Pentingnya Penggunaan Pronouns Pada Sosial Media Untuk Menghindari Misgendering

freepik/pikisuperstar

Penulis: Syifa Nabila (Penggurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Di dalam english grammar, pronouns berfungsi sebagai kata ganti. Pronouns merupakan kata yang dapat menggantikan suatu kata benda atau frasa kata benda dalam percakapan ataupun penulisan. Gunanya untuk menghindari pengulangan atau pemborosan kata benda atau frasa kata benda tersebut. Terdapat banyak ragam pronouns dalam penggunaannya di Bahasa Inggris, contohnya ialah he, him, she, her, they, dan them.

Beberapa kata tersebut kerap kali kita dengar dalam pelajaran Bahasa Inggris sehari-hari di bangku sekolah. Digunakan untuk mengidentifikasi atau merujuk pada seseorang yang sedang berbicara atau yang sedang dibicarakan, kata-kata tersebut dikenal sebagai pronouns, atau kata ganti orang bisa juga disebut dengan pronomina persona.

Melalui pelajaran Bahasa Inggris, kita tahu bahwa he atau him digunakan untuk merujuk pada seorang laki-laki, she atau her digunakan untuk merujuk pada seorang perempuan, dan they atau them merujuk pada sekumpulan orang. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penggunaan kata ganti ini pun berkembang dan tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu.

Dalam Bahasa Indonesia, kata ganti untuk orang ke-3 tidak terpengaruh oleh jenis kelamin. Baik kepada laki-laki ataupun perempuan dan hanya menggunakan kata “Dia”. Namun saat menyapa seseorang di Bahasa Indonesia, kita juga belajar bagaimana menggunakan panggilan yang merujuk ke jenis kelamin seperti, “Bapak”, “Ibu”, “Saudara/Saudari”, “Tuan”, “Nyonya”, “Mas”, “Mbak”, dan lain-lain.

Pada dasarnya, kata ganti juga dikenal sebagai gender pronouns dan digunakan untuk merujuk seseorang sesuai dengan genderpilihan mereka. Adapun pronomina persona yang menunjukkan gender yang paling sering digunakan antara lain yakni she atau her dan he atau him. Kendati demikian, kedua kata ganti ini dikenal sebagai kata ganti yang memiliki sifat maskulin dan feminin, hal ini dapat menjadi hambatan bagi beberapa orang.

Terdapat juga kata ganti yang termasuk gender neutral dan umumnya yang digunakan adalah they atau them. Meskipun digunakan untuk merujuk pada orang banyak, kata ganti tersebut juga dapat digunakan untuk merujuk pada seorang individu. Hal ini telah diresmikan pada 2015 silam oleh The American Dialect Society yang memilih “they” sebagai kata tunggal, khususnya untuk kata ganti gender-neutral dan menyatakan kata ganti tersebut sebagai Word of the Year.

Penggunaan they atau them diterapkan bagi mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai non-biner, yakni identitas gender yang tidak termasuk dalam kategori perempuan maupun laki-laki. Namun, kata ganti tersebut tidak selalu digunakan oleh mereka yang tergolong sebagai non-biner.

Selain basic pronouns dari he atau him, she atau her, dan they atau them, terdapat juga neopronoun. Neopronoun merupakan kumpulan kata ganti orang ketiga tunggal yang tidak dikenali secara resmi dalam bahasa yang digunakan, biasanya dibuat dengan tujuan menjadi kumpulan kata ganti gender neutral. Neopronoun juga bisa disebut sebagai kata ganti nama sendiri, di mana pra-kata yang sudah ada ditulis untuk digunakan sebagai kata ganti. Contoh neopronoun pada umumnya ialah thon atau thons, ze atau zir, xe atau xem, xi atau xir, fae atau faer, dan lu atau lun.

Neopronoun hanyalah sekumpulan kata yang digunakan sebagai pengganti nama seseorang, oleh karena itu tidak memiliki jenis kelamin yang tersirat secara inheren, seperti halnya nama seseorang tidak secara inheren sama dengan jenis kelaminnya. Kata ganti ini digunakan bagi orang-orang yang memiliki hubungan kompleks dengan gender mereka.

Misgendering terjadi ketika seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja menyebut orang lain atau menggunakan bahasa untuk menggambarkan seseorang yang tidak tepat dengan gender mereka. Contohnya, mengacu pada seorang wanita dipanggil dengan sebutan yang merujuk pada gender pria adalah suatu tindakan misgendering.

Dengan tidak mencantumkan pronouns pada sosial media kemungkinan besar dapat terjadi misgendering dikarenakan khalayak virtual tidak mengetahui jelas jenis gender suatu akun sosial media. Misalnya akun itu menggunakan avatar yang bukan foto dirinya seperti karakter anime, wajah idol, dan lain sebagainya, tentu kita tidak mengetahui dengan jelas gender pemilik akun tersebut maka dari itu penggunaan pronouns pada sosial media dirasa penting agar ketika berinteraksi satu sama lain merasa nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *