Opini : Menagih Inovasi Pemberdayaan Sampah Oleh Pemerintah Kota Palembang

Terlihat Kontraktor yang sedang memindahkan sampah dari lubang pembuangan sampah dan diangkat ke atas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan. Kamis, (22/10/20). Ukhuwahfoto/Ilham Akbar

Penulis : Muhammad Ilham Akbar (Anggota LPM Ukhuwah UIN RF Palembang)

Indonesia memiliki Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) terbesar yang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota (DLHK) DKI Jakarta, yaitu Bantargebang. TPST ini mulai beroprasi pada tahun 1986 dan memiliki luas tanah dengan total 110,3 hektar. Luasnya jauh lebih besar dari TPST di kota lain, misalnya TPST Piyungan, Kota Yogyakarta, TPST Mulyo Agung Bersatu, Kota Malang, dan TPST Seminyak, Bali.

Kondisi TPST Bantargebang saat ini kian kritis, terlihat dari tumpukan sampah yang seperti piramida. DLHK DKI Jakarta yang saat itu dijabat oleh Isnawa Adji pada tahun 2018,  mengatakan, volume sampah yang bermuara di TPST Bantargebang sudah mencapai 39 juta ton. Ketinggian sampah mencapai 40 meter.

“Namun, kapasitas maksimum di TPST Bantargebang ini adalah 49 juta ton, hanya tersisa 10 juta ton di sana,” ujar Isnawa.

Dengan besar volume sampah sebesar 7.000 ton yang masuk setiap hari, umur TPST Bantargebang sudah bisa diprediksi. Masa hidup tempat pembuangan sampah itu hanya tinggal 3 tahun lagi terhitung sejak 2018. Isnawa juga mengatakan seharusnya pada 2021, TPST Bantargebang tidak digunakan lagi. Informasi ini dilansir oleh kompas.com saat menanyakan tentang wacana di tutup nya TPST bantar gebang tahun 2021 mendatang.

Tak hanya masalah lahan yang akan penuh, TPST Bantargebang juga menyisahkan masalah lingkungan yang pelik bagi warga sekitar. Seperti yang di lansir dari tempo.co dampak buruk yang di rasakan warga sekitar di antaranya adalah air tanah yang sudah tidak layak konsumsi karena tercemar air lindi (air sampah), dan juga penyakit pernapasan yang dialami oleh sejumlah masyarakat yang tinggal di pinggiran Bantargerbang. Dampak negatif terhadap kesehatan warga itu diketahui berdasarkan uji laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi Nomor 24/LABKF/XI/2008, dan hasil survei Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat.

Setelah 2018 berlalu, Bantargerbang masih menjadi sorotan. Pada tahun 2019, seperti diketahui, kapasitas TPST Bantargebang diperkirakan tinggal tersisa dua tahun lagi. Setelah ditelusuri pada laman website detikX kasus Bantargerbang diangkat kembali. Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang Asep Kuswanto mengatakan kapasitas sampah di Bantargerbang tersisa hanya 10 ton saja.

“Jadi, terkait informasi bahwa TPST Bantargebang akan penuh pada 2022, itu betul. Bahkan bisa lebih cepat di tahun 2021. Dari hasil kajian dan hitungan kita, kapasitas yang ada di Bantargebang itu tinggal sisa 10 juta ton,” ungkap Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang Asep Kuswanto kepada detikX di kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 14 November 2019.

Kata Asep, gunungan sampah sudah tidak bisa ditinggikan lagi. Kalau ditinggikan lagi akan berdampak buruk bagi sekitar, baik longsor atau lainnya, itu kan mengakibatkan bahaya. Maka dari itu pada 2021 sudah diprediksikan sebagai titik warning (peringatan) supaya Jakarta, memperbaiki pengelolaan sampahnya, supaya pemerintah pusat yang mengelola Bantargebang bisa bernapas dan menambah usia pakai Bantargebang itu sendiri.

Salahseorang pengais sampah terlihat sedang menunggu kontraktor selesai memindahkan sampah untuk mengambil sampah yang masih layak jual di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan. Kamis, (22/10/20). Ukhuwahfoto/Ilham Akbar.

Di kota Palembang sendiri, terdapat 2 tempat pembuangan sampah yaitu TPA Karya Jaya yang terletak di Kertapati dan TPA Sukawinatan. Tetapi, untuk saat ini pembuangan sampah masih berpusat di TPA Sukawinatan. Hal ini dikarenakan infrastruktur di TPA Karya Jaya masih belum mendukung, seperti jalan yang belum bisa di lalui truk sampah hingga lahan yang sebagian besar belum bisa dipakai.

Tidak hanya menerima sampah dari Kota Palembang, TPA Sukawinatan juga menerima sampah dari beberapa Kecamatan yang berada di Kabupaten Banyuasin yang lokasi nya dekat dengan TPA Sukawinatan. Sampah yang masuk ke TPA sukawinatan rata-rata 600 ton perhari, itu juga termasuk sampah dari pihak swasta yang menggunakan mobil bak terbuka/pick up, sedangkan dari pihak DKK (Dinas Kebersihan Kota) menggunakan mobil truk bewarna kuning yang telah disediakan oleh pihak DLHK sendiri.

Selain sampah TPA sukawinatan juga menerima tinja/kotoran manusia, tinja ini diangkut oleh mobil penyedia layanan sedot WC, rata-rata perhari 20.000 liter tinja yang masuk ke TPA sukawinatan.

Tidak seperti sampah yang sudah mulai dimanfaatkan. Tinja ini hanya dibuang saja tanpa menghasilkan apa-apa, yang lebih di sayangkan kolam-kolam penampungan tinja ini sudah lama tidak dipakai lagi. Jadi, tinja dibuang ke lapangan kosong dan dibiarkan begitu saja. Tentu ini berdampak pada lingkungan sekitarnya, apa lagi pembatas tempat pembuangan tinja itu pernah runtuh dan mencemari kolam tampungan air hujan yang biasa dimanfaatkan warga sekitar ketika musim kemarau.

Sudah seharusnya, Pemerintah Kota Palembang mulai berinovasi dengan sampah di TPA Sukawinatan. Seperti Kota Surabaya yang akan menjadi kota pertama pengoperasi pembangkit listik berbasis biomassa sebesar 12 megawatt dari volume sampah sebesar 1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar US$ 49,86 juta. Selain investasi tersebut, Surabaya juga akan berhasil mengurangi tingkat volume sampah sebesar 1.100 – 1.300 ton per hari.

Dengan keseriusan pemerintah dan tentunya didukung oleh berbagai pihak, bukan tidak mungkin gunung-gunung sampah di TPA Sukawinatan bisa menjadi energi terbaru yang bisa di rasa kan manfaatnya oleh masyarakat Kota Palembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *