Maulid Nabi Muhammad SAW, Mencintai Beliau Lewat Ketaatan

Ilustrasi perayaan maulid nabi
Sumber foto: IST

Oleh: Bambang Haryanto (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi)

Para ulama sudah sepakat lewat apa yang dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari, Rasullullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari senin dan beliau menjawab, “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku” (HR. Muslim, no. 1162) dan bulan Rabi’ul Awal para ulama sepakat merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pada bulan inilah juga mayoritas umat Islam di seluruh belahan bumi biasanya sangat menyambut bulan ini terutama pada tanggal 12 Rabi’ul Awal karena diyakini sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad, tetapi dalam hal penetapan tanggal kelahiran ini sendiri sebenarnya para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 2, tanggal 8, tanggal 10, tanggal 12, tanggal 17 atau tanggal 22 Rabi’ul Awal.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW  membawa berita gembira bagi seluruh umat manusia karena beliau merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang diutus bukan hanya untuk suatu kaum atau bangsa Arab saja tetapi diutus bagi seluruh umat manusia dari berkulit hitam sampai putih, dari yang berambut pirang sampai hitam, dan dari orang miskin hingga kaya dan Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin berlaku untuk seluruh alam dan sampai bumi ini dihancurkan.

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna agama Islam yang dibawah oleh Nabi dan Rosul sebelumnya hal ini sesuai dengan Firman Allah SWTdalam surat Al Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”.

Agama ini yang menggantikan zaman jahiliyyah menjadi zaman yang penuh keberkahan jika kita menjalankan agama Islam secara benar, dan agama Islam dari sejak Nabi dan Rosul pertama yaitu Nabi Nuh Alahi salam selalu mengajarkan pentingnya untuk selalu mentauhidkan Allah dan tidak ada sekutu baginya.  

Jika merujuk pada hadits dan terutama ayat Al Quran diatas dalam pengertian sempurna di dalam KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) merupakan sesuatu yang memiliki kadar utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela). Serta tidak bisa ditambahi maupun dikurangi karena kesempurnaan disini pada hakikatnya sudah mengatur dan menetapkan mencakup seluruh amalan baik yang sifatnya dunia maupun akhirat.

Tentunya jika bicara ibadah apapun itu semuanya sudah di tetapkan oleh Allah SWT melalui  Nabi Muhammad SAW dimana kita diajarkan untuk membedakan antara tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, halal dan haram, antara hak dan bathil dan tidaklah Allah SWT menetapkan sesuatu untuk di ingkari apalagi diakali, jangan sampai kita melakukan amalan yang diyakini sudah baik tetapi jauh dari kebenaran yang telah di tetapkan di dalam Al Quran dan As Sunnah.

Untuk benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW harus dibuktikan berupa ketaatan apa yang telah disampaikannya, karena apa yang telah disampaikan merupakan wahyu dari Allah SAW semata dan tidak ada perselisihan berkenaan hal ini, walaupun ada hadits dari Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah SAW telah bersabda, ‘”Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.” (HR Tirmidzi).

Dari 73 golongan ini semuanya merasa baik dan benar tetapi hanya satu golongan yang selamat yaitu Ahlul Sunnah Wal Jamaah, golongan yang selalu menjalankan apa yang telah ditetapkan Allah SWT  melalui Nabinya yang tertuang di dalam Al Quran dan As Sunnah.

Satu tanggapan untuk “Maulid Nabi Muhammad SAW, Mencintai Beliau Lewat Ketaatan

  • 19/10/2021 pada 2:27 PM
    Permalink

    Masyallah,,, shollu alannabi muhammad…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *