Isra Mi’raj Perjalanan Terdahsyat Sepanjang Masa

Foto : Google Image

Penulis : Kartika (Anggota LPM Ukhuwah)

27 Rajab diperingati sebagai sebuah peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan terdahsyat sepanjang masa yaitu, Isra dan Mi’raj. Dua peristiwa yang terjadi dalam satu malam.

Isra secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Secara istilah, Isra adalah perjalanan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril AS dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah SWT :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra : 1)

Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Jibril AS menggunakan Buraq. Buraq yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). 

Ketika sampai di masjid Aqsha, di sana para Nabi berkumpul. Nabi Muhammad memimpin sholat. Setelah itu, datanglah Jibril dengan membawa dua gelas yang satu berisi susu dan satunya berisi khamr. Nabi Muhammad SAW disuruh memilih, kemudian Nabi Muhammad SAW memilih susu. Maka, Jibril berkata “Engkau telah memilih sesuatu yang tepat, engkau dan umatmu mendapat petunjuk.”

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW di Mi’raj kan. Di dalam bahasa Arab, Mi’raj bisa berarti sebuah tangga yang dinaiki. Nabi Muhammad SAW Mi’raj ke langit, menaiki sebuah tangga yang terbuat dari cahaya. Sekejab saja, Nabi Muhammad SAW dan Jibril AS sampai ke langit pertama.

Jibril meminta dibukakan pintu kepada malaikat penjaga, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam.

Naik ke langit kedua sampai ke tujuh, Jibril meminta dibukakan pintu langit dan diberi pertanyaan yang sama oleh malaikat penjaga langit.

Di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa.

Di langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan (wajah).

Di langit ke empat, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (AQ. Surat Maryam:57).

Di langit ke lima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan  Harun ‘alaihis salaam. Di langit ke enam, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Musa ‘alaihis salaam.

Di langit ke tujuh, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat tidak kembali lagi. Kemudian, Ibrahim pergi bersama Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya seperti gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya.

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad 50 shalat sehari. Kemudian, Nabi Muhammad turun menemui Nabi Musa ‘alaihi salaam.

Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Nabi menjawab: “50 shalat”. Dia berkata:“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.”

Maka, Nabi Muhammad SAW kembali terus meminta keringanan. Menurut riwayat yang sohih, setiap Nabi meminta keringanan Allah kurangi 5 waktu. Nabi Muhammad kembali bertanya kepada Musa, lalu Nabi Musa mengatakan “kembalilah masih berat, kembalilah masih berat.”

Sampai akhirnya, Allah SWT mengatakan “Wahai Muhammad, dia adalah 5 waktu shalat tetapi pahalanya adalah 50 waktu shalat.”

Isra dan Mi’raj menjadi ujian bagi umat Islam dalam meyakini agama dan jalan hidup mereka secara menyeluruh. Percaya atau tidaknya seseorang peristiwa-peristiwa tidak berpengaruh pada Allah dan ajaran-Nya. Namun, orang yang mendapatkan hikmah akan lebih dalam keyakinannya kepada Tuhan.

Allah berfirman dalam Surah al-Isra: 107:

قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖۤ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْۤا ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖۤ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَ ذْقَا نِ سُجَّدًا ۙ

“Katakanlah (Muhammad),” Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, hubungan (Al- Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud. “

Isra dan Mi’raj penting karena di dalamnya ada kandungan perintah shalat kepada umat Nabi Muhammad saw. Shalat pada hakikatnya adalah kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan yang tidak hanya termasuk akal pikiran, tetapi jiwa manusia. Shalat menjadi pintu gerbang yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.

Sumber : berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *