Bunga Terakhir

Desain by Aisyah Safitri

Penulis : Devi Mellani (Anggota Muda Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah)

Aku tersenyum saat menyadari bahwa besok adalah Hari Valentine. Hari dimana kita berdua selalu antusias menyambutnya. Dengan penuh semangat aku memilih baju yang akan ku pakai untuk bertemu denganmu. Aku pun turut memikirkan bunga apa yang akan menghiasi tempat pertemuan kita kali ini. Terlintas dibenakku, sepertinya mawar merah merupakan pilihan yang bagus. Seperti setangkai mawar yang kau beri tiga tahun lalu.

Aku tidak tau kenapa kamu sangat terobsesi dengan bunga, bahkan namaku adalah Lily. Hidupku selalu dipenuhi oleh warna-warni cantiknya bunga yang ada di halaman rumah. Sebenarnya aku suka, tapi ada kalanya aku merasa lelah untuk hanya sekedar memandang mereka. Mungkin karena hal itu membuatku sedih. Setiap kali aku berpikiran seperti itu, kepalaku terasa pusing tatkala aku mengingat bahwa ini adalah hal yang berharga untukku.

Pandanganku mengedar ke halaman yang ditumbuhi dengan apa yang kamu sukai itu. Lalu, sorot mata ini berhenti ketika aku melihat mawar itu sedang merekah.

“Lihat itu, dia sedang menyapa.” Ucapku kepada angin yang berhembus.

Semenjak kehilangan Ratu dihidupmu, kamu selalu menghidupkan istana ini dengan menanam hal-hal yang indah. Aku juga ingat disetiap hal yang kamu lakukan, kamu membuatku percaya bahwa aku adalah seorang tuan putri yang menunggu kesatrianya. Kamu selalu membuat hidupku seperti di dalam dongeng. Tapi tahukah kamu? Kalau sebenarnya aku tidak membutuhkan kesatria, karena aku sudah dalam perlindungan seorang Raja. Dia adala dirimu sendiri.

Tentunya kamu ingat bahwa besok adalah hari ulang tahunku. Setiap tahunnya, kamu selalu heboh untuk merayakannya. Juga tak pernah lupa bunga yang tiap tahun kau berikan untukku selalu berganti-ganti jenisnya.

“Li, kalau kamu udah gede, pasti cantik sekali seperti dia,” ucapnya sambil menyodorkan sebuket Bunga Calla-Lily.

“Masa aku dibandingkan dengan bunga, tentu saja kecantikanku akan mengalahkannya,” balasku disertai tawa. Serpihan kenangan itu bagaikan dongeng pengantar tidur tiap malamnya.

Aku memakai gaun berwarna coklat muda dan merasa cantik dibalutnya. Suasana bahagia turut aku rasakan ketika toko bunga dipenuhi oleh para pria. Tentu saja karena hari ini adalah valentine. Hari bahagiaku dan turut diisi dengan kebahagiaan juga cinta seluruh orang di dunia. Aku bergegas memilih bunga yang akan aku beri. Tadinya aku ingin memberi mawar merah, tapi aku lebih jatuh hati ketika melihat anyelir merah. Aku juga membeli bunga itu. Ya, bunga yang mengakhiri segalanya.

Harusnya ini menjadi hari yang sangat bahagia untukku. Sebagaimana yang pernah kamu bilang waktu itu, “Lily, kamu beruntung loh. Ulang tahun kamu itu sama kayak valentine, jadi semua orang ikut ngerayain ultahmu haha,” cetusmu saat itu secara tiba-tiba.

Aku bahagia, setidaknya jika kamu ada untuk ikut merayakannya. Untuk itu, aku datang kemari. Merayakannya bersamamu sembari bercerita tentang hidup. Jika aku dipinta untuk memilih ulang tahun paling berkesan, aku akan pilih tahun lalu. Dimana aku mengutuk hari bahagiaku dan orang-orang yang merasa bahagia karenanya.

Sesak. Itulah yang dapat mendeskripsikan perasaan seorang gadis yang menatap pria yang sedang terbaring lemah di ruangan serba putih ini. Sakit di dadanya karena menahan tangis yang entah sejak kapan memberontak ingin keluar.

“Li, kayaknya kita gak bisa rayain ultahmu tahun ini, maaf ya,” kata pria itu dengan suara lirih.

“Aku baik kok, nanti kalau Ayah sudah keluar dari sini kita rayakan ya, Yah,” balasnya.

“Lily putri Ayah yang cantik, Ibumu pasti bangga disana jika dia tau kamu merawat Ayah dengan baik. Kamu jadi perempuan yang kuat ya, Nak. Temukan kesatria impianmu,” pesan pria paruh baya itu kepada anaknya.

Gadis itu tidak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan ayahnya karena dia tak lagi dapat menampung air mata.

Jarum jam menunjukkan angka dua belas, menandakan hari telah berganti. Namun bagi Lily, tidak ada bedanya antara kemarin, hari ini, ataupun esok. Ternyata tanpa Ia ketahui sebentar lagi istananya akan direbut. Ia akan merasakan perbedaan antara hari ini dan esok.

Pria itu menunjuk ke arah vas bunga yang diisi dua tangkai Calla-Lily. Dengan penuh kepekaan, Lily mengambil vas tersebut dan membawanya ke arah ayahnya. Dengan lemas pria itu menerima,

“Selamat ulang tahun putri Ayah. Ayah cuma bisa kasih kamu bunga kesukaan Ibu. Li, ingat ya untuk rawat anak-anak Ayah di halaman, kalau rusak nanti Ayah dimarah Ibu. Ayah mencintaimu, Nak.”

“Hai Ayah, bahagia ya disana sama Ibu. Hidupku baik Yah, anak-anak Ayah di halaman aku rawat dengan baik. Aku bawa Bunga Anyelir Merah. Aku baca di internet itu artinya aku gak akan pernah melupakanmu,” ucap gadis yang duduk disebelah pusara milik ayahnya.

Aku membuka bungkus yang di dalamnya ada dua tangkai Calla-Lily.

“Ayah ingat, ini bunga terakhir yang Ayah beri untuk Lily. Cantik ya kayak aku.”

Satu buket Anyelir merah dan dua tangkai Calla-Lily kini menghiasi istananya. Kamu selalu beri aku bunga, kini giliranku untuk memberimu. Kamu bisa jadi teman, sahabat, seorang ibu, kamu cinta pertama dalam hidupku. Ayah, aku rindu.

Baca Juga : Senyum Untuk Hila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *