Film Tanda Tanya: Bisakah Kita Menyatu dalam Perbedaan?

Sutradara           : Hanung Bramantyo
Pemeran            : Reza Rahadian, Revalina S Temat, Rio Dewanto, Agus Kuncoro,Enditha, Henky Solaiman.
Tanggal Rilis     : 7 April 2011
Durasi                : 1 jam 42 menit

Siapa yang tak mengenal Hanung Bramantyo? Seorang Sutradara yang telah menggarap banyak film dan meraih berbagai prestasi. Di Tahun 2011 Hanung berhasil menyutradarai film Tanda Tanya. Film tersebut merupakan film ke-14 dan masuk dalam sembilan nominasi di Festival Film Indonesia tahun 2011, dan meraih sinematografi Piala Citra oleh Yadi Sugandi.

Seperti judulnya yakni Tanda Tanya (?), film ini berkisah tentang pluralisme yang selalu menjadi pertanyaan bagi masyarakat khususnya lingkungan di Indonesia dengan keberagaman dan kemajemukkan masyarakatnya.

Dari film ini, timbul sebuah pertanyaan baru di antara keberagaman yakni, ‘Apakah bisa kita menyatu di tengah perbedaan yang tercipta?’. Menggunakan latar belakang di Pasar Baru, Kota Semarang pada Tahun 2010, film ini hadir sebagai gambaran keseharian mayoritas dan minoritas yang terjadi di Indonesia. Bahkan bisa menggambarkan sebuah kemunculan konflik sosial.

Film ini menggunakan latar waktu sebagai jeda antar adegan seperti hari Paskah, Idul Fitri, dan Hari Raya Natal. Tanda tanya juga menceritakan penggambaran tiga keluarga dengan konfliknya masing-masing yang meliputi latar belakang, etnis, dan agama yang berbeda. Namun, ketiga keluarga tersebut mampu hidup harmonis dan berdampingan serta dikelilingi dengan berbagai rumah ibadah, yang terdiri dari Masjid, Gereja, dan Klenteng.

Keluarga pertama meruapkan seorang Buddha dan Keturunan Cina, yaitu  Tan Kat Sun. Ia merupakan pemilik restoran Canton masakan Cina. Walau seorang minoritas, Tan Kat Sun memiliki rasa toleransi dan kesadaran yang tinggi. Ia menjual makanan yang tidak halal bagi konsumen non muslim, juga menjual masakan halal bagi konsumen muslimnya.

Warung makannya menyediakan daging  babi dan juga daging ayam, tetapi tempat untuk memotong dan memasak dipisahkan dengan tempat yang berbeda. Ia juga memberikan waktu untuk salat dan juga dalam hal memasak bagi karyawan muslimnya.

Tidak sedikit orang yang mendapat ketidakyakinan akan kehalalan masakan halalnya, tetapi Ia tetap konsisten dan menghargai para karyawan serta kepercayaan konsumen muslim lainnya. Namun, hal ini tidak sejalan dengan anaknya Ping Hen/Hendra, yang justru menjadi seorang anti muslim dan tidak mengetahui arah jalan hidupnya.

Selanjutya yaitu sosok Rika, seorang janda satu anak yang diberi nama Abi. Rika bercerai dengan suaminya lantaran ada wanita lain dalam bilik rumah tangganya. Rika memilih untuk pindah agama dari Islam menjadi seorang Kristen. Namun, hal ini bukan dilandasi oleh perpisahan mereka, terkait jalan Rika dalam memutuskan untuk pindah agama Kristen Katolik.

Walau menjadi seorang Kristen, Rika tetap mengajarkan iman Islam kepada Abi, bahkan mampu mendatangkan kembali orangtuanya kerumahnya dalam syukuran khatam Al-Quran putra sematawayangnya.

Sosok Rika dikisahkan secara tersirat menjalin hubungan dengan Surya,  seorang pemuda muslim yang selalu berperan sebagai figuran dan pada akhirnya ditawarkan serta bersedia memerankan tokoh Yesus yang disiksa dan disalib saat drama Paskah, serta sebagai Yosef, suami Maria ibu Yesus dalam drama Natal.

Di sisi lain, Menuk merupakan seorang pramusaji yang bekerja di Restoran Canton masakan Cina. Perempuan yang beragama Islam dan memiliki rasa toleransi tinggi ini adalah salah satu anak buahnya Tan Kat Sun yang berhijab, Menuk sendiri pernah menjalin kisah asmara dengan Ping Hen lelaki yang beragama Budha dan anak dari Tan Kat Sun.

Konflik yang pertama kali terjadi adalah saat Tan Kat Sun jatuh sakit di usianya ke-70an, restorannya diambil alih oleh Ping Hen, perlahan Ping Hen mengubah kebijakan baru yakni membuka restoran tanpa tirai saat di Bulan Ramadhan, melarang pegawainya untuk salat, bahkan menyediakan daging babi dan mengasingkan pelanggan muslimnya saat di Bulan Ramadhan.

Hingga menuju Idul Fitri, pegawai di restoran ayahnya pun hanya diberi libur satu hari. Padahal jatah libur mereka hingga 5 hari yang telah ditetukan, mengingat saat Idul Fitri masyarakat lebih memilih untuk makan di luar, pikir Ping Hen.

Berbeda dengan keluarga Menuk, Soleh yang miskin justru menyuruh Menuk untuk menceraikannya, karena Ia merasa tidak mampu menafkahi sang istri. Namun, pada suatu kesempatan saat salat subuh, Soleh memutuskan untuk menjadi anggota Banser NU.

Pada awalnya Soleh merasa kaffah dan enggan untuk melindungi jamaat serta keamanan di gereja, namun di akhir cerita, justru Soleh menjadi pahlawan dalam mengantisipasi ledakan bom yang menjadi usut terorisme dalam memecah belah umat. Soleh pun tewas bersama ledakan bom yang dilarikannya.

Di keluarga Rika, Ia mendapatkan perkara terkait pengucilan dari tetangga, orang tua, bahkan anaknya sendiri. Abi yang merasa bahwa Ibunya telah berubah memilih untuk berdiam diri dan menjauhinya, lantaran Ibunya terlambat untuk menjemput Abi sepulang dari pengajian seperti biasanya.

Dalam penyampaian yang disuguhkan film ini ialah, penggambaran dari lingkungan kita sendiri, Indonesia tentunya memiliki ragam suku, ras, budaya, etnis, bahasa, dan agama. Bukanlah hal yang mudah dalam mewujudkan suatu kesatuan, namun dengan adanya perbedaan, toleransi itu bisa terbentuk. Melalui perbedaan bukanlah jalan perpecahan, justru harus saling menghargai dan menjaga hubungan antar umat manusia. 

Konflik yang dibuat pun bukan serta merta hanya sebagai pemanis dalam sebuah alur, namun penuh dengan moral value atau pesan moral yang disampaikan. Salah satunya melalui kutipan dari film ini yaitu “Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda. Namun, menuju ke arah yang sama. Mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan.”

Hal ini tentunya menjadi gambaran, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa berdiri tanpa bantuan orang lain, selain membangun hubungan transdental terhadap Tuhan, namun, manusia juga harus menjalin hubungan secara horizontal terhadap manusia lainnya.

Dari segi framing dan sinematografi, film ini sudah menghadirkan adegan yang out of the box, tidak menyudutkan satu pihak, tidak menggurui dan membenarkan satu golongan. Penuh dengan pesan moral terkait toleransi yang sesungguhnya, bagaimana minoritas menghargai mayoritas, maupun sebaliknya, karena bagi Saya tiap rekam adegan jelas menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia dalam menganut agamanya masing-masing, harmonis dalam perbedaan, serta menghargai dalam kemajemukkan.

Reporter: Nur Khotimah
Editor: Melati Arsika
Sumber foto: Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *