Cerpen : Lirih

Penulis : Aisyah Safitri (Pengurus LPM Ukhuwah UIN RF)

sumber foto : Internet

Alunan nyanyian dari lambaian daun-daun pohon di depan rumah perempuan itu mengalun dengan lembut. Ditemani angin yang cukup kuat menyentuh kulitnya, membuat perempuan itu kedinginan. Bintang-bintang di atas sana ikut menemani perempuan satu ini, juga bulan yang bersinar terang, seakan mengatakan kepadanya bahwa semua akan selalu baik-baik saja.

Seorang perempuan dengan tubuh yang mungil, tetapi usianya sudah memasuki angka 20 tahun. Rambut bergelombangnya indah terurai dan bibir kecil nan merah muda itu sudah cukup membuatnya terlihat sangat cantik, namun tidak untuk pikirannya yang selalu saja bergelut di setiap malam.

Zayna, begitulah nama panggilan bagi perempuan yang sedang duduk di balkon depan rumahnya malam-malam seperti ini. Tidak ada yang penting baginya sekarang selain beribu pertanyaan yang sedang bersarang di kepalanya.

“Ah, kenapa sih setiap malam aku selalu memikirkan dia?” ujarnya.

Kira-kira, kalimat itulah yang keluar dari bibir kecilnya yang merah muda. Setiap malam, setiap itu pula ia punya jadwal untuk duduk di balkon di depan rumahnya. Setidaknya ia tidak rebahan, itu yang ada dipikirannya. Karena ayahnya paling tidak suka melihat Zayna hanya berdiam diri di kamarnya dan tidak melakukan satu kegiatan pun. Padahal, rebahan juga merupakan kegiatan, itu yang selalu ia katakan kepada si lelaki paruh baya itu.

“Memang, duduk di balkon malam-malam gini enak banget ya, aku sangat suka melihat bintang-bintang diatas sana. Setidaknya, ia tidak sendirian seperti diriku sekarang,” ucap Zayna yang tidak sadar telah menitihkan air mata.

Air matanya selalu keluar tatkala ketika ia menyaksikan bulan dan bintang di atas sana. Namun, walaupun air matanya selalu keluar, Zayna selalu berusaha untuk tetap tersenyum dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.

“Hai, kamu yang di atas sana? Apa kabarmu, hehe. Tau gak aku disini sangat rindu kepadamu, bisakah kamu berada disampingku lagi?” katanya sambil tersenyum tipis.

Dirinya tak henti menatap bulan dan bintang-bintang yang bertebaran diatas sana dengan indah dan cantik. Hal ini terus mengingatkan dirinya kepada kejadian yang membuat sebagian dirinya hilang, bahkan untuk selamanya.

Peristiwa itu, peristiwa yang akan selalu melekat di dalam pikirannya dan akan selalu terputar layaknya rekaman video. Momen itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu menetap di dalam dirinya. Ya, ia akan selalu mengingatnya.

Kejadian itu terjadi sejak 3 tahun silam saat Zayna masih memakai baju putih abu-abu. Sebuah peristiwa yang tidak akan pernah lari dari pikirannya. Sebuah peristiwa kejam yang tanpa aba-aba datang di kehidupannya. Yang selalu hinggap dan selalu berdiam tanpa pernah memikirkan perasaan yang ia rasakan.

“Ti-tidak…” ucapnya lirih.

Kedua kaki yang ia gunakan untuk berpijak sekarang sudah benar-benar tidak mampu lagi menahan semua kenyataan apa yang ia lihat di depan matanya sekarang.

Semesta terlalu bercanda kepada Zayna. Mengapa semesta melakukan ini kepadanya. Apa kesalahan Zayna hingga ia harus dihadapkan dengan semua ini. Semesta sungguh kejam.

Sungguh, ia tidak kuasa membendung air matanya. Air matanya dengan bebas jatuh dari matanya tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu. Seorang sahabat perempuan yang selalu ia anggap sebagai saudaranya itu kini telah berpulang ke pangkuan Ilahi. Pulang dengan kedamaian. Ia pergi tanpa mengucap sepatah katapun kepada Zayna. Ia pergi disaat Zayna masih menginginkannya untuk menghadapi dunia bersama-sama.

“Kenapa kamu ninggalin aku, Ra? Kenapa kamu tega ngebiarin aku hidup di dunia ini sendiri? Kenapa? Kamu terlalu kejam, Ra…” lirih Zayna yang air matanya kian menderas.

Cyra, dia adalah sahabat Zayna yang selalu menemaninya dari Zayna masih baru bisa berjalan. Cyra sudah Zayna anggap sebagai saudaranya. Karena, hanya Cyra lah yang selalu menemani Zayna, Cyra yang mengerti tanpa Zayna harus bercerita panjang lebar, Crya langsung memeluk dirinya dan mengatakan bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.

“Tenang Zay, semua akan baik-baik saja. Semesta akan selalu baik kepada kita, tetapi jika semesta belum baik kepadamu itu tandanya kamu yang harus baik ke kamu sendiri.” Kalimat penenang dari Cyra yang selalu Zayna ingat di pikirannya

Dugaan sementara tentang kematian Cyra adalah Cyra bunuh diri. Cyra ditemukan tidak lagi bernyawa di kamarnya. Disana hanya ada tali yang menggantung dan pijakan yang ia gunakan. Polisi telah yakin bahwa Cyra melakukan bunuh diri.

“Kenapa kamu mengakhiri hidupmu seperti ini, Ra? Kalau begitu, aku juga ingin pergi bersamamu, jangan tinggalin aku sendiri, Ra.” Dengan cepat tangan mungil Zayna mengambil gunting yang tergeletak tidak jauh dari posisinya. Dan dengan cepat pula ia ingin membunuh dirinya dengan melukai pembuluh darah yang ada di tangannya.

“Jangan, Nak! Cukup dia saja yang melakukan itu, kamu jangan. Hidupmu berharga, jadi tolong jangan lakukan itu. Coba pikir, akan banyak orang yang sedih jika kamu mengakhiri hidupmu,” jelas Polisi tersebut dengan mengambil paksa gunting yang Zayna pegang.

“Percuma, Pak! Saya gak bakal bisa hidup tanpa Cyra! Dialah semangatku untuk tetap hidup! Gak ada orang yang sayang sama saya. Gak ada, Pak!” teriak Zayna masih dengan air matanya yang deras.

Untuk sekarang, Zayna akan selalu merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia tidak bisa mencegah perbuatan yang dilakukan oleh Cyra? Mengapa ia tidak bisa melakukan itu? Mengapa Zayna sebodoh ini, itulah yang ada dipikiran perempuan itu.

Cyra adalah anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang juga sama runtuhnya dengan keluarga Zayna. Namun, Zayna masih mempunyai Ayah yang sangat sayang kepadanya, tetapi berbeda dengan Cyra, Ayah dan Ibunya yang sudah memutuskan untuk berpisah. Cyra tinggal dengan Ibunya. Ayahnya yang entah tidak tahu dimana rimbanya, sedangkan Ibunya suka bermain dengan lelaki lain dan selalu pulang larut malam.

Hal yang paling menyakitkan lagi adalah Ibunya selalu bersikap kasar dan keras kepada Cyra. Bukan hanya perkataan, Ibunya juga selalu melukai fisik Cyra, tak heran jika banyak bekas luka yang ada di tubuh Cyra, mulai dari tangannya hingga dahinya. Zayna tahu akan semua hal itu. Itulah mengapa Zayna bertekad untuk selalu ada disamping Cyra bagaimanapun keadaannya.

“Kamu itu bisa gak sih nurut sekali ini aja jadi anak? Jadi anak gak becus tau, gak?!” Ibunya Cyra menampar wajah Cyra hingga ujung bibirnya mengeluarkan cairan merah. Hal itu sudah biasa ia terima selama hidup bersama Ibunya.

“Aku selalu nurut sama anda, tapi kenapa anda selalu jahat sama saya? Apa yang saya lakukan hingga anda selalu bersikap seperti ini sama saya?” Cyra berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.

“Heh, anak kurang ajar! Seperti inikah sikap kamu selama saya menyekolahkan kamu? Apa guru-guru kamu tidak mengajarkan sopan santun kepada orangtua?!” bentak Ibunya.

“Orangtua? Hahaha, saya saja tidak menganggap anda orangtua saya. Orangtua harusnya menyayangi anaknya, hal itu berbanding terbalik dengan sikap anda kepada saya,” Cyra berdiri setelah habis ditampar Ibunya yang membuat ia terduduk. Dengan cepat ia menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ia tahu apa yang ia harus lakukan sekarang.

Air matanya tidak keluar sama sekali untuk kali ini. Sudah banyak luka yang ia tanam di hatinya. Sudah banyak perih dan sedih yang ia rasakan. Dan sudah banyak luka-luka di tubuhnya yang berbekas dan tidak akan hilang, bahkan ke depan akan timbul luka-luka yang baru jika Cyra tidak mengakhirinya sekarang.

Dengan pikiran yang kalut dan muram, beginilah ia sekarang sudah siap untuk mengakhiri semuanya tanpa berpikir panjang. Karena ia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi dunia yang terlalu kejam kepadanya. Tidak ada yang menyayanginya, ia sendirian. Ia pun dengan perlahan menaiki pijakan dan mengaitkan tali ke lehernya yang sudah ia gantung. Dengan hitungan cepat, Cyra sudah tidak ada lagi di dunia.

“Cyra…” Zayna masih menangis dan menyebutkan beberapa kali nama Cyra.

Polisi menemukan sebuah surat yang tergeletak di meja belajar Cyra. Ia membaca nama di surat tersebut yang ditujukan untuk Zayna. Dengan cepat polisi mengambil surat itu dan memberikannya kepada Zayna.

Zayna pun dengan tangan yang tidak ada lagi upaya dengan perlahan membuka surat berwarna merah muda itu. Dia menyiapkan mental untuk membaca per kata dari surat itu.

Teruntuk Zayna Argani,

Hai Zayna? Apa kabar nih, hehe. Semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga selalu bahagia, ya!

Aku senang kalau kenyataannya kamu selalu bahagia dan selalu ceria, setidaknya di depanku. Aku tahu ketika kamu menyembunyikan masalahmu, tetapi aku senang kalau kamu berusaha untuk tidak memikirkan masalah itu, tidak sepertiku ya, hehe.

Zay, aku menulis surat ini sebagai tanda terimakasih. Aku mau berterimakasih sebesar-besarnya karena hadir di dunia ini. Rasanya aku ingin berterimakasih kepada kedua orangtuamu karena telah melahirkan perempuan yang cantik dan ceria seperti dirimu, hehe. Terimakasih, Zay untuk selalu ada di dalam hidupku, selalu ada disaat dunia sedang menjatuhkanku, dan terimakasih untuk semuanya. Aku sayang kamu, Zay. Hahaha gak kok, nanti kalau sayang kesannya jadi lesbi, ya? Hahaha.

Selain mau berterimakasih, aku juga mau minta maaf, Zay. Maaf jika nanti aku tidak ada lagi disampingmu dan maaf jika nanti aku tidak ada lagi disaat hari-hari susahmu. Tetapi, percayalah aku akan selalu ada di hatimu, selamanya. Kalau kamu rindu kepadaku, kamu keluar saja di malam hari, lihat aku di atas sana, aku akan menyapamu dengan hangat. Maaf ya, Zay.

Terimakasih untuk semuanya, Cyra sayang Zayna.

“Cyra, sesuai permintaanmu di surat itu, aku setiap malam selalu di balkon ini, aku selalu menatapmu di atas sana. Karena aku yakin, kamu juga menatapku di bawah sini, kan?”

“Tetapi, Ra kalau begini terus aku gak akan pernah lupa sama kamu, dengan begini terus aku selalu sedih, Ra.” Zayna tersenyum dengan perih.

Zayna selalu memberi waktu luang untuk mengamati bulan dan bintang diatas sana. Terlebih, Zayna sangat suka melihat bulan, seakan-akan ia melihat Cyra, karena makna nama Cyra berarti bulan. Dengan melihat bulan, Cyra selalu merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Ia yakin akan hal itu, karena Cyra diatas sana pasti juga akan memandangai Zayna yang berada di bawah sini.

“Cyra, apakah diatas sana kamu rindu denganku? Aku gak kuat, Ra. Andai kamu disini, disampingku. Kita hadapi dunia bersama-sama hingga tua nanti. Tapi sayang, semesta lebih sayang kepadamu.”

Seperti biasa, air mata Zayna selalu menetes. Ia menangis meratapi hidupnya sekarang, tanpa sahabat yang setia menemaninya. Ia tidak tahu harus melakukan apa disaat ia tidak diinginkan di dunia, ia ingin ada Cyra yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia ingin disaat ia terpuruk dan jatuh, ada Cyra yang dengan sigap menyodorkan tangannya untuk membantu Zayna berdiri lagi. Ia ingin Cyra.

“Zay? Udah malam gih, tidur sana.” Ayah Zayna mendatanginya dan melihat Putrinya itu sedang menangis sambil menatapi langit.

Ayahnya ikut duduk di samping Zayna. “Sayang, sudah jangan menangis lagi, ada ayah disini yang akan selalu menemani kamu. Kamu jangan sedih terus, kalau kamu sedih terus, Cyra gak bakal tenang disana. Jadi, berusahalah untuk membuat Cyra tersenyum, berhentilah menangis, Sayang.” Ayah Zayna mengelus rambut bergelombang Zayna dengan lembut.

“Zay gak kuat, Yah. Di sekolah gak ada yang mau temenan sama Zay. Kalaupun ada, mereka hanya memanfaatkan Zay saja. Zay selalu merasa sendirian setelah Cyra meninggalkan Zay. Cyralah yang selalu ada untuk Zay, tapi kenapa semesta sekejam ini, Yah?” Air mata Zayna tambah deras.

Ayah Zayna menarik nafas sejenak. “Zay, di dunia ini memang gak ada yang kekal, semuanya akan meninggalkan dunia satu per satu. Tinggal kita yang siap gak siap harus menghadapi itu. Ingatlah, kalau kamu itu tidak sendiri. Banyak di luar sana yang mengalami hal serupa sepertimu, tetapi banyak juga dari mereka yang memutuskan untuk bangkit dan melawan rasa sedih itu. Semesta memang suka bercanda, ia mengambil orang terkasih kita untuk menguji kita seberapa kita kuat menghadapinya. Itu tandanya Tuhan sayang kepadamu, Nak. Kamu harus tetap kuat menghadapi ini semua, cobalah untuk bangkit. Kalau kamu sedih terus, tentunya Cyra disana juga akan ikut sedih.”

Ayahnya lanjut memberikan Zayna semangat, “Kamu tidak sendiri, Nak. Disini ada Ayah yang menyayangimu dan selalu akan menemanimu. Anggap saja Ayah adalah Cyra-mu. Dan jangan lupa, Tuhan juga akan selalu bersamamu, Nak. Selalu ingatlah satu hal bahwa kamu tidak akan pernah sendiri,” sambung Ayahnya Zayna sambil memeluknua yang menangis tersedu-sedu di pelukan Ayahnya.

“Terimakasih, Yah. Karena Ayah Zay menjadi kuat untuk menghadapi ini semua dan karena Ayahlah Zay menjadi sadar kalau Zay tidak akan pernah sendiri. Zayna sayang Ayah.” ujarnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Masalah dan masalah akan selalu datang menghampiri kita, tidak peduli siapa kita dan apa yang kita rasakan. Ia hadir tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara kita untuk menghadapi masalah itu.

Jika kamu selalu merasa bahwa dirimu sendirian, buang jauh-jauh pikiran itu, karena pada kenyataannya adalah kita tidak pernah sendirian. Tuhanmu akan selalu menemanimu kapanpun dan dimanapun kamu berada. Ia akan selalu bersamamu dan orang-orang disekitarmu juga akan menemanimu.

Saat merasa sendirian, selalu ingatlah satu hal bahwa hidupmu itu berharga. Banyak diluar sana yang mengakhiri hidupnya karena ia merasa sendiri, tetapi banyak diluar sana yang merasakan hal yang sama sepertimu dan ia memutuskan untuk bangkit dan melupakan tentang hal itu. Yang harus kamu lakukan adalah tetaplah semangat untuk melanjutkan hidupmu karena hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan. Tetap semangat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *