Privasi Terpublikasi, Pilah – Pilih Tren Masa Kini

Foto : IST

Penulis : Desi Sari Cahyani (Pengurus LPM Ukhuwah)

Instagram telah merilis stiker Add Yours atau balasan anda secara bertahap kepada pengguna di Indonesia. Dalam keterangan pers, Instagram mengatakan bahwa stiker tersebut dapat digunakan untuk berinteraksi dengan teman lain yang memiliki minat yang sama.

Namun, belakangan ini ramai dengan adanya tren challenge stiker “balasan anda” yang membuat masyarakat antusias mengikutinya. Mungkin tren ini terlihat sepele dan mudah untuk diikuti. Tetapi siapa sangka hal ini bisa memunculkan bahaya dan tindak kejahatan.

Dilansir dari CNN Indonesia, tren Add Yours kerap seliweran di postingan Instastory pengguna, di antaranya postingan itu meminta untuk menyebut berapa umur pengguna dan pasangan, siapa nama panggilan, tak jarang ada challange untuk meminta tanggal lahir.

Sehingga, hal yang berkaitan dengan kerahasiaan data pribadi ini memberikan celah terhadap modus penipuan. Hal tersebut pula tertuang dalam unggahan pengguna twitter @ditamoechtar_ mengenai modus penipuan yang dialami oleh rekannya.

Dita menjelaskan bahwa dirinya dihubungi oleh rekannya yang tertipu dan meminta uang untuk di transfer. Lalu, rekan Dita pun percaya karena penipu itu memanggilnya “Pim” yang merupakan panggilan kecilnya. Diduga, nama panggilan itu diambil ketika rekannya mengikuti challange di Instagram.

Kendatipun, dalam challenge Add Yours ini ada juga pertanyaan yang mengharuskan pengguna mengunggah foto tanda tangan. Hal ini sangat beresiko karena orang lain dapat menjiplak atau menggunakan tanda tangan tersebut diluar wewenang seharusnya.

Meskipun demikian, fitur Add Yours bukanlah akar dari permasalahan modus penipuan melainkan kecerobohan pengguna yang menampilkan data pribadi. Seperti yang kita ketahui bahwa hal-hal yang berkaitan dengan data pribadi itu tidak boleh tersebar. Namun, dengan mengikuti tren saat ini, secara tidak sadar pengguna telah memberikan informasi yang bersifat rahasia.

Dilansir pula dari Radar Palembang, Pakar keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons menjelaskan bahwa penjahat siber bisa mendapatkan nomor telepon pengguna, dengan berbagai cara. Diantaranya dengan menelusuri postingan pengguna yang menyematkan nomor telepon untuk dijadikan informasi tambahan jika berjualan atau bertransaksi di media sosial.

Maka dari itu, sebagai pengguna cobalah untuk berhati-hati dalam memilah jenis informasi yang akan dibagikan karena dapat menimbulkan resiko yang fatal. Terlebih jika kita menjelaskannya secara detail di media sosial.

Tidak dapat dipungkiri, selalu ada dorongan dalam diri untuk mengikuti tren yang ada dan bermain dengan teman-teman di media sosial. Namun, sebelum melakukannya lebih baik dipikirkan terlebih dahulu karena tidak semua tren dapat diikuti secara terus menerus.

Memang pada dasarnya, tren seperti Add Yours itu menyenangkan. Tetapi, apabila kita telah terkena dampaknya bisa merugikan diri sendiri. Termasuk pelaku kejahatan akan lebih mudah untuk memanfaatkan keadaan dan menyalahgunakan informasi tersebut.

Disisi lain melansir dari BBC, di kalangan peretas, situs-situs pemerintah Indonesia tergolong mudah untuk di bobol. Menurut Pakar Teknologi Informatika, Onno Widodo Purbo mengatakan bahwa laporan mengenai kerentanan sistem keamanan situs milik pemerintah bukan hanya sekali atau dua kali di dengar tapi berkali-kali. Karena itu pula, insiden kebocoran data di sistem Indonesia Health Alert Card (eHAC) seperti bukan hal yang mengejutkan baginya.

Namun melalui kementrian kesehatan bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pemerintah mengklaim data 1,3 juta eHAC pengguna tidak bocor dan menyebutkan proses ini sebagai bagian dari trade information sharing atau pertukaran informasi antar-pihak yang fokus terhadap keamanan siber.

Kemudian, menurut VPN mentor, pembuat aplikasi menggunakan database Elasticsearch yang tidak dienskripsi dan tidak memilliki tingkat keamanan yang rumit itu mudah dan rawan diretas.

Sebenarnya, sanksi atas kegagalan dalam perlindungan data pribadi diatur dalam Permenkominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik baik Sektor Swasta maupun Pelayanan Publik.

Walaupun demikian, tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan kepada penyedia aplikasi melainkan juga kementrian atau lembaga pengendali dan pemroses data. Sanksinya pun dapat berupa lisan, peringatan  tertulis sampai pencabutan izin aplikasinya atau diblokir.

Pemerintah juga harus segera menindaklanjuti terhadap pelanggaran perlindungan data pribadi dan tidak hanya memproses yang dilakukan oleh pihak swasta saja. Sementara insiden kebocoran data pribadi diluar institusi pemerintah tidak tahu kejelasannya.

Selain itu pula dapat dipertimbangkan untuk mengajukan gugatan warga negara atau Citizen Law Suit karena pasalnya tidak ada satu pun pengusutan kasus yang transparan diungkapkan ke publik dan tidak diikuti penyempurnaan regulasi maupun penegakan hukum.

Dalam hal ini, dapat kita simpulkan bahwa insiden kebocoran data pribadi tidak hanya terjadi pada warga biasa tetapi juga turut dirasakan oleh pemerintah. Meskipun itu terjadi secara tidak sengaja harusnya dapat dilakukan pengecheckan kembali sebelum memverifikasi data.

Pemerintah harus turut andil dan tegas dalam mengambil tindakan untuk menuntaskan kasus-kasus kebocoran data pribadi. Jangan sampai pemerintah hanya berfokus pada kebocoran data pribadi pihak swasta saja dan melupakan bahwa ada warga negara yang juga membutuhkan penuntasan masalah tersebut.

Tak hanya itu, pemerintah harus dapat melalukan penuntasan transparan kepada publik dan mengakui bila ada kebocoran data. Apabila demikian, hal itu membuktikan bahwa Indonesia rapuh keamanan siber yang tidak hanya terjadi pada data pribadi melainkan pula data krusial lainnya.

Selain itu, sebagai pengguna sosial media pula harus pintar memilah informasi yang akan dibagikan kepada publik serta tidak sembarangan membagikan data pribadi. Apabila lalai dalam penggunaannya tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi keluarga atau orang terdekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *