Putus Rantai Penyebaran Corona, Perlu Dukungan Masyarakat

sumber : google image

Sampah selalu saja menjadi permasalahan dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan sehari-hari manusia selalu saja berujung menjadi sampah. Apalagi masyarakat di kota-kota besar seperti kota Palembang.

Pandemi covid-19 yang datang dalam kehidupan masyarakat saat ini merupakan masalah yang belum terselesaikan karena pandemi tak kunjung usai. Disamping itu, pandemi covid-19 ini menciptakan masalah baru terkait sampah, yaitu sampah masker medis. Sampah yang menumpuk masih tak kunjung surut. Namun, sekarang sudah hadir sumber sampah yang lain, terlebih sampah ini mempunyai banyak resiko apabila tidak diolah secara benar.

Dilansir dari idntimes.com, Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah sampah yang dihasilkan pada tahun 2020 di 384 kota di Indonesia dapat mencapai 80.235,87 ton/hari. Jika dikalikan satu bulan atau tiga puluh hari sampah di Indonesia mencapai 2.407.076,1 ton. Bagaimana jika satu tahun? Tentu saja angka tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.

Dari data kompas.com disebutkan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta telah menangani 1.213 kilogram limbah masker sekali pakai dari rumah tangga. Jumlah tersebut dihimpun dari data limbah yang menular pada periode April – Desember 2020.

Dengan hal ini kita mengetahui bahwa pandemi Covid-19 tidak hanya berbahaya bagi kesehatan tapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Seringkali kita menemukan sampah masker medis di jalanan atau tempat umum lainnya, baik dalam bentuk utuh ataupun rusak. Sampah masker medis ini juga terbilang merepotkan. Mengapa? Karena jenis sampah ini tidak dapat terurai dengan tanah. Tentu saja hal ini sangat meresahkan bagi masyarakat.

Tidak sampai disitu, selain lingkungan yang tercemar, sampah masker medis juga menyusahkan bagi yang menemukannya. Karena kita tidak tahu terdapat virus apa saja yang berada pada masker tersebut.

Seperti yang terjadi di kota Palembang, sampah masker sekali pakai dapat dengan mudahnya ditemukan pada setiap tempat. Di jalanan, di selokan, di taman bahkan di dalam ruangan pun terkadang dengan mudah kita jumpai. Hal ini mencerminkan bahwa semakin pudar kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Dan mirisnya, problem tersebut terjadi di tengah pandemi seperti saat ini.

Pandemi covid-19 ternyata tidak membuat masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan. Hal itu seolah tidak mengubah budaya hidup sehat pada masyarakat. Membuang sampah sembarangan seakan sudah menjadi budaya. Saat ini, sampah-sampah tersebut semakin bertambah dengan adanya sampah masker medis dimana-mana.

Semakin meningkatnya angka kasus positif Corona tidak membuat masyarakat menjadi waspada. Nyatanya, masyarakat tidak memperhatikan lingkungan dengan membuang sampah masker medis pada tempatnya. Dampaknya, penularan covid-19 meningkat akibat virus yang menempel pada masker yang sudah digunakan.

Dilansir republika.co.id pengolahan limbah medis sudah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No: P56/Menlhk-Setjen/2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Kesehatan.

Dalam peraturan tersebut masyarakat dianjurkan untuk mengolah masker medis sebelum dibuang. Dengan cara memutuskan talinya, merobek atau merusak bagian tengahnya, dan tidak dianjurkan membuang dengan keadaan masker yang utuh. Karena, untuk mengantisipasi jika ada oknum yang dapat menyalahgunakan masker sekali pakai ini untuk dijual kembali.

Lagi-lagi, masyarakat seolah acuh dengan keadaan. Peraturan tentang tata cara pengolahan limbah medis sudah di sebarkan. Namun, masih saja seakan-akan hal tersebut diabaikan. Menyikapi hal tersebut, sebaiknya pemerintah melakukan sosialisasi kembali terkait peraturan tata cara pengolahan limbah medis, salah satunya masker sekali pakai yang ditakutkan menjadi salah satu faktor penyebaran Covid-19. Selain pemerintah, dalam hal ini tenaga medis juga harus ikut mensosialisasikan dengan mendorong masyarakat guna menimbulkan kesadarannya dalam penggunaan masker medis sekali pakai. Sehingga, masyarakat menjadi faktor penunjang untuk memutus mata rantai covid-19 di lingkungan sekitar.

Penulis : Annisa Dwilya Budaya (Pengurus LPM Ukhuwah)
Editor : Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *