Salim, Kebiasaan yang Mulai Punah

Sumber : Google Image

Penulis : Annisa Dwilya Budaya (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak tradisi dan budaya. Salah satunya budaya mencium tangan orang yang lebih tua, atau yang sering disebut salim. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salim berarti sehat, sempurna dan tidak merusak. Entah mengapa kata salim ini berbeda makna dalam penggunaan sehari-hari yang berarti bersalaman sambil mencium tangan.

Namun, jika dilihat dalam bahasa Jawa yang memiliki beberapa kata dalam pemakaiannya “disangatkan” contohnya abang (merah) menjadi abing (sangat merah, merah sekali, merah banget). Dalam hal ini, dapat kita pahami bahwa penggantian kata tersebut berarti kata itu memiliki makna yang ‘lebih’ dari kata sebelumnya. Dengan demikian, dapat kita simpulkan salim merupakan berjabat tangan sambil mencium tangan.

Budaya salim sendiri merupakan kebiasaan yang sudah ada sejak zaman dahulu sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan terhadap orang yang lebih tua. Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua seperti orang tua, kakek-nenek, kakak, guru dan lainnya.

Contohnya, ketika anak hendak pergi ke sekolah, siswa bertemu dengan guru, tamu berkunjung ke rumah, dan lainnya. Dalam hal ini, dapat dikatakan salim merupakan kegiatan untuk menyapa sekaligus mencium tangan orang (lebih tua) yang kita temui.

Di sisi lain, sekarang ini budaya salim sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. Rasa hormat dan santun anak-anak zaman sekarang tidak sebaik rasa hormat pada anak-anak zaman dahulu. Tentunya hal tersebut dikarenakan era globalisasi yang semakin berkembang dan gaya hidup masyarakat yang berubah-ubah mengikuti zaman, ditambah lagi kehidupan sosial dengan pergaulan modern yang dapat membuat pola pikir anak berubah-ubah.

Dilansir dari media detiknews, dengan judul berita Balada Guru Honorer Gresik: Gaji Rendah, Siswa Bertingkah, menyebutkan seorang murid bertindak tidak terpuji terhadap gurunya yang menantang hingga memukul sang guru.

Dari berita tersebut sangat jelas, bahwa rasa hormat si murid terhadap sang guru sudah hilang. Bisa-bisanya guru yang mendidik dan memberikan ilmunya kepada para murid, tetapi mereka justru mendapat perlakuan yang tidak seharusnya mereka terima.

Dari berita tersebut sudah jelas yang dilakukan murid terhadap sang guru merupakan hal yang salah. Dalam hal ini sang murid sudah hilang rasa hormatnya dalam dua hal, pertama rasa hormat terhadap seorang guru dan kedua rasa hormat terhadap orang tua.

Dalam kasus lain, dari data cnnindonesia dengan judul berita Kronologi Siswa Aniaya Guru Hingga Tewas di Sampang. Berita tersebut menyebutkan bahwa seorang guru mendapat pukulan dari muridnya hingga tewas, yang saat itu ia tegur ketika kegiatan belajar sedang berlangsung.

Sama halnya seperti contoh kasus sebelumnya, tindakan tersebut merupakan hal yang sangat tidak wajar dan tidak masuk akal untuk dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya. Ditambah lagi sang guru setelahnya sampai tidak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal. Padahal, tindakan guru tersebut adalah teguran untuk muridnya itu karena melakukan kesalahan saat jam pelajaran berlangsung.

Dikutip dari Nuonline, menurut ulama Mazhab Syafi’i, cium tangan saat bersalaman hukumnya sunnah. Imam Al-Qazwini menulis yang artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemlik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, atau kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunnahkan.” Itu artinya seorang guru yang telah memberikan ilmu kepada kita, sudah seharusnya kita muliakan.

Dari berita di atas, dapat kita lihat bahwa norma kesopanan terhadap orang tua sudah punah dimiliki anak-anak zaman sekarang. Sopan santun seharusnya dilakukan dimana, kapan, dengan siapa dan dalam kondisi apapun. Meski kita pejabat atau orang yang memiliki wewenang lebih dari orang lain, bukan berarti kita dapat semena-mena dengan orang lain, sopan santun harus kita tanamkan dalam diri dengan siapa pun terlebih lagi dengan orang yang lebih tua.

Problematika di atas tentunya harus kita perbaiki, apalagi kita hidup di zaman yang terus berkembang. Tentunya sopan santun tetap harus kita tanamkan dalam keberlangsungan hidup di era globalisasi yang kian berkembang. Dalam hal ini, orang tua sangat berperan penting dalam membentuk sikap sopan santun terhadap anak.

Menanamkan sopan santun terhadap anak sebaiknya dilakukan dari anak usia dini. Untuk menumbuhkan sopan santun tersebut orang tua harus menjadi contoh dengan menunjukkan bagaimana sikap yang baik. Ketika di rumah, sebaiknya orang tua mengajak dan mengajarkan anak sikap etika dan sopan santun salah satunya salim dengan orang tua ketika hendak berpergian.

Untuk para orang tua, jadilah pengingat yang baik bagi anak. Jika mereka melakukan suatu kesalahan, segera koreksi anak agar tidak terulang kembali kesalahan yang sama. Dan jangan lupakan seni peran dalam mengajarkan sopan santun kepada anak agar lebih mudah dimengerti.

Terlepas dari kebiasaan salim dengan orang yang lebih tua yang harus kita tanamkan, dengan kebiasaan tersebut kita juga akan mendapatkan impact terhadap diri kita. Salah satunya orang akan ikut menghormati dan menghargai kita dengan melihat sikap kita yang santun. Bahkan lebih dari itu, tidak menutup kemungkinan orang juga akan memuliakan kita karena sikap santun dan citra baik yang kita perlihatkan.

Dilansir media sumeks.co, dengan judul berita Kagumi Bocah Hafiz Quran, Syekh Ali Jaber Selalu Cium Tangan Naja. Dalam berita tersebut dituliskan bahwa Syekh Ali Jaber selalu mencium tangan Naja, hafiz quran asal Mataram, Nusa Tenggara Barat ketika bertemu.

Berita tersebut menunjukkan bahwa, budaya salim tidak hanya berlaku untuk orang yang lebih tua, bisa saja orang yang lebih tua menyalimi orang yang muda dengan didasari sikap dan kelebihan yang dimiliki orang tersebut. Seperti berita di atas, Syekh Ali Jaber mencium tangan sang hafiz quran Naja, karena bocah dengan kondisi lumpuh otak tersebut dapat menghafal quran sebanyak 30 juz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *