Sebuah Kebahagiaan

google image

Penulis : Desby Niscaya Putri (Pengurus LPM Ukhuwah)

Suara atap ramai sekali malam ini, aku lihat dibalik jendela basah sudah jalanan depan rumah, taman-taman tergenang, yang lewat pun sepi. Ditambah lampu jalan yang kadang nyala kadang mati, sunyi. Sepi sekali malam ini, tapi ramai. Sepi, tak ada orang berlalu lalang, ramai karena air jatuh bergerumun di seng rumah.

Bagi sebagian orang mungkin waktu ini adalah yang tepat untuk rehat sejenak, menjulurkan kaki diatas sofa, sembari menikmati seduhan teh hangat, dan sayup-sayup melodi klasik yang menemani. Namun tidak bagi Amanda kurasa, anak kecil yang kutemui beberapa hari lalu di perjalanan aku menuju kerumah. Disaat yang lain tengah menahan rasa dahaga dibawah terik matahari menyala, tidak dengan Amanda. Kesal bukan main aku, bisa-bisanya dia menyedot es mangga berwadah plastik di depanku.

Siang itu..

“Hei kamu anak kecil, berdosa sekali kamu minum siang hari begini,” kataku memarahinya.

Tak menggubris, matanya hanya sekilas melihatku lalu kembali sibuk menikmati esnya. Mungkin pikirnya siapa aku, tiba-tiba datang lalu marah-marah. Aku yang kesal ini, bodohnya terus saja mengocehinya tiada henti. Sampai aku lelah lalu berhenti dan duduk sejenak, anak kecil itu bangkit lalu menawarkanku es yang diminumnya. Baru saja mau kuambil, tiba-tiba..

“Amanda,” seru wanita paruh baya kepadanya.

”Kakak itu puasa nak”

Tak disangka respon Amanda yang langsung mengalihkan es kebelakang badannya. Mukanya merasa amat bersalah sekali. Baru dia sadari alasan aku tak berhenti mengocehinya tadi. Tapi ya bukan sepenuhnya salah Amanda, toh aku juga yang harusnya paham kalau ia masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Sekilas obrolan itu, nama Amanda terus mampir di ingatanku. Sempat kutanya dimana rumahnya, kupikir nanti aku bisa berkunjung hari raya untuk main bersamanya. “dimana pun bisa jadi rumahku” itu jawaban Amanda. Masih aku pikirkan betul itu, beberapa hari lalu aku menyempatkan untuk lewat di gang tepat aku bertemu dengan Amanda secara tak sengaja. Namun tak kunjung aku temui ia, sampai di depan gerbang sekolah.

“AMANDAA” teriakku semangat.

Aku senang bukan main bertemu dengannya lagi setelah sekian lama, kuajak ia masuk. Kukira ia bersekolah disana, namun anehnya dia tidak memakai baju seragam seperti ku. Ia tetap mengenakan baju lusuh saat pertama kali aku menemukannya. Tak lama Amanda melambai tangan kepadaku, teriakku agar Amanda tak pergi begitu jauh supaya nanti bisa kutemui sepulang sekolah.

Sepulang sekolah

Amanda ternyata mendengarkan perkataan ku, ia berdiri di depan gerbang. Aku pun sangat senang melihat Amanda. Seperti sudah lama kenal, kami berjalan menyusuri jalanan sembari bergandengan layaknya anak seumuran kami. Amanda sendiri kali ini, tidak bersama wanita paruh baya waktu itu. Wanita itu ibunya Amanda, sehari-hari Ibunya mengumpulkan sampah plastik yang kemudian dijual ke pengepul, sekedar mencari rupiah untuk mengenyangkan perut. Di sela-sela perjalanan, kami menepi sejenak di pinggir taman. Duduk dekat danau, seru sekali kami berbagi cerita. Untuk anak lima tahun atau delapan tahun seperti Amanda dan aku, heran sekali bisa-bisanya kami larut panjang bercerita.

Sempat aku tanyakan perihal hari raya. Semangat bukan main Amanda menjawab, ia tidak sabar menunggu lebaran, mengenakan pakaian baru yang sudah diincar di salah satu gerai saat ia dan Ibunya memungut sampah di sekitaran pasar. Ia sangat antusias bercerita, ibunya sudah janji mau membelikan baju kesukaannya itu. Mendengarnya, aku turut senang sekali.

“Amanda, ayo kita ke pengepul,” datang Ibu Amanda.

Disambut bahagia Ibunya oleh Amanda, bersemangat sekali karena Amanda tau ibunya terus bekerja untuk memenuhi keinginannya. Dia gandeng tangan ibu dan berjalan menyusuri jalan, lalu melambai tangan kepadaku.  

“Sampai jumpa lagi,” sahutku.

Setelah bertemu Amanda, aku tidak langsung pulang hari ini. Aku harus pergi kerumah bibi di dekat pasar, karena Ibu sudah menungguku disana untuk mencari baju hari raya.

Di pasar

Sepanjang jalan aku terus mengeluh, karena cuaca panas dan suasana pasar yang amat ramai tak seperti hari biasa. Obral makanan sana-sini, baju bertumpuk di sepanjang jalan, dan perabotan lain yang juga banyak diserbu ibu-ibu. Di ujung jalan, aku lihat Amanda dan Ibunya dari kejauhan. Kutarik tangan Ibu, untuk menghampiri Amanda. Ibu sudah tidak kaget lagi karena Amanda sudah banyak kuceritakan ke Ibu. Ternyata Amanda juga sedang ingin membeli baju hari raya, tepatnya baju kesukaan yang ia ceritakan sewaktu di taman tadi. Namun bedanya, Amanda tak lagi bersemangat, karena uang yang Ibunya kumpulkan belum cukup.

Ibu Amanda terus tawar-menawar demi memenuhi keinginan anaknya itu. Sampai-sampai Ibu Amanda bilang, nanti ia akan kembali lagi ke toko ini dan memohon agar baju incaran anaknya tidak dijual dulu. Mulai iba, akhirnya pemilik toko memberikan baju tersebut dengan harga sesuai uang yang dimiliki Ibu Amanda. Muka Amanda kembali berseri, teriaknya terus memenuhi sudut-sudut pasar, ia melompat-lompat girang bukan main, bahagia sekali.

“Ibu, kalau sudah beli baju Amanda. Ayo kita keliling pasar, cari baju baru untuk ibu juga,”seru Amanda bersemangat.

Namun ajakan tersebut ditolak oleh Ibu Amanda, “Yang ibu butuh cuma bahagianya Amanda, toh baju Ibu juga masih bagus, masih bisa dipakai,” itu jawaban Ibu Amanda.

Mendengar jawaban itu suasana bercampur haru dan bahagia, seorang Amanda yang bisa berbahagia karena terpenuhi keinginannya, dan Ibu nya yang ternyata banting tulang untuk membuat Amanda menjadi sosok seperti hari itu. Akan tetapi, begitulah orang tua. Rela bertempur berjuang sampai kapanpun, kalau menyangkut soal anak. Ibuku yang sedari tadi tak luput kagum dari bagaimana sosok Ibu Amanda, akhirnya mengajak Amanda dan Ibunya untuk sejenak mampir kerumahku, dan kapanpun boleh datang. Sekarang bukan lagi aku dan Amanda yang berteman, tapi Ibu kami berdua juga.

Pertemuan tak disangka-sangka..
Hingga akhirnya berbuah pelajaran yang berharga..

-Tamat-

Satu tanggapan untuk “Sebuah Kebahagiaan

  • 09/05/2021 pada 11:06 AM
    Permalink

    Sukses buat kakaknya🥰

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *