Opini: Polemik Minuman Alkohol yang Katanya ‘Jahat tapi Enak’

Penulis: Kemas Prima (Pengurus LPM Ukhuwah|| Mahasiswa Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang)
Foto: Internet.

Alkohol, kamu jahat tapi enak
Alkohol, walau jahat tetap enak
Alkohol, walau pajakmu tinggi tetap menjadi solusi.

lagu Alkohol dari Band Sistipsi

Penggalan kalimat di atas merupakan lirik lagu yang berjudul ‘Alkohol’ milik band Sisitipsi. Walau sebagian orang mengatakan lagu tersebut terkesan nakal. Namun, lagu tersebut dapat menceritakan kenyataan sebenarnya mengenai alkohol.

Bagi peminum alkohol, mereka sebut minuman itu nikmat tapi sebenernya jahat. Orang-orang pun tetap membelinya meski tahu harganya mahal dikarenakan pajak dari minuman tersebut.

Polemik pertama mengenai minuman alkohol ialah kedekatan minuman tersebut bagi kehidupan orang-orang di kota-kota besar dan dianggap sudah normal sebagai pilihan menu saat nongkrong bagi anak-anak muda. Tak sampai disitu, para orang-orang yangbergelimangan harta terkadang menjadikan alkohol sebagai sajian saat bertemu rekan kerja.

Alkohol juga dipercaya menjadi solusi mengalihkan tekanan masalah sesaat tetapi tentu bukan untuk menyelesaikan masalah. Lalu apa itu minuman alkohol? Minuman alkohol adalah minuman yang mengandung Ethanol, sebuah senyawa kimia yang termasuk dalam golongan alkohol.

Minuman alkohol dibuat melalui proses fermentasi yakni proses biologi dimana glukosa, fruktosa, sukrosa diubah menjadi energi seluler dan nantinya menghasilkan ethanol.

Jadi semua bahan yang mengadung gula atau karbohidrat itu sangat bisa diolah menjadi alkohol dan seberapa tingginya kandungan alkohol tergantung seberapa banyak kandungan gula yang terkandung dalam bahan dasar dan lamanya proses fermentasi serta adanya proses distilasi.

Minuman alkohol yang dapat dijumpai di Indonesia sangat banyak dan hampir di seluruh wilayah di Indonesia mempunyai minuman alkoholnya masing-masing. Di Bali ada araknya yang sudah terkenal, di Papua ada Swansrai, di Jawa punya ciu, cap tikus dari Sulawesi hingga Medan dengan tuaknya.

Ketabuan alkohol juga menjadi polemik di masyarakat. Lalu kenapa alkohol di Indonesia masih dianggap tabu? Mengutip Opini.Id alkohol mulai ada di Nusantara sejak abad ke-11 di Pulau Jawa khususnya di Kerajaan Majahapahit. Alkohol hadir dalam bentuk fermentasi beras yang disebut Tampo dna biasa disajikan kerajaan pada saat perayaan panen raya.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, minuman alkohol di Indonesia nyatanya sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dulu. Bukan saja hanya sebagai minuman, alkohol juga di beberapa wilayah Indonesia menjadi sajian ritual untuk persembahan kepada leluhur.

Tidak hanya itu, alkohol juga menjadi kebutuhan bagi orang-orang yang tinggal di dataran tinggi yang hawanya dingin. Lalu mereka berpendapat kalau minuman alkohol dapat menghangatkan tubuh. Hingga di awal abad ke-20 minuman alkohol seperti Bir, Whiskey, Vodka, dan lain-lain masuk ke Indonesia. Di era sekarang, minuman tersebutlah yang banyak ditemukan oleh masyarakat Indonesia terutama di kota besar.

Namun, sejak 16 April 2015, pemerintah mempersempit perederan minuman beralkohol dengan melarang peredarannya di setiap minimarket. Akan tetapi, aturan tersebut masih tidak bisa membuat orang-orang untuk berhenti mencari dan meminum alkohol. Polemik alkohol dengan pemerintah terus bersahutan, tak lepas dan selalu terikat.

Pada kenyataannya pemerintah sendiri yang sulit mengontrol peredaran minuman alkohol. Para peminum tersebut beredar bebas. Kini, kebanyakan  hasil oplosan rumahan yang lebih berbahaya bagi tubuh.

Faktor yang membuat orang masih banyak minum alkohol yakni bedasarkan hasil peneliti dari California, minuman beralkohol merangsang pelepasan hormon endorphin. Hormon yang menimbulkan rasa senang di otak.

Jadi, kandungan pada minuman alkohol dapat memberikan efek senang bagi peminumnya. Perlu kembali diingat, walaupun alkohol mempunyai efek yang dapat membuat penikmatnya merasa senang, tetapi sifat asli dari alkohol tetaplah jahat.

Terakhir, polemik dari alkohol yang eksterm yakni Mengutip dari CNN Indonesia (24/09/18), laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sebanyak 3 juta orang di dunia meninggal akibat konsumsi alkohol pada 2016 lalu. Angka itu setara dengan 1 dari 20 kematian di dunia disebabkan oleh konsumsi alkohol. Namun, fakta itu masih tidak dapat membuat takut peminum alkohol.

Intinya bagi yang mengkomsumsi minuman beralkohol harus bisa bertanggung jawab agar tidak merugikan orang lain, serta diri sendiri. Seharusnya peminum alkohol juga bisa mengahargai yang tidak mengkomsumsi serta tahu batasan dalam mengkomsumsi alkohol. Apapun pendapat orang mengenai alkohol, yang terpenting harus bisa saling menghargai perbedaan dan hak orang lain. Itu semua menjadi pilihan, dan harus siap untuk menanggung resiko yang akan ditimbulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *