Toxic Masculinity, Bersedih dan Menangis Bukan Berarti Lemah

Seorang pria sedang mengangkat barang bawaannya di pundak sambil berjalan dan menatap lurus kedepan. Ukhuwahfoto/M. Aidil Ikhsan.

Oleh: Muhammad Aidil Ikhsan (Penggurus LPM Ukhuwah)

Berbicara tentang kesetaraan gender, di Indonesia hal ini masih belum dapat kita rasakan sepenuhnya, hal tersebut tidak hanya terjadi di kalangan wanita. Namun, juga dirasakan kalangan pria atau lebih dikenal dengan toxic masculinity. Toxic masculinity merupakan deskripsi sempit tentang kejantanan seorang pria yang tumbuh dimata masyarakat.

Sebelum membahas toxic masculinity lebih lanjut, perlu dipahami bahwa maskulinitas memiliki makna kejantanan atau perilaku anak laki-laki dan pria dewasa. Istilah toxic masculinity ini pula berawal dari seorang psikolog bernama Sphepherd Bliss pada tahun 1990.

Istilah ini digunakan Bliss untuk memisahkan nilai positif dan negatif dari laki-laki. Dari hasil penelitiannya, ada banyak dampak negatif dari maskulinitas yang dapat memicu masalah psikologis dan sosial di kehidupan seorang pria.

Sejak kecil seringkali kita mendengar kalimat-kalimat cemoohan terhadap anak laki-laki yang menangis. Contohnya seperti, “hei kamu cowok kok nangis, anak cowok ga boleh cengeng.” Banyak orang mengatakan bahwa pria itu harus kuat bahkan tak jarang kita mendengar sebutan seperti banci, baperan, cengeng dan sebagainya saat seorang pria memilih mengungkapkan perasaannya.

Sebagian masyarakat seringkali menstandarisasikan kejantanan atau maskulinitas seorang pria dalam lingkup yang terlalu sempit. Banyak sifat dan perilaku yang dianggap harus dimiliki oleh pria dan telah terpatri begitu dalam dikalangan masyarakat.

Stigma negatif yang mengekang kebebasan seperti seorang pria tidak boleh menangis, tidak boleh terlihat lemah, harus pandai berolahraga dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan dapur adalah hal yang bisa menjadi toxic untuk diri sendiri. Konsep maskulinitas seperti ini bisa jadi terus ada karena kebudayaan dan tradisi yang berkembang dimasyarakat.

Tentu, stigma seperti tadi sangat berdampak pada kesehatan mental serta berpengaruh kepada kemampuan pria tersebut. Kenapa bisa berpengaruh? Karena, terlalu sering mendengar kalimat toxic membuat pria cenderung kesulitan mengekspresikan emosi dan merasa akan dinilai ini itu oleh orang lain.

Mereka lebih suka menyembunyikan rasa sedih dan menangis, yang dianggap sebagai karakteristik feminim dan hanya boleh dimiliki kaum wanita. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan pria, seperti seorang pria yang pandai memasak atau memiliki kemampuan merias. Justru lebih memilih menyembunyikan kemampuan ini untuk menghindari cemoohan tentang maskulinitas dari orang lain.

Survei dari World Health Organization (WHO), mengatakan bahwa rata-rata usia harapan hidup pria di dunia adalah 69 tahun, lebih rendah dari wanita yang mencapai angka 74 tahun. Dari survei tersebut, tanpa kita sadari penyebab utamanya adalah pandangan masyarakat yang terlalu melebih-lebihkan bahwa seorang pria harus lebih tangguh, kuat dan terlihat dewasa baik dalam perilaku maupun sifatnya.

Bahkan American Psychological Association (APA), menjelaskan bahwa laki-laki memiliki persentase bunuh diri yang lebih besar dibandingkan perempuan. Walaupun persentase depresi yang dialami perempuan lebih besar. Hal ini menunjukan bahwa banyak dari kita yang luput akan pengamatan mengenai depresi dan kesehatan mental yang juga sering diterima oleh kaum pria.

Meski stigma negatif seperti tadi sudah begitu membudaya dikalangan masyarakat. Kita sebagai generasi muda harus tetap berusaha menghentikan dan mematahkan pemikiran sempit tentang maskulinitas pria.

Karena, kita adalah generasi yang mempunyai andil besar dalam mengedukasi masyarakat bahwa bersedih dan menangis bukan berarti kita lemah. Banyak sekali alasan mengapa menangis menjadi hal wajar, salah satunya adalah mengekspresikan emosional. Dengan menangis, ini jauh lebih baik dari pada melampiaskan pada kekerasan.

Sebab cara yang mudah dan sehat untuk mengatasi kesedihan adalah dengan menangis. Tanpa kita sadari menangis adalah bahasa pertama yang diucapkan manusia saat pertama kali terlahir ke dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *