PILONG

Sumber : Pinterest

Semburat cahaya mentari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden kuning, seolah menari-nari diiringi hembusan nafas kipas angin.

Membiaskan cahayanya tepat ke wajah sang gadis remaja yang tengah terlelap.
“Emmmm…,” lenguhnya sembari mengerjapkan matanya, beberapa kali berusaha membiasakan cahaya yang masuk ke pupilnya.

“Lian bangun!!!,” teriak sang Ibu yang tengah sibuk berada di bawah mempersiapkan segala kebutuhan keluarga kecilnya di pagi hari.

Lian yang mendengarnya tak memberikan respon apapun, dia tetap berada diatas kasurnya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Lian menamakan kegiatan ini sebagai ritual pengumpulan nyawa.

Setelah dirasa semua nyawa dari setiap bagian tubuhnya sudah kembali ke tempatnya masing-masing, Lian beranjak dari kasurnya menuju ke kamar mandi dengan langkah yang gontai, beruntung ia sudah sangat hafal setiap inci bagian rumahnya. Bahkan dengan tidak melihat pun ia dengan mulus tiba dari kamarnya yang berada dilantai atas ke kamar mandi bawah.

“Lian cepat berkemas nanti kamu terlambat sekolah!!!,” Lagi-lagi sang Ibu meneriaki Lian
“Iya bu iya,” sahut Lian yang tengah menjalani ritual pertapaan di kamar mandi.

Selang beberapa menit Lian keluar dari goa pertapaannya, disambut kecupan hangat di dahinya yang jelas dia tahu itu dari sang Ayah. Tradisi setiap pagi yang menggambarkan betapa sempurnanya keluarga Lian.

Ibu yang terus berteriak dan mengomel di pagi hari, dan ayah yang setiap pagi memberinya kecupan hangat kepada Lian dan Ibunya.

Dentingan suara sendok yang beradu dengan piring membuat kegaduhan ringan di ruang makan keluarga Lian. Obrolan-obrolan ringan antara orang tua dan anak menambah atmosfir yang sangat hangat dalam keluarga Lian. Sayang, Lian tak dapat melihat betapa indah pemandangan keluarga sempurna ini. Dia hanya bisa mengimajinasikan dalam pikirannya, sebelum merasakan atmosfirnya.

Dia rindu dengan senyum hangat sang Ayah, dia rindu dengan pandangan penuh arti sang Ibu. Sayang, mata Lian tak mampu lagi melihat semuanya. Matanya kini dipenuhi kegelapan, kesuraman dan ketakutan. Andai insiden itu tak terjadi, mungkin hingga detik ini mata Lian masih bisa melihat apa yang diimajinasikan pikirannya saat ini.

“Lian, bagaimana dengan rencana universitas kamu? Sudah menentukan jurusan apa yang akan kamu ambil nak?,” Tanya sang ayah sembari menatap Lian
“Belum, emm mungkin tidak,” jawab Lian membingungkan.

“Maksud kamu apa?,” giliran sang ibu yang bertanya.

“Entahlah, aku terlalu bingung, rasanya baru kemarin aku merasa bingung memilih jurusan karena terlalu banyak impian yang kudambakan. Tapi seketika semua impian itu hilang begitu saja tanpa sebab dan terasa mustahil untuk direalisasikan.,” Jawab Lian bergetar menahan tangis.

Kedua orang tua Lian membisu mendengar jawaban Lian. Lian memang gadis dengan sejuta impian, dan cita-cita. Jika hari ini dia ingin menjadi seorang penulis, besok mungkin dia ingin menjadi aktris, mimpinya kian hari kian bertambah.

Tapi semua hilang begitu saja setelah dia tak dapat lagi melihat alasan dari setiap mimpinya. Alasan terkuat itu hilang begitu saja, pergi tanpa aba-aba membawa semua kebahagian dan mimpi Lian.

“Maafin Ibu sama Ayah Lian…,” bibir sang ibu bergetar dan matanya berkaca. Dia tahu tak seharusnya Lian merasakan semua ini, tak seharusnya Lian mejadi korban. Tapi semua terlambat disadari, ego dan amarah telah menghancurkan semuanya.

Tanpa sadar, air mata mengalir dari pelupuk mata Lian, membasahi bantal yang sedari tadi belum dia tinggalkan. Hatinya sesak, nafasnya seolah tersendak setiap kali ia berusaha mengimajinasikan kebahagian yang lama ia rindukan, akhirnya selalu sama. Akhirnya selalu menyadarkan dirinya, bahwa dia selamanya tidak akan bisa melihat dan merasakan kehangatan keluarga bahagia lagi. Semua telah berakhir bagi Lian dan keluarganya.

Lian menghentikan aktifitas mengkhayalnya, ia segera beranjak turun menuju kamar mandi, tanpa teriakan sang ibu, tanpa kecupan sang ayah dan tanpa kehangatan keluarga lagi. Semua sudah berbeda. Kini Lian hanya ditemani sepi dan sunyi, semua atmosfir kehangatan keluarga Lian telah sirnah, tak ada lagi yang tersisa untuk dirasakan.

Andai bisa hidup dalam imajinasinya, rasanya tak apa tak dapat melihat, setidaknya dapat merasakan kehangatannya kembali. Tapi nyatanya Tuhan lebih ingin Lian membuka mata dan melihat kenyataan bukan imajinasi.

Penulis : Febio Putri Karina (Anggota Muda LPM Ukhuwah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *