Pandangan Islam Terkait Minuman Keras

Empat Provinsi yang diberikan izin investasi Miras di Indonesia ilustrasi by Bagus Rizki

Penulis : Bagus Rizki Fadillah (Anggota LPM Ukhuwah)

Akhir – akhir ini Indonesia dihebohkan dengan Peraturan Presiden (Perpres) terkait investasi minuman keras (Miras). Tentu hal ini menuai polemik bagi masyarakat khususnya yang menganut agama islam.

Walaupun kebijakan ini telah di cabut oleh Presiden Jokowi Widodo. Tidak ada salahnya kita mengetahui apa itu miras? dan kenapa banyak pihak yang menolak kebijakan ini ?

Menurut Ustadz Miftah Nailil Murod, Lc., S. Ud dalam artikelnya berjudul Hukum Minuman Keras dalam Islam, Miras merupakan minuman beralkohol yang membuat peminumnya mengalami mabuk hingga menghilangkan akal pikiran dan kesadaran diri. Dalam islam sendiri miras dilarang dan hukumnya haram.

Dari Ibnu Umar, Nabi Saw bersabda,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khomr dan setiap yang memabukkan pastilah haram,” (HR. Muslim). Hadist ini menegaskan tentang larangan miras dan sebabnya yang memabukkan. Mabuk yang dimaksud ialah karena zat tertentu bukan karena kendaraan atau lainnya.

Dalam Islam, khomer (minuman keras) hukumnya haram berdasarkan Qur’an, Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin. Barang siapa yang menghalalkanya maka telah kafir. Dan barang siapa yang meminumnya karena maksiat maka dia telah terjatuh dalam dosa besar dan pelakunya mendapatkan ancaman had di dunia atau ancaman adzab yang pedih di dunia dan akhirat.

Dalil Pengharaman Khomer

Pengharaman khomer berdasarkan Al-Qur’an, pengharamannya secara bertahap melalui empat fase ;
Pertama informasi bahwa dalam buah-buahan ada yang dijadikan khomer.

 وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti,” (QS. An-Nahl: 67).

Kedua, penjelasan bahwa di dalam khomer terdapat manfaat dan mafsadat (kerusakan), tapi mafsadatnya lebih besar dari manfaatnya.

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya,” dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,” (QS. Al-Baqarah: 219).

Ketiga, larangan meminum khomer ketika sholat dan boleh di luar sholat.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗوَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun,” Q.S. An-Nisa: 43.

Keempat, pengharaman khomer secara mutlak dan keseluruhan sebagaimana firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Al-Maidah: 90).

Adapun hadits sebagaimana di atas, dan ijma’ kaum muslimin sejak dahulu sampai sekarang mengatakan bahwa khomer haram.

Lalu bagaimana hukum meminum, menjual dan semua yang terlibat dalam beredarnya miras?

Rasulullah SAW bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ ‏  

“Allah mengutuk minuman keras, peminumnya, pemberi minum (orang lain), penjualnya, pemerasnya, pengantarnya, yang diantar kepadanya, dan yang memakan harganya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hakim, melalui sahabat Nabi Ibnu Umar.

Dalam hadist ini menegaskan bahwa Allah Swt mengutuk semua orang yang terlibat dalam pemasaran minuman keras dan hadist ini juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak ulama yang menolak kebijakan legalitas Miras di Indonesia.

Editor : Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *