Senyum Untuk Hila

Sumber foto: pixabay.com/khamkhor

Penulis: Aisyah Safitri (Pengurus LPM Ukhuwah)

Langit hari ini sangatlah cerah, secerah wajah yang nampak dari seorang anak perempuan yang masih kecil itu. Matanya bulat membesar sedang memegang es krim rasa cokelat kesukaannya. Senyum lebar tercetak di bibirnya yang merah muda itu.

Dengan rambut ikal yang diikat dua itu menambah sosok lucu di dalam dirinya. Ia berjalan menjijit, sesekali berputar kegirangan. Ia tak sabar saat sampai di pintu rumahnya mendapatkan kecupan hangat dari sosok perempuan yang ia panggil ibu itu, sebuah tradisi yang selalu ia dapatkan sepulang dari sekolahnya.

Namanya Mahila, Mahila Bina Arindra. Anak perempuan kecil itu baru berumur 8 tahun. Sebuah kejadian yang ia tak pernah sangka sebelumnya pun hari ini benar terjadi. Disaat sampai di rumahnya ia sangat kebingungan. Perempuan kecil yang akrab disapa Hila itu melihat banyak orang yang berkerumun di rumahnya.

Langkahnya berubah menjadi lambat, bendera kuning tertancap dengan jelas di pagar rumahnya. Hila yang masih sangat kecil sungguh tidak mengerti apa maksud dari semua ini. Dengan cepat ia masuk ke dalam rumahnya dan betapa terkejutnya ia mendapati sosok malaikat dalam hidupnya sedang terbaring tidak bernyawa, ditutupi dengan kain.

“Hila,” ujar ayahnya melihat Hila dengan tatapan sedih.

Ya, Hila baru mengerti. Ia melepaskan tas yang berada di punggungnya, berjalan dengan lambat dan membuang sembarangan es krim cokelat yang ia pegang itu. Matanya hanya tertuju dengan sosok perempuan di depannya, Ibunya.

“I-ibu? Ibu, kenapa Ibu tidur disini? Ayo bangun!” teriak Hila dengan sangat kencang, membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya menatap Hila dengan iba.

“Ibu, ayo bangun, Bu! Hila nungguin Ibu di depan rumah, kan Ibu selalu cium kening Hila. Ayo, cium kening Hila, Bu!” Tangisan Hila makin menjadi, Ayah Hila pun memeluknya dan berusaha menenangkannya.

Ayah Hila berbisik lembut kepadanya. “Hila, Ibu sudah tenang sama Tuhan, Ibumu disana sedang tersenyum. Tuhan lebih sayang sama Ibumu, kamu harus mengikhlaskan Ibumu, nak.” Ayah Hila memeluknya.

Peristiwa kelam 10 tahun yang lalu tersebut selalu terputar di otak Hila layaknya rekaman film. Sekarang, Hila telah tumbuh menjadi perempuan yang dingin. Sekarang, ia tidak punya siapa-siapa selain ayahnya. Ayah Hila selalu sibuk mencari sesuap nasi untuknya semenjak Ibunya pergi.

Semakin besar, Hila semakin sadar bahwa tidak ada yang benar-benar peduli kepadanya. Ayahnya? Entahlah, Hila hanya tahu jika Ayahnya hanya sibuk bekerja dari pagi hingga malam, siklusnya setiap hari seperti itu. Hila merasa Ayahnya tidak ada waktu untuknya. Hila sungguh merasa kesepian, tidak ada insan satu pun yang menemaninya.

“Hila,” panggil Ayahnya Hila saat masuk kerumah.

Ayah? Hila heran mengapa ayahnya pulang cepat, padahal sekarang baru pukul 4 sore. Ayahnya biasanya pulang larut malam, ayahnya selalu pulang ketika Hila sudah tertidur dengan lelap.

“Apa?” Hila menjawab perkataan Ayahnya dengan ketus dan wajah yang diselimuti kekesalan, seperti biasa.

Hila yang sedang duduk di kursi depan rumahnya itupun mau beranjak pergi masuk kerumahnya. Entah mengapa, ketika melihat ayahnya hatinya ikut merasakan sakit yang teramat dalam. Kebencian kepada ayahnya sepertinya sudah tertanam di hati Hila.

“Mau kemana, Nak?” tanya Ayahnya lembut.

Mendengar pertanyaan tersebut, Hila berhenti sejenak. “Mau masuk, mau tidur aja.” Hila melengos begitu saja tidak menghiraukan Ayahnya yang berdiri di depan pintu rumah.

Di dalam hati kecil Hila, sebenarnya ia sayang juga kepada ayahnya yang telah membanting tulang mencari nafkah. Ia sedikit mengintip ayahnya yang sedang duduk di kursi yang ia duduki tadi. Peluh keringatnya bercucuran, nampak jelas bahwa ayahnya sangat kelelahan. Hila paham akan hal itu.

Tak lama kemudian ayahnya pun menghampiri Hila yang sedang duduk di atas kasur kamarnya. Mata Hila menatap lurus ke depan, raut wajahnya masih datar, tak ada perubahan sama sekali. Ayahnya pun ikut duduk, di sebelah Hila persis sembari merangkul anak satu-satunya itu.

“Hila, sampai kapan kamu benci sama Ayah?” tanya Ayah Hila begitu lembut, sama seperti suara Ibunya yang telah pergi meninggalkannya.

Hila menarik nafas sejenak. “Ayah gak peduli sama Hila,” ketus Hila dan membuang muka.

Hila berdiri, tubuhnya ia hadapkan ke jendela yang tidak memiliki penutup itu. “Ayah hanya sibuk bekerja, coba pikir selama ini Hila selalu sendirian, Yah. Apa-apa Hila sendiri, Hila gak ada temen sama sekali. Ayah pun gak ngasih Hila sesuap nasi, tuh yang beri Hila makan malah Kakek Bagus.”

Ayah Hila menarik nafas panjang, sesekali ia mengusap keringat di dahinya itu menggunakan tangannya. Mau tidak mau Ayah Hila harus menjelaskan semua ini kepada anak satu-satunya itu.

“Hila, ada yg ingin Ayah sampaikan kepada kamu,” Ayah Hila ikut berdiri, menyajarkan badannya persis di samping Hila. “Sepertinya, sekarang adalah waktu yg tepat untuk Ayah beri tahu kepada kamu semuanya.”

Seketika Hila langsung menoleh kepada Ayahnya. Menatap dalam mata lelaki yang sudah ia benci itu. Sungguh, Hila sangat bingung dengan perkataan Ayahnya barusan. Apa sebenarnya maksud dari perkataan yang keluar dari mulut Ayahnya tersebut. Hila sangatlah penasaran.

“Apa yang Ayah sembunyikan dari Hila?” Nada bicara Hila melembut, ia sangat penasaran.

Mereka berdua pun duduk. Ayah Hila terdiam sejenak, masih menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan ini semua sekarang kepada anaknya itu. Tetapi, Ayahnya sangatlah yakin jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semua hal yang telah ia tutup selama ini.

“Begini…” Ayah Hila menarik nafas panjang. “Sebenarnya Hila salah paham sama Ayah.”

Hila agak sedikit tercengang dengan penyataan Ayahnya itu. Salah paham maksudnya yang bagaimana? Sungguh Hila kebingungan.

“Ma-maksud Ayah gimana? Hila gak ngerti. Coba jelasin sama Hila sejelas-jelasnya,” ujar Hila serius.

“Jujur, Ayah sangat sayang sama Hila. Apa yang ada dipikiran Hila tentang Ayah itu sangat salah. Selama ini Ayah kerja itu semua untuk Hila,” ungkap Ayahnya dengan sangat tulus.

Perkataan itu sungguh menusuk hati Hila. Seperti ada yang membuat Hila bimbang dan menyesal di waktu yang bersamaan. Kalau ternyata itu benar, mengapa Ayahnya tidak peduli kepada Hila?

“Ayah bohong, kalau Ayah kerja untuk Hila terus selama ini kenapa Ayah gak peduli sama Hila?”

“Itu yang ingin Ayah jelasin. Kakek Bagus itu sebenarnya Ayah yang suruh untuk ngasih makanan kepada kamu…”

Ayah Hila memperbaiki posisi duduknya. “Ayah kerja buat nyari sesuap nasi semuanya untuk kamu. Ketika Ayah dapat uang, Ayah membeli nasi dan itu sengaja Ayah titipkan ke Kakek Bagus untuk ngasih ke kamu karena Ayah gak sempet kalau mau pulang kerumah karena pekerjaan Ayah sangat banyak,” ujar Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Karena Ayah kenal sama Kakek Bagus dan Kakek Bagus kebetulan rumahnya dekat dengan rumah kita, jadi Ayah titipkan makanan itu kepada dia.”

Hati Hila sungguh teriris menjadi potongan yang sangat kecil. Sungguh, selama ini ternyata Hila sangat salah menilai tentang Ayahnya sendiri. Hila sangat menyesal akan hal itu, sungguh sangat menyesal.

Cairan bening pun sukses merobohkan dinding pertahanan Hila. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat bersalah kepada Ayahnya sendiri.

“Dan kamu tau Ayah kerja apa, Nak?”

Hila mengusap air matanya. “Kerja apa, Ayah?”

Ayah Hila ikut mengusap air mata anaknya itu, sungguh Ayahnya sangat tidak ingin melihat Hila menangis seperti ini. “Ayah kerja menjadi tukang jahit, Nak. Dan kalau sepi, Ayah terpaksa berkeliling mencari pelanggan yang bajunya ingin dijahitkan. Oleh karena itu Ayah pergi pagi untuk menyiapkan semua keperluan ayah…”

“Ayah pikir karena Ayah sedikit bisa menjahit, jadi Ayah berusaha untuk bekerja menjadi seorang penjahit. Walau Ayah tahu penghasilannya tidak seberapa, setidaknya kamu bisa makan.”

Ayah Hila masih melanjutkan ceritanya. “Dan Ayah terpaksa pulang malam karena ada baju yang belum sempat Ayah selesaikan dan semua itu Ayah lakukan semata-mata untuk Hila, anak perempuan kesayangan Ayah.”

Mendengar semua itu, tangis Hila makin menjadi-jadi. Ia tak menyangka akan semua ini, Ia tak menyangka jika perjuangan Ayah untuknya begitu besar. Hila sangat bersalah karena telah menyalahkan Ayahnya sendiri tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Hila sangatlah bersalah.

Hila masih menangis, tetapi Ayahnya masih melanjutkan ceritanya. “Hila, asal kamu tahu semenjak Ibu meninggalkan kita disitu Ayah berputar otak untuk mencari pekerjaan agar kita bisa terus makan. Kan kemarin kalau ada Ibu, Ibu bisa bantu sedikit-sedikit untuk mencari nafkah. Dan sekarang keadaannya berbeda, Nak. Disini ayah sendirian mencari uang dan semua itu hanya untuk kamu. Ayah gak mau sampai kamu gak makan, Ayah gak apa-apa jika gak makan, tetapi kamu jangan sampai gak makan,” kata Ayahnya sambil tersenyum.

Hila berusaha untuk meredam tangisannya, ia pun berusaha untuk berkata, “Ayah, maafin Hila karena Hila memandang Ayah sebelah mata. Hila gak mencari tahu dulu ayah kerja apa. Ternyata Hila seegois itu, Yah.”

Ayah Hila tersenyum. “Hila, gak apa-apa kok kamu begitu. Yang penting sekarang anak Ayah gak benci lagi sama Ayah,”

Ternyata Ayahnya sangatlah baik kepada Hila. Mendengar semua itu Hila kembali menangis. Entah harus darimana Hila berterimakasih kepada lelaki yang ia sebut Ayah itu.

“Maafin Hila, Yah. Hila sungguh minta maaf dan sangat menyesal kepada Ayah. Maafin Hila, Yah.” Dengan spontan Hila langsung memeluk Ayahnya dengan pelukan yang sangat erat.

Hila pun menangis di pelukan Ayahnya itu. Ayah orang satu-satunya yang ia punya sekarang. Ayah yang selalu berjuang untuknya. Ayah yang selalu memberikan kebahagiaan untuknya. Ayah yang bahkan jika Hila ingin Bulan Ayahnya pun akan memberikan untuknya. Dan Ayah yang selalu berkata lembut dan tulus kepadanya. Sungguh, tak ada pikiran di kepalanya sekarang untuk membenci Ayahnya. Karena, Ayahnya adalah semesta Hila untuk sekarang.

Editor: M Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *