Teknologi Memakan Budaya Interaktif Kaum Muda

Sumber : Kompas.com

Penulis : Wisnu Akbar Prabowo (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak dapat dihindari dalam kehidupan saat ini. Banyak inovasi baru yang bermunculan guna memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Selain memudahkan pekerjaan manusia, teknologi juga berperan penting dalam aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa dekade terakhir, sudah banyak inovasi di bidang IPTEK yang masih terus berkembang sampai sekarang.

Perkembangan teknologi yang terbilang cukup cepat dewasa ini telah mengusung banyak perubahan bagi manusia, terkhusus mereka yang melek akan teknologi, tak terkecuali warga negara Indonesia. Hampir sebagian besar masyarakat millenial sudah merasakan indahnya hidup bersama gawai pintar.

Seolah mampu menggeser kemampuan manusia, gawai pintar yang biasa digenggam oleh tangan menghadirkan berbagai macam fitur yang mendukung aktivitas sehari-hari manusia, seperti perpesanan instan, jejaring sosial, hingga platform bermain bersama. Terobosan teknologi ini sangat berpengaruh bagi budaya dan peradaban manusia.

Bukan hanya satu bidang saja yang mengalami perkembangan, akan tetapi hampir seluruh bidang IPTEK telah mengalami kemajuan dan kompleksitas meningkat. Terobosan-terobosan tersebut telah mengubah secara mendasar cara-cara hidup manusia yang awalnya primitif dan mengandalkan tenaga kasar menjadi ketergantungan terhadap teknologi serta mengutamakan pemikiran yang kreatif. Perubahan dasar hidup yang membudaya mengakibatkan perubahan juga terhadap kebiasaan manusia, mulai dari hal yang sederhana hingga kompleks seluruhnya mengalami revolusi.

Hal tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan. Positifnya, kehidupan manusia dapat berjalan menjadi lebih mudah oleh kemajuan teknologi. Dalam konteks budaya berkomunikasi, pengaplikasian media sosial seperti Whatsapp, Instagram, dan sebagainya mengubah pola komunikasi yang terjadi. Awalnya, berkomunikasi secara langsung hanya bisa dilakukan dalam jarak dekat. Dengan adanya media-media tersebut mempermudah berkomunikasi antar sesama manusia dan menggantikan peran surat dan pos yang mulai tertinggal zaman. Inovasi dalam teknologi komunikasi mampu mengubah kebiasaan dan akhirnya menjadi ketergantungan.

Tak hanya membawa dampak positif, kemajuan teknologi komunikasi juga memberikan hasil yang buruk terhadap kebiasaan dan ketergantungan tersebut. Penggunaan kata-kata umpatan semakin marak di kalangan remaja. Ketika awalnya di dunia nyata jarang terdengar dengan jelas penggunaan kata-kata tersebut, hanya sebatas faktor emosi yang mendasari penggunaannya. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar remaja sering menggunakan kata-kata umpatan sebagai bahasa yang digunakan sehari-hari. Perilaku yang awalnya tabu lama kelamaan menjadi kebiasaan, dan akhirnya membentuk budaya baru bahwa seorang remaja lazim menggunakan kata-kata umpatan.

Contoh lain perkembangan teknologi yang memakan budaya klasik adalah game online. Hampir segala kalangan tentu pernah sekali memainkan gim-gim berbasis online, tak terkecuali kalangan dewasa. Bahkan, pamor game online sudah merebak ke kaum muda dan anak-anak.

Pada mulanya, untuk memainkan sebuah permainan, anak-anak dan kaum muda harus bertemu satu sama lain untuk memeroleh keseruan bersama; bermain bola, kelereng, lego, dan permainan tradisional lainnya. Mereka menjadi kenal dengan tetangga satu sama lain karena seringkali bertemu, walau hanya sebatas sapaan, dan akhirnya membentuk ikatan yang erat etika antara satu individu dengan individu lainnya.

Kehadiran gim online mengubah budaya di atas. Anak-anak dan remaja yang kecanduan gim online sudah mulai melupakan permainan-permainan tradisional dan membatasi ruang interaksi mereka. Kaum muda menjadi jarang bertemu dengan tetangga, menjadikan mereka hanya kenal sebatas nama saja, tanpa sapa, tanpa ada ikatan yang erat.

Sehingga tidak terbentuk budaya akrab antaranggota masyarakat. Hal itu mengubah budaya masyarakat, khususnya kaum muda dari interaktif menjadi masyarakat cuek yang tidak peduli dengan orang-orang sekitar. Mereka dapat bersenang-senang dengan orang yang tak dikenal, namun lupa dengan saudara sekitar sendiri. Slogan “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” dirasa tepat untuk menggambarkan fenomena ini.

Ditinjau dari penjelasan di atas, teknologi selain memberikan kemudahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari antarindividu juga membawa dampak buruk bagi seseorang yang candu dan haus dalam menggunakan teknologi. Oleh karena itu, perlu manajemen waktu yang tepat untuk berinteraksi dengan teknologi dan lingkungan sekitar.

Peran masyarakat dan anggota keluarga juga dapat berpengaruh pada perkembangan interaksi anak muda. Jika manajemen yang dilakukan terjadi dengan baik, maka kaum muda tidak akan terjebak dalam ketergantungan terhadap teknologi dan mengurangi ketergantungan akan adanya teknologi yang baru. Tak hanya kaum muda, siapapun bisa memanfaatkan teknologi dengan baik tanpa membawa dampak buruk yang memengaruhi interaksi antarsesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *