untuk senantiasa mengamalkanya, dengan nilai pahala bagaikan puasa satu tahun penuh. Dan jika di beri umur panjang seperti Rasulullah Saw yaitu 63 tahun, rasanya tidak cukup hanya melaksanakan ibadah wajib dengan cita-cita untuk meraih surga-Nya Allah.

Maka Allah selalu memberikan setiap ibadah dengan ganjaran berlipat-lipat, ibadah wajib dan sunah hendaknya senantiasa dilakukan secara rutin. Karena sesunggunya ibadah yang dikerjakan kontinu meskipun kecil. Namun, sungguh dahsyat manfaatnya karena amalan yang kontinu meskipun sedikit akan mengungguli amalan yang besar namun jarang dilakukan.

Dari Aisyah ra, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit. Aisyah pun ketika melalukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim).

Editor : Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *