Resensi : Wanita Berkarir Surga Karya Felix Y Siaw

Google Image

Judul Buku : Wanita Berkarir Surga
Penulis : Felix Y. Siauw & Tim Dakwah @hijabalila
Penerbit : Alfatih Press
Tahun Terbit : 2017
Tebal Buku : 181 halaman

Buku ‘Wanita Berkarir Surga’ ditulis oleh Ust. Felix Y. Siauw dan tim dakwah @hijabalila. Tujuan ustadz muallaf dan rekan-rekannya itu mempersembahkan buku ini untuk seluruh kaum wanita agar mengenal potensi dan fitrah sebagai wanita yang merupakan makhluk yang mulia dan berharga.

Dalam buku yang memiliki 5 bab ini, secara keseluruhan membahas mengenai feminisme dalam pandangan Islam. Buku ini menjelaskan bahwa paham feminisme merupakan paham yang salah untuk dibenarkan. Karena wanita dan laki-laki jelas berbeda. Dan dalam buku ini dijelaskan perbedaan-perbedaan antara wanita dan laki-laki (disertai pandangan Islam) sehingga paham feminisme tidak dibenarkan.

Feminisme adalah sebuah gerakan dari kaum wanita untuk menghapuskan perilaku bias gender dan menyamaratakan antara pria dan wanita. “Jika pria boleh wanita juga boleh, jika pria bisa tentu wanita juga bisa, pria dan wanita seharusnya punya hak yang sama, maka kami butuh kesetaraan”. Paham-paham seperti inilah yang dianut oleh para kaum feminisme. Tidak terima karena pada hakikatnya laki-laki lebih di depan dibandingkan wanita.

Dalam buku ini disebutkan bahwa feminisme menuduh Islam mendiskriminasi wanita. Ada beberapa poin yang dalam hal ini pria lah yang banyak memiliki keuntungan. Diantaranya batasan aurat, rumah tangga, poligami, talaq, dan warisan.

Wanita diwajibkan menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, serta dianjurkan untuk banyak berdiam diri di rumah. Feminis sangat keberatan dengan hal ini dan dikatakan sebagai pemaksaan. Sudah banyak kita ketahui dari berbagai sumber bahwa aturan menutup aurat bagi wanita adalah suatu kewajiban dan hak tersebut mempunyai tujuan melindungi wanita sendiri salah satunya, untuk menutupi bagian-bagian tubuh wanita yang dapat mengundang syahwat laki-laki yang bukan mahramnya.

Dalam rumah tangga pria diperbolehkan untuk memukul wanita, sedangkan wanita tidak boleh memukul pria. Karena wanita harus tunduk kepada suami dala segala kondisi. Kaum feminisme juga tidak memahami arti dari poin ini. Dalam Islam pemukulan diperbolehkan, dijelaskan dalam Al-Quran surah An-Nisaa (34) yang artinya: “…dan apabila kalian (lelaki) takut akan nusyuz (ketidaktaatan atau keras kepala) mereka (istri) maka berilah nasehat kepada mereka dan lisahkanlah ranjang serta pukullah mereka, bila mereka taat kepada kalian maka janganlah mencari-cari celah untuk memukul mereka…”.

Berarti dalam hal ini, pria bukannya dapat memukul istri dengan seenaknya karena mereka diperbolehkan memukul wanita. Dalam surat an-Nisaa tersebut dianjurkan untuk memberi peringatan terlebih dahulu kepada istri dengan pisah ranjang, dan apabila hal tersebut masih terjadi maka pria boleh memukul wanita. Dan Islam juga memberi aturan bagian-bagian tubuh wanita yang tidak boleh dipukul oleh pria, yaitu pada bagian wajah.

Pria boleh menikahi lebih dari satu wanita, yaiti maksimal empat. Sedangkan wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Hal ini kembali membuat kaum feminisme merasa terdiskriminasi oleh Islam.

Dalam Islam pria yang berhak menceraikan wanita, baik hanya debgan perkataan ataupun melalui proses hukum. Dengan perkataan, yaitu ketika laki-laki sudah mebgatakan “talaq” ketiga kalinya, maka secara agama ikatan perkawinan antara suami dan istri sudah terputus. Dan lagi-lagi wanita tidak mempunyai hak untuk menggugatnya.

Pada bab yang lain, buku ini menjelaskan mengapa wanita tidak dibolehkan mengucap kata talaq dalam rumah tangga. Karena, prinsip berfikir pria dan wanita itu berbeda. Jika pria ia dapat menggunakan logika dengan lebih baik dibanding wanita, dikarenakan otak kiri pria berkembang lebih lambat dibanding otak kanannya. Sedangkan wanita, cenderung menggunakan kedua sisi otak kiri dan kanan nya.

Sehingga wanita lebih menghubungkan pikiran dan perasaannya dalam waktu bersamaan. Itulah sebab mebgapa Islam melarang wanita mengucap kata ‘talaq’ dalam rumah tangga, karena secara psikologis pria lebih stabil emosinya dibandingkan wanita. Dan alasan lain adalah karena dalam Islam kaum pria merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab pertama kali sekaligus memikul beban dalam rumah tangganya.

Poin yang terakhir yaitu warisan. Anak laki-laki mendapat bagian lebih banyak dibanding anak perempuan. Misal seorang ayah meninggalkan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Maka anak perempuan 1/3 bagian, sedangkan anak laki-laki mendapat 2/3 bagian. Ternyata aturan tersebut dibuat tidak memiliki tujuan tertentu. Tujuannya yaitu mengapa anak laki-laki mendapat bagian lebih banyak, karena ia memiliki tanggung jawab sebagai suami, yaitu istri dan anak yang harus ia hidupi. Sedangkan wanita, ia akan mendapatkan tanggung jawab dari suami.

Poin-poin yang dijelaskan diatas merupakan sedikit dari isi dalam buku ini. Masih banyak penjelasan lainnya dalam buku ini yang menjelaskan kepada pembaca bahwa paham feminisme tidak benar, dan mengajak kaum wanita untuk menjadi wanita yang semestinya di jalan Allah.SWT

Buku ini disajikan dengan mengikuti trend masa kini. Misalnya, warna halaman yang berbeda-beda dengan desain yang unik membuat pembaca tidak bosan untuk membacanya. Dengan cover putih bercorak ungu, membuat tampilan buku ini menjadi manis dan pas untuk selera wanita pada umumnya. Disertai dengan ilustrasi-ilustrasi yang sesuai dengan bahasan disetiap bab nya, menjadikan buku ini semakin menarik. Bahasa yang digunakan adalah bahasa baku namun mudah dipahami oleh pembaca. Isi bahasan dalam buku ini pun disertai dengan sumber yang sangat nyata yaitu Al-Quran dan As-Sunnah yang membuat pembaca yakin dengan apa yang dituliskan dalam buku tersebut.

Selain itu, dalam bagian akhir pada buku ini juga menceritakan beberapa kisah wanita-wanita pilihan Allah.SWT yang dimuliakan karena ketaatannya kepada Allah.SWT dan dijamin masuk ke dalam surga-Nya karena mengerjakan perintah Allah.SWT sesuai dengan fitrahnya dengan tidak menyamakan kedudukan antara kaum wanita dan pria. Mereka tetap menjalankan perintah Allah.SWT dengan caranya sebagai wanita muslimah. Mereka adalah Fatimah binti Rasulullah.SAW, Maryam ibunda Nabi Isa.As, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah istri Fir’aun.

Penulis : Annisa Dwilya Budaya (Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah UIN RF Palembang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *