Kau dan Perubahanku

Oleh : Yuni (Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab Angkatan 2021)

Ilustrasi/Annisa Shalsabillah Sukma.

Cerpen – Ukhuwahnews | Hari ini, aku baru saja lulus dari masa SMA ku. Aku ingin menikmati lagi masa-masa di rumah, walaupun sedikit menyakitkan, akan tetapi tetap saja aku merindukan rumah yang tidak seperti rumah itu.

Rasanya ingin memuaskan diri karena sudah lama tidak berjalan-jalan dan bermain bersama teman-teman dirumah. Aku sangat menikmati setiap detiknya, meskipun aku merasa ada bagian diriku yang kosong, bahkan ada tawa di balik luka.

Setelah aku puas bermain kesana kemari, malamnya aku tidur di kamar tercintaku. Menikmati setiap mimpi di malam yang gelap dan sepi waktu itu.

Malam itu, aku bermimpi bertemu kerumunan banyak orang. Aku teringat aku akan pergi, semua orang hanya menatapku dan berlalu, akan tetapi ada satu laki-laki yang berbalik dan tersenyum kepadaku.

“Hati-hati yaa, sampai bertemu,” ucapnya dalam mimpiku, aku pun langsung terbangun dan terheran siapa laki-laki itu, karena aku tidak mengenalnya dan masalahnya aku tidak percaya apapun itu dari semua laki-laki.

Pagi harinya, seperti biasa aku mendengarkan kalimat yang biasa di lontarkan di dalam rumah ini.

“Jika tidak suka, pergi saja,” ucap suara wanita yang agak keras dari arah dapur.

“Kamu saja yang pergi, aku sudah berbicara dengan baik,” balas laki-laki di depan lemari plastik itu.

Suara dua sepasang adalah ayah dan ibu, sangat romantis bukan? Bahkan air mata ini sering tak sanggup membendungnya lagi.

Siangnya Aku bermain dengan temanku namanya lala ia mengajakku untuk belajar tambahan.

“Na, ayo kita ikut belajar malam,” ajaknya“Ayo aja sih La, tapi di mana?” jawabku santai.

“Di situ ca, dekat PT karet,” balasnya

“Boleh, kapan mulai?” aku mulai menyetujui

“Malam besok” ucap lala cepat dengan senyum lebarnya.

“Kenapa dia?” aneh aku bertanya-tanya di dalam hati.

Baca juga: Gadis Kretek, Akankah Menjadi Kampanye Patriarki dan Feminisme?

Malam besoknya, aku datang kerumah Lala yang jarak rumahnya dan rumahku tidak jauh, karena aku tidak bisa
mengendarai motor jadi aku selalu ikut dengan Lala ketika belajar malam. Lala terus tersenyum dan aku bingung ada apa sampai dia memulai pembicaraan.

“Kita nungguin Agim dulu ya?” pintanya.

“Agim? Siapa dia?” jawabku bingung.

“Teman, teman yang sangat dekat,” jawabnya dipenuhi dengan senyuman.

“Pantas saja senyummu lebar sekali malam ini La” jawabku disertai tawa.

Kami menunggu mereka datang sekitar 10 menitan. Lala memiliki teman dekat laki-laki Agim namanya. Akan tetapi, ketika mereka datang yang membuatku bingung yang mana yang namanya Agim, karna pada saat itu ada dua laki-laki. Satu bernama Agim Dia sedikit kurus dan satu lagi bernama Tama, Tama memiliki tubuh berisi sedikit. Ketika aku melihat laki-laki yang memiliki tubuh yang berisi itu aku langsung teringat laki-laki yang ada di dalam mimpiku, walaupun aku baru melihat bagian kakinya saja jadi aku tidak terlalu memperdulikan mimpiku kemarin. Kemudian kami berjalan menuju tempat belajar.

Kami berempat adalah teman satu tempat belajar tambahan saat ini. Aku yang tidak terlalu memikirkan yang mana Agim dan yang mana Tama. Sampai pada saat guruku bertanya.

“Ana sama Lala disini di ajak Tama ya?” sambil menunjuk Tama. Aku yang tidak tau mana Agim dan mana Tama sedikit memberontak.

“Bukan Tama Pak, tapi Agim!” jawabku.

“Itukan?” bapak guru sambil menunjuk Tama.

“Iyaa Agim,” jawabku.

“Terserah mau Agim mau Tama, yang penting kalian sudah belajar disini,” ucap pak guru sambil menggeleng dan pasrah.

Kami belajar sampai jam 10 malam, dan ketika pulang, kami dihantar oleh Agim dan Tama dikarenakan takut ada bahaya saat malam, apalagi kami pulang sudah cukup malam.

Setelah pulang ku perhatikan kenapa Tama sebegitu perhatian kepada Lala, sedangkan Lala sering bercerita kalu ia sedang dekat dengan Agim. Aku semakin bingung dan aku abaikan saja dari pada stres memikirkan dua orang itu.

Hari-hari berlalu dan akhirnya aku memang salah waktu berdebat itu, ternyata yang ditunjuk oleh Pak guru adalah Tama, bagaimana dengan Agim? Dia adalah lelaki yang sedikit kurus itu. Aku sering memperhatikan suara Tama, lawakkannya dan aku merasa ia sama sepertiku, seperti sefrekuensi.

Ketika akan pulang lagi dari belajar, Tama duduk di kursi di depanku. Ia sedang tertawa bersama Anak-anak kecil kemudian ketika melihatku Dia tersenyum dan aku langsung menundukan pandangaku, aku langsung teringat.

“Ha? Senyum itu seperti dia! laki-laki dalam mimpiku” Ucapku di dalam hati.

“Ayo pulang,” ajak Agim sembari membelokan motor Lala.

“ Nantilah, sudah lama kita tidak bermain,” ucap Tama santai.

Aku langsung cemberut, karena aku anak strict parent jika lama-lama di luar rumah aku akan mendapatkan masalah dirumah.

“Jangan, aku tidak boleh lewat dari jam 10,” ucapku sedikit kaku karna aku jarang sekali berbicara dengan lawan jenis. Tetapi Tama? Dia hanya tersenyum.

Senyuman yang aneh tapi menghantui kepalaku. Ketika sampai dirumah, sangat senyap suasana jika malam dan sangat berbeda dengan pagi yang selalu ada suara dan kebisingan yang selalu membuat air mataku keluar.

Lama kelamaan berbaur dengan Tama aku tertarik dengannya, aneh bukan? akan tetapi, aku pernah belajar dengannya. Dan kau tau baru dengannya aku mau di call dan video call untuk belajar, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk bilang padanya.

“Tama, aku tidak memaksamu atas dasar apapun, akan tetapi aku ingin mengutarakan rasaku padamu, aku menyukaimu dan kau tak perlu membalasnya, aku hanya ingin mengutarakan, itu saja,” ucapku dengan tegas, karena aku tidak suka berpacaran bahkan aku tidak ingin menikah karna aku menganggap aku tidak mempunyai dunia, dunia bagiku adalah kabut.

“Untuk soal itu, sepertinya aku tidak tahu jawabanya, kaerna aku sedang tidak ingin difase itu,” ucapnya dengan sedikit nada rendah.

Semenjak saat itu, kami putus komunikasi untuk beberapa hari, yaa aku tau itu memang sedikit menyakitkan tetapi kita tidak boleh memaksa bukan?.

Setelah kejadian itu, tiba-tiba ada yang menelpon ku. Aku sedikit tersenyum.

“Kamu gak mau belajar lagi? Kamu masih belom bisa lohh Na” ucapnya lembut.

“Emang mau ngajarin lagi?” ucapku ragu.

“Yaa maulah, emangnya kenapa?” ucapnya meyakinkan ku, Aku hanya tersenyum dan belajar seperti biasanya.

Setelah kian lama berlalu, Dia memperlakukanku like a princess, sangat berbeda. Dia mengajakku beradaptasi, bercerita dan masalah belajar? Ahh sudah tidak lagi, malah asyik menceritakan diri masing-masing.

Akan tetapi, dalam hubungan ini aku sedikit tersembunyi karena sebelumya aku tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang masalah ku. Tapi lama kelamaan, Tama menjadi tempat tenyamanku dalam berbagi apapun itu. Kami sering saling mengutarakan rasa seperti curhat, tapi seperti yang kalian tau, aku yang paling banyak mengeluh, menangis dan meratap.

“Aku tidak sanggup hidup lagi” ucapku sambil menangis pelan di dalam telepon.

“kenapa berbicara seperti itu? Jika kamu tidak ingin hidup, maka dengan siapa aku hidup?” ucapnya seperti nada khawatir.

“Tapi aku tidak sanggup, dunia ku pedih, keluargaku tidak seperti keluargamu yang harmonis. Aku tidak sanggup Tama,” ucapku agak sedikit ngebut dengan diiringi sesegukan.

“Kamu tau Na? Kamu itu hebat menurutku, kamu mampu berjuang sampai detik ini, kamu hebat karna bisa bertahan. Kamu juga pintar, jadi kamu itu sudah sempurna. Untuk masalah keluarga, mungkin belum saja. Kehidupan tidak selalu sepahit itu. Dengar Na, ada aku didekatmu. Aku yang akan memastikan masa depanmu tidak akan menyakitkan,” ucapnya pelan.

Kalimat demi kalimat yang aku dengar dari Tama membuat aku sedikit tenang hingga aku hanya terdiam.

“Tidurlah Na, besok kita akan pergi jalan-jalan mengelilingi kota. Kamu suka tidak jalan-jalan?” tanya Tama dengan nada suaranya yang aku sukai, lembut tapi tidak lemah.

“iya,” jawabku singkat.

“yaa sudah. Tidur ya. Sampai bertemu besok,” perintahnya.

Pagi-pagi sekali Tama kembali menelponku, aku sedikit bingung karena tidak biasa sepagi ini dan ku jawab saja teleponnya.

“Naa main kerumah yuk?” ucapnya di dalam telepon.

“Ha? Emangnya ada apa. Bukannya semalam kamu bilang akan jalan-jalan?” Ucapku yang bingung.

“Gak apa-apa Na, hanya main saja, bertemu Ibuku,” ucapnya santai.

“Aku sedikit heran, apakah dia akan memeprkenalkanku pada Ibunya? Tapi Ini terlalu singkat” ucapku dalam hati.

Baca juga: Aliansi Mahasiswa UIN RF Kembali Gelar Aksi Untuk Kedua Kalinya

Aku ikuti saja maunya, walaupun tanpa status, rasanya begitu terlalu terburu mengenalkanku, tapi tak apa.
Sesampai dirumahnya, aku hanya terdiam, tak tahu harus apa, karena ini pertama kalinya aku datang kerumah seorang laki-laki. Aku bertemu orangtuanya dan respon Ibunya tidak bisa dikatakan suka maupun tidak, hanya ada senyum dan sedikit tawa. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan apapun bagiku seseorang pasti berubah setiap saatnya sesuai dengan pola pikir yang ditanamkan Tama untukku dan pasti Ibu Tama seperti itu. Tidak lama aku di rumah Tama, akupun pulang diantar oleh Tama.

Tiba dirumah, lagi-lagi perdebatan antara sepasang suami-istri itu mulai lagi. Sampai-sampai aku sering berpikir.

“Apa tidak bosan hampir setiap hari berdebat,” pikirku dalam hati.

Aku duduk di kamarku dengan wajah yang tidak terlalu suram karena Tama. Tama yang menyebabkanku menjadi orang yang lebih positif dan dia yang selalu meyakinkanku untuk berdoa agar orangtuaku tidak berdebat dan lebih harmonis. Ada banyak hal yang aku dapati dari Tama, bukan hanya masalah percintaan yang diperbaikinya tapi rasa trauma pernikahan dalam keluargaku pun ia perbaiki.

“Tak apa jika seperti itu keluargamu, kamu hanya perlu berdoa, dan akan ku pastikan rumah tangga kita akan harmonis nantinya,” ucapnya.

Kalimat itu yang menghilangkan kata trauma dalam kamus kehidupanku.

Sudah lama hari-hari berlalu dan aku hanya sering teleponan saja dengan Tama. Jarang sekali kami berjalan-jalan karena aku pasti tidak boleh sering berpergian. Malam ini tiba-tiba Tama menelponku.

“Besok kita kondangan ya?” Pintanya.

“Ha? Kondangan? Aku tak pernah kondangan. Aku tidak bisa di keramaian Ma, bagaimana? Bahkan Aku tidak memiliki baju untuk pergi Kondangan,” Ucapku bingung disertai rasa takut.

“Kenapa, kamu takut Na?” tanya Tama bingung.

“Aku tidak tahu Tama. Aku hanya takut kenal banyak orang. Aku sudah sering mengatakan padamu. Aku tidak suka dunia!” ucapku dengan sedikit nada tinggi.

“Walaupun dunia itu ada Aku?” Jawabnya dengan nada pelan favoritku.

“Nanti itu bisa dibicarakan,” ucapku sambil tertawa senang.

“Yaa sudah baguslah. Nanti kita beli kado ya!” Ajaknya.

Sebelum hari H kondangan, Kami sudah membeli kado. Aku yang sudah sampai ditempat acara hanya terdiam membisu. Aku sangat tidak nyaman di keramian, tapi Tama ada disampingku yang membuatku sedikit tenang.

“Hallo mbak,” sapa seorang perempuan yang lebih tinggi dariku.

“Hallo juga,” Aku tersenyum dan kembali menyapa.

“Ini Ana juga namanya sama sepertimu, adik sepupuku” ucap Tama.

“Kamu dengan dia dulu ya Na? Aku mau membantu mengangkati lauk untuk acara,” sambungnya.
Aku hanya mengangguk.

Aku banyak berbicara dengan adik sepupu Tama, sangat nyaman dia orang yang frendly. Bahkan Tama memperkenalkan aku dengan Nenek dan Bibinya dan semuanya merespon positif dan menyenangkan. Betapa indahnya bukan jika dicintai oleh keluarganya.

Baca juga: Ungu Sebagai Label Janda, Mewarnai Status dan Makna

Sampai setelah makan-makan aku pulang diantar Tama dengan dibawakan bingkisan oleh Ibunya Tama. Apa kataku kemarin, setiap orang memiliki proses dan hal tersebut aku dapat dari Tama, Aku menjadi seorang wanita yang berpikiran positif dan bisa beradaptasi dengan dunia serta tidak lagi berkeinginan untuk mengakhiri hidupku.

Sudah lama aku menjalani hubungan dengan Tama. Sampai pada akhirnya dia melamarku. Aku senang sangat senang bertemu dia Tama. Dia merubahku menjadi sosok yang lebih baik. Dan benar katanya setiap orang akan berubah karena doa. Dan sesuai doaku, orangtuaku lebih harmonis dari biasanya, keadaan ekonomi lancar dan kasih sayang sudah mulai aku rasakan di dalam keluargaku.

Aku beruntung bertemu Tama, dia Indah seperti matahari, menyinari gelap gulitaku. Aku bersyukur Tuhan sangat baik kepadaku. Setelah lamaran itu, Aku duduk bersamanya sambil tersenyum memegangi cicin yang dia berikan.

“Terima kasih sudah merubahku menjadi lebih baik,” ucapku tulus dengan senyuman.

“Kamu itu hebat sayang, kamu yang merubah hidupmu, kamu yang kuat,” ucapnya sambil menatapku yang tidak tahan menahan rasa malu karna dipanggil sayang olehnya.

“Dari mana kamu belajar kata sayang itu?” jawabku yang sedikit malu.

“Dari mana apanya sayang? Aku memang menyayangimu,” ucapnya dengan senyum manisnya itu.

—–END——–


Terkadang dunia memang kacau bahkan berantakan tetapi percayalah, akan ada seseorang yang memperbaikinya, seperti Tama. Dia memperbaiki kerusakan batinku dan menjadi semangat hidupku.

-Ana

Editor: Imelda Melanie Agustin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *