Resensi Buku “Cahaya Cinta Pesantren”

Sumber: Google

Judul Buku: Cahaya Cinta Pesantren
Penulis: Ira Madan
Penerbit: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Tahun Terbit : 2014
Kota Terbit: Solo
Tebal Buku: 292 Halaman

Mungkin beberapa orang sudah tidak asing lagi mendengar kata “Cahaya Cinta Pesantren”. Ya, novel yang ditulis oleh perempuan bernama Ira Madan itu sempat laris di pasaran dan bahkan telah diangkat di layar kaca pada Desember tahun 2016 lalu oleh Raymond Handaya.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Marshila Silalahi yang berasal dari Medan. Seorang perempuan cerdas yang dipaksa ibunya untuk masuk ke Pondok Pesantren Al-Amanah yang harus ia turuti karena orang tuanya tidak sanggup untuk menyekolahkan Shila ke SMA Swasta.

Shila seperti kebanyakan santri pada umumnya yang tidak suka di Pesantren. Hal tersebut pun mengantarkannya kepada teman-teman barunya di Pesantren tersebut, mereka adalah Aisyah, Icut, dan Manda. Mereka ber-empat harus bisa beradaptasi di dunia Pesantren yang penuh dengan aturan dan kedisplinan yang tinggi.

Namun, di sisi lain di Pesantren Al-Amanah, ada sesosok Santriwan yang menyukainya, namanya Adalah Abu Bakar yang sangat sering mengirimkan Shila surat yang tidak pernah ia baca, karena Shila hanya ingin bersahabatan dengannya. Hatinya hanya terpaut pada satu ustadz di Pondoknya, dia adalah Ustadz Rifqie.

Tak lama beberapa waktu kemudian membuat Shila dan para sahabatnya telah beradaptasi di Pondok Pesantren ini. Hal ini membuat Shila pun mendapatkan amanah dari Pondoknya ke Jepang untuk persiapan belajar ke luar negeri, ini merupakan hal yang sangat luar biasa baginya, namun karena hal ini juga dirinya sempat berkelahi dengan sahabatnya, Icut karena dirinya menjabat sebagai Ketua bagian Redaksi Komunikasi dan Informasi di Organisasi Pondok tersebut.

Singkat cerita, saat beberapa tahun setelah lulus dari Pondik Pesantren Al-Amanah dan lulus dari Universitas Negeri di Jepang, Shila ternyata dilamar oleh Ustadz yang ia sukai pada saat menjadi Santri dulu, yaitu Ustadz Rifqie. Mereka pun memutuskan untuk menikah.

Namun, sebuah mimpi buruk pun terjadi kepada Shila. Ia mengalami penyakit kanker otak yang baru ia ketahui, padahal gejalanya sudah terlihat waktu ia masih menjadi Santri, Shila sering pingsan karena sakit kepala yang hebat. Dokter pun menyuruh Shila untuk operasi.

Namun, sebelum operasi ia memberikan pesan kepada sahabatnya, Manda. Ia ingin Manda menikahi Ustadz Rifqie jika ia tidak diizinkan Tuhan untuk hidup lagi. Pada saat itu Manda baru saja mendapatkan musibah orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Shila rasa Manda lah orang yang tepat bersama Ustadz Rifqie dan akan menjaga anaknya nanti kelak.

Novel ini dikemas dengan sangat rapi. Alur ceritanya yang ringan, membuat para pembaca novel ini pun mudah memahami alur ceritanya. Selain itu, banyak sekali pesan yang bisa kita ambil di dalam cerita ini, salah satunya adalah *Kalau kita mencintai sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati”.

Alur cerita yang ringan dan mudah dipahami, membuat para pembaca novel ini pun dapat dengan mudah menebak-nebak akhir alur ceritanya, hal ini membuat pembaca pun merasa mudah bosan.

Penulis : Aisyah Safitri (Anggota Muda LPM Ukhuwah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *