Film Cafarnaum: Anak Yang Menuntut Orang Tuanya Karena Dilahirkan

google image

Judul : Cafarnaum
Sutradara : Nadine Labaki
Produser : Michel Merkt & Khaled Mouzanar
Durasi : 123 Menit

Film drama Lebanon ini digarap oleh sutradara Nadine Labaki yang tayang perdana pada tahun 2018 di segmen Palme d’Or dalam Festival Film Cannes sukses menyayat hati para penontonnya.

Film ini bahkan memenangkan penghargaan Cannes Jury Prize dalam tayangan perdananya, dan menerima berbagai penghargaan lainnya setelah dirilis dan ditayangkan secara global diseluruh dunia.

Film yang berlatar kota Beirut ini mengambil konsep kehidupan anak-anak dan keluarga yang tinggal di lingkungan kumuh, dengan segala penderitaan dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup.

Film diawali dengan Zain al-Hajj, sebagai pemeran utama yang diperankan oleh Zain al-Rafeea yang berada di suatu persidangan yang kemudian diketahui bahwa persidangan tersebut merupakan persidangan antara Zain dan kedua orang tuanya.

Zain yang bertindak sebagai penuntut, menuntut kedua orang tuanya karena telah melahirkannya kedunia yang penuh rasa sakit dan penderitaan.

Kemudian film berlanjut dengan kilas balik kehidupan Zain sebelum persidangan terjadi. Zain merupakan anak laki-laki yang berusia sekitar 12 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua dan tujuh orang adiknya yang usianya berdekatan, ia juga memiliki seorang kakak laki-laki yang berada di penjara.

Mereka tinggal di sebuah rumah susun kumuh yang jauh dari kata layak untuk ditinggali. Zain yang merupakan anak tertua di keluarganya dituntut untuk membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sebuah toko dan menjual jus buah bersama adik-adiknya.

Kondisi ini merupakan ironi nyata yang harus ditanggung anak seusianya. Bukannya menikmati kehidupan bermain dan bersekolah, Zain justru harus dihantui dengan kehidupan kerja yang berat, kelaparan, serta kekurangan kasih sayang dan kehangatan keluarga.

Berbagai kesulitan dan penderitaan di dunia satu persatu mulai terbiasa Zain rasakan setiap harinya. Hingga suatu saat Zain dihadapkan pada permasalahan yang melibatkan adiknya, Sahar yang berusia 11 tahun.

Sahar dinikahkan secara paksa oleh orang tuanya dengan seorang pria yang usianya jauh diatas Sahar dan merupakan pemilik toko tempat Zain dan kedua orang tuanya bekerja.

Film berlanjut dengan perjuangan Zain yang berusaha bertahan hidup di jalanan setelah memutuskan untuk pergi dari rumah. Mulai dari menahan lapar, mencari pekerjaan, dan menahan hawa dingin yang menusuk kulitnya.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Rahil, seorang wanita Ethiopia yang juga berjuang untuk hidupnya di Beirut. Rahil berbaik hati memberi Zain tempat tinggal dan makanan sebagai imbalan karena Zain menjaga Yonas, anak Rahil saat ia bekerja.

Namun penderitaan Zain tidak berhenti sampai disitu, ia terus dibayang-bayangi dengan kenangannya bersama Sahar. Penderitaannya pun semakin bertambah ketika Rahil menghilang tanpa kabar meningalkan dirinya dan Yonas.

Segala upaya untuk bertahan hidup Zain lakukan bersama Yonas. Meski akhirnya karena sudah tidak sanggup Zain memilih berpisah dan meninggalkan Yonas.

Tidak sampai disitu derita lagi-lagi dirasakan Zain saat kembali kerumahnya, penderitaan yang telah lama ia duga dan takutkan akan terjadi. Hingga penderitaan tersebut membawanya mendekam di bui.

Hal itu menjadi puncak kekecewaan Zain terhadap kedua orang tuanya, sekaligus menjadi alasan kuat untuk menuntut orang tuanya atas kehidupan penuh penderitaan yang telah mereka berikan.

Namun, tak disangka keputusan Zain untuk menuntut orang tuanya inilah yang menjadi awal kehidupan baru untuk Zain.

Film ini terinspirasi dari kehidupan pengungsi Suriah yang berada di Lebanon. Menurut saya pribadi sangat-sangat berhasil menciptakan emosi yang amat sangat mendalam.

Persoalan kehidupan yang disampaikan dalam film ini pun sangat relevan dan sebenarnya sudah banyak terjadi dikehidupan kita. Film ini menunjukkan sudut pandang persoalan dan penderitaan anak-anak yang diakibatkan oleh kelalaian dan keegoisan orang dewasa.

Film juga amat sangat luar biasa menyuguhkan adegan-adegan yang berhasil mengaduk-aduk perasaan penontonnya. Mulai dari kesal, marah, haru, sedih, dan bahagia membaur menjadi satu saat menonton film ini.

Hanya saja dalam film ini ada beberapa adegan dan dialog yang cukup kontroversial yang seharusnya tidak dilakukan oleh pemeran yang notabene masih anak-anak. Sehingga pengawasan dan bimbingan orang tua serta batasan usia untuk film ini harus dipatuhi agar tidak berdampak buruk.

Penulis: Febio Siti Karina
Editor: Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *