Waktu Silam

Sumber : Republika

Penulis : Desby Niscaya Putri (Pengurus LPM Ukhuwah)

”Sebuah kisah lama, ramai tragedi membenih di hati, runtun dalam memori ingatan, melebur menjadi kenangan yang tergenang”

Sejak siang tadi listrik sekitaran rumah padam, warga mengeluh tak berhenti karena tidak bisa melakukan apa-apa. Pasar sepi dari bunyi mesin penggiling kelapa, rumah sebelah sunyi dari bunyi televisi yang biasanya berisik, dan speaker orgen tunggal tetangga yang biasanya menganggu ketenangan.

Bagi sebagian orang ini musibah, bagaimana tidak ?. Orang-orang desa yang biasanya mondar-mandir, ibu-ibu yang biasanya ngegosip sembari menonton tv, kini sepi karena padam listrik, semua warga lebih betah dirumahnya masing-masing. tapi tidak untukku, ini bukan masalah. Karena jarang aku temui suasana sunyi layaknya desa seharusnya. Sebenarnya mau bagaimana pun, aku tetap menikmati suasana disini.

~

Aku Radin. Perempuan, dengan usia 5 tahun. Untuk anak seusiaku tinggi badanku cukup menjulang dari keturunan bapak, mata ku yang besar serta rambut ikal terurai rapi dari keturunan ibu. Jangan kau tanya apa nama panjangku, Radin, hanya itu. Razak Dina, gabungan nama ibu dan bapak. Hemat bukan, kata bapak biar mudah mengisi lembar jawaban ujian sekolahku nanti.

Meski namaku tak lekang dari bapak dan ibu, aku bukanlah orang yang amat dekat dengan mereka. Pagi-pagi buta, aku yang masih tertidur pulas sedangkan mereka yang sudah bergegas pergi ke sawah. Hari-hari aku lewati dengan pria paruh baya, yang tak pernah kehabisan cerita untuk mengobrol denganku, kakek. Yang temani aku habiskan hari, yang tak pernah absen dari cerita-cerita lamanya, dan aku yang tak pernah puas dengar cerita masa hidupnya. Seorang aku yang masih kecil, tapi sudah dibilang cukup banyak belajar soal kerasnya hidup lewat kakek.

Adin, begitulah panggilan kakek untukku. Biasanya kakek selalu duduk di kursi rotan sembari menikmati teh angat dan beberapa keping biskuit seraya menungguku bangun tidur.

“Kakekk, Kakekk!” teriakanku memenuhi seisi rumah. Tapi percuma kakek juga tak akan menyahut. Aku tau tapi masih saja aku teriak, pikirku tak apalah sarapan pagi.

“Selamatt pagi Kakek Adinn” sapaan pagiku untuk kakek. Begitu terus.

“Pagi Adin” seraya tertawa karena tingkahku.

Hari yang sudah terlewati atau bahkan akan terlewati kurasa alurnya akan begitu saja, bangun tidur, teriak menyapa kakek, mandi lalu mendengar cerita kakek.

Lepas mandi biasanya aku ambil sarapan di dapur untuk kusantap didepan rumah sembari ditemani kakek.

“Adin, dulu waktu kakek masih muda. Pohon rambutan didepan itu, tingginya sama kayak Adin,” cakap kakek membuka obrolan.

Kalau makanku belum habis, biasanya aku tidak terlalu menggubris kakek. Aku hanya bilang iya atau menggeleng kalau tidak setuju.

“Adin tau tidak, kalau dulu pohon ada yang bisa ngomong”

“HAA!!! Apa kek?, dulu pohonnya sakti-sakti ya” aku terkejut bukan main sampai kuhentikan makan sejenak.

“Banyak sekali, ada hewan ada tumbuhan bisa ngomong. HAHAHA”

“Kakek bohong ya sama Adin. Hmm”

“Adin tau dongeng?” tanya kakek.

Mendengarnya saja baru kali itu, bagaimana aku bisa tau apa itu dongeng. Pikirku paling kakek ingin mengarang cerita lagi. Tapi aku tetap saja menyimaknya.

“Dongeng itu cerita lama din, biasanya sering kok dibacain sama ibu kalau anaknya mau tidur. Yang paling dikenal itu dongeng si kancil dan buaya, masa Adin gatau”

Aku terus menggeleng. Kakek terus bercerita, kata kakek dulu ramai sekali anak-anak kecil suka mendongeng. Bahkan kakek pun termasuk orang yang fanatik dengan cerita dongeng. Tak heran kalau ia punya segudang cerita dari hari ke hari. Sampai kemudian diceritakannya lah si kancil dan buaya itu. Polosnya aku, tertegun dan takjub betul dengan kancil yang cerdik. Sepanjang kakek mendongeng, cerita hari ini jadi cerita paling antusias kudengar dari kakek.

“Tapi kek, kenapa ibu tidak pernah bacain Adin dongeng ya,” tanyaku heran

“Din, din. Jaman sekarang ya lupa karena udah ada handphone. Ya ngapain repot-repot, tinggal cari aja langsung bisa didengar. Toh juga ibumu udah penat seharian kerja toh. Padahal kalau terus dilestarikan, dongeng ini apik untuk Adin dan teman-teman seumuran Adin biar lebih kreatif lagi, lebih pintar karena rajin baca buku, ya buku-buku dongeng contohnya,”

Dari itu saja aku sudah dipacu untuk berpikir, beda sekali bukan kehidupan lama dengan sekarang. Pikirku lagi-lagi kalau aku hidup di jaman kakek, pasti aku bisa tiap malam dengar ibu baca dongeng sampai aku tertidur pulas. Tapi tak perlu seperti itu, kakek janji mau berbagi banyak cerita dongeng untukku. Ya meski tidak bisa untuk temani aku tertidur, paling tidak ceritanya bisa jadi bahasan menarik tiap hari kalau aku duduk santai berdua dengan kakek dirumah.

Setelah waktu itu..

Dan sekarang, hari ini tiba. Aku yang menggantikan posisi kakek, menjadi pendongeng muda yang siap berkompetisi dengan banyak orang. Meski belum sempat kakek mendengarkan aku mendongeng, setidaknya dari atas sana kakek bangga melihatku bisa menjadi kisah baru bagi diri kakek.

Aku ikut kompetisi membaca dongeng cerita rakyat antar sekolah di kabupatenku, untuk peringati hari dongeng sedunia, sekaligus untuk aku mengenang kakek lewat cerita-ceritanya.  Mendengar kata dongeng saja sudah membuatku bersemangat bukan main karena mengingat kakek. Apalagi kompetisi, aku merasa tertantang untuk membuktikan kepada kakek kalau cerita dongeng lamanya tidak sia-sia bagiku. Bedanya yang kubawakan adalah cerita rakyat yang melegenda, bukan tentang hewan atau tumbuhan yang bisa bicara. Meski begitu, aku banyak belajar. Senang sekali rasanya, waktu silam yang aku lewati berdua habiskan hari dengan kakek depan rumah sekarang jadi rasa paling bahagia.

Antusiasku selain karena kakek, juga sekaligus menjadi ajang untuk aku perkenalkan dongeng untuk anak-anak, yang seharusnya lebih membutuhkan buku-buku cerita, yang efektif dinikmati anak seusiaku dulu, bukan berlarut dengan gadget yang makin hari makin merajalela.

Sebelum aku tampil, aku biarkan ingatan membawaku tenggelam mengingat waktu silam. Menjadi melodi dan semangat tersendiri bagi aku untuk hari ini. Lagi-lagi ingatan itu membuatku larut dalam kenangan dan tergenang.

-TAMAT-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *