Ini Pentingnya Menunaikan Zakat Fitrah

Sumber : Google Image

Penulis : Dr.,Dinnul Alfian Akbar, M.Si (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah)

Zakat fitrah adalah zakat wajib yang harus dikeluarkan sekali setahun saat bulan Ramadan, menjelang idul fitri. Pada prinsipnya, zakat fitrah haruslah dikeluarkan sebelum sholat idul fitri dilangsungkan. Hal tersebut yang menjadi pembeda zakat fitrah dengan zakat lainnya. Zakat fitrah harus ditunaikan bagi seorang muzakki yang telah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Zakat fitrah berarti menyucikan harta, karena dalam setiap harta manusia ada sebagian hak orang lain. Oleh karenanya, tidak ada suatu alasan pun bagi seorang hamba Allah yang beriman untuk tidak menunaikan zakat fitrah karena telah diwajibkan bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka atau budak, anak kecil atau orang dewasa. Ini perkara yang telah disepakati oleh para ulama.

Sedangkan secara bahasa zakat memiliki beberapa makna, yaitu:

1. At-Thohuru

At-Thohuru artinya membersihkan atau mensucikan, karena itu perkara ini mempunyai makna penegasan bahwa orang-orang yang selalu menunaikan zakat hanya karena Allah semata dan bukan karena ingin mendapat pujian manusia, maka Allah akan membersihkan serta mensucikan baik harta benda maupun jiwanya.

Hal tersebut dikuatkan dengan dalil yang ada di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

2. Al-Barakatu

Al-Barakatu artinya berkah, maka ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Keberkahan tersebut lahir karena harta yang kita gunakan adalah harta yang suci dan bersih terhindar dari kotoran, yang mana kotoran tersebut sudah kita bersihkan.

3. An-Namuw

An-Numuw artinya tumbuh dan berkembang, makna ini menegaskan bahwa orang yang menunaikan zakat maka hartanya akan selalu terus tumbuh dan berkembang (dengan izin Allah).

Disyari’atkan zakat fitrah pada bulan Sya’ban dari tahun kedua Hijriah untuk menjadikan pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan ataupun perkataan yang sia-sia dari perbutan keji yang mungkn dilakukan dalam bulan puasa dan menjadi penolong bagi kehidupan orang fakir dan orang-orang yang berhajat.

Ini merupakan kekhususan zakat fitrah dibandingkan dengan zakat mal. Zakat mal baru wajib dibayar ketika seseorang telah memenuhi beberapa syarat, sedangkan zakat fitrah wajib dibayar oleh semua muslim yang masih memiliki nyawa tanpa terkecuali.

Abu Hanifah RA mengatakan bahwa bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari pada malam satu Syawal, sudah wajib dizakatkan. Karena titik dimulainya kewajiban zakat itu ada pada saat terbenamnya matahari pada malam satu syawal.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Daud yang berbunyi:

 عَنِ ابْنِ عَبَّاشٍ،قَالَ : فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلىَ اللهُ عَلَیْھِ وَسَلَّمْ زَكَاةَاْلفِطْرِطُ ھْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ الَّلغْوِوَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَا كِیْنِ ,فَمْنْ أَدَّاھَاقَبْلَ الصَّلاَةِ فَھِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاھَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَھِيَ صَدَقَةٌمِنَ الصَّدَقاَتِ (رواه أبوداودوبن ماجھ وصححھ الحكم )

Artinya: “Rasulullah SAW telah memfardhukan zakat fitrah untuk membersihkan orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan yang kotor, dan sebagai makanan buat orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikan sebelum shalat (ID), berarti ini merupakan zakat yang diterima dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat berati hal itu merupakan sedekah biasa (HR Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Hakim)”.

 Dalil menunaikan zakat QS: Al-Baqarah ayat 110:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya : Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Menurut lafazd hadits yang menerangkan ukuran zakat fitrah, tidaklah boleh mengeluarkan uang seharga fitrah melainkan wajib mengeluarkan bahan makanan yang dapat mengenyangkan.

Akan tetapi, melihat kegunaan zakat fitrah bagi fakir miskin yaitu, agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya maka tidaklah ada halangan mengeluarkan zakat fitrah berupa uang seharga fitrah yang menjadi tanggungannya.

Hal itu lebih memenuhi hajatnya bila dibandingkan dengan makanan. Pada hari raya, bukan kenikmatan makanan saja yang harus diberikan kepada mereka, akan tetapi harus pula kenikmatan pakaian sekadarnya, dan itu hanya dapat diperoleh dengan uang.

Bila pihak yang menerima dapat membeli bahan makanan dengan harga murah seperti dapat membeli langsung dari pemerintah, maka qimat (nilai) fitrah itu boleh dibayarkan secara murah. Akan tetapi, kalau yang berhak menerima mungkin tak dapat membeli karena harganya mahal, wajiblah qimat (nilainya) itu dibayar mahal pula.

Dalam hal pengeluaran zakat fitrah dengan qimat (nilainya) ini, ulama berbeda pendapat:

  1. Jumhur ulama termasuk Maliki, Syafi’I dan Ahmad berpendapat bahwa zakat fitrah itu haruslah maknan pokok dengan alasan:
  2. Nash menetapkan menyuruh memilih antara benda yang menjadi makanan pokok masing-masing negeri. Bukan hanya jenis makanan yang disebut saja diperbolehkan, akan tetapi jenis makanan yang menjadi makanan pokok negeri masing-masing secara umum.
  3. Memperbolehkan zakat dengan harga berarti mengubah nash, maka hal demikian tidak dibolehkan.
  4. Menurut Ibnu Hazm, boleh dengan selain tamar atau sya’ir dan tidak boleh dengan harga nilai karena yang demikian itu bukan yang diwajibkan Rasulullah SAW. Memakai harga dalam hak-hak manusia tidak boleh kecuali saling rela, sedangkan zakat belum diketahui siapa pemilik yang tertentu untuk diminta kerelaannya atau pembebasannya.
  5. Golongan Hanafiyah berpendapat tidak harus dengan jenis-jenis harta seperti yang ditegaskan dalam hadist akan tetapi boleh memberikan zakat fitrah dengan menilai harga dengan jenis-jenis harta itu, boleh memberikan zakat dengan dirham, satu dinar atau mata uang lain, atau harga benda yang lain atau apa saja yang dikehendakinya dengan alasan bahwa yang diwajibkan itu pada hakikatnya adalah dapat memenuhi kebutuhan orang-orang fakir.

Waktu Pembayaran Zakat Fitrah

Waktu mengeluarkan zakat fitrah yang paling utama adalah sebelum manusia keluar menuju tempat shalat ‘ied, dan boleh didahulukan satu atau dua hari sebelum hari raya ‘Idul Fitri sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Umar RA. Adapun membayar zakat fitrah setelah selesai melaksanakan shalat ‘idul fitri, maka tidak sah, apabila hal demikian dilakukan akan disebut sebagai shadaqoh biasa.

Terdapat beberapa waktu untuk menunaikan zakat fitrah, yaitu:

  1. Waktu boleh, dimulai sejak awal bulan Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan
  2. Waktu wajib, dimulai sejak akhir bulan Ramadhan hingga awal bulan Syawal
  3. Waktu afdhal, dikerjakan setelah sholat subuh pada akhir bulan Ramadhan (sebelum mengerjakan sholat Idul Fitri)
  4. Waktu makruh, dikerjakan saat melaksanakan sholat Idul Fitri hingga sebelum matahari terbenam
  5. Waktu haram, apabila dikerjakan setelah matahari terbenam pada hari raya Idul Fitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *