Opini: Kuliah Daring yang Penuh Keluh Kesah

Penulis: Astri Agustin (Pengururs LPM Ukhuwah || Mahasiswa Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang)
Desain: Jaiwan Nada Rismin

Di tengah maraknya penyebaran virus COVID-19, banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mulai mengganti perkuliahan tatap muka dengan kuliah jarak jauh atau daring. Suatu keharusan untuk menerapkan kebijakan kuliah daring tersebut. Sebab kita tidak pernah tahu manusia-manusia mana yang sedang atau bahkan telah terjangkit virus dari Wuhan, Cina tersebut.

Perkuliahan daring yang mulanya ditetapkan hanya dua pekan, kini beranjak hingga akhir tahun ajaran semester genap 2019/2020. Perpanjangan kuliah daring diharapkan dapat mencegah penyebaran virus COVID-19 di lingkungan sivitas akademika. Mengingat hal tersebut sejalan dengan imbauan langsung dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Sudah banyak PTN dan PTS yang mulai menetapkan perpanjangan kuliah jarak jauh tersebut, diantaranya Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Sesuai surat edaran Nomor: B-133/Un. 09/4.2/PP.09/03/2020 tentang tindak lanjut kebijakan upaya penanganan penyebaran infeksi COVID-19 di lingkungan UIN Raden Fatah Palembang, pihak rektorat menetapkan perpanjangan kuliah jarak jauh. Hal tersebut tertera pada poin tiga dan 14 yang berisi.

Poin tiga, masa perkuliahan Virtual Learning atau kuliah daring diperpanjang sampai akhir perkuliahan semester genap tanggal 23 Mei 2020.

Poin 14, surat edaran ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan tanggal 21 April 2020 dan akan dievaluasi sesuai kebutuhan.

Sejalan dengan hal tersebut, mengutip dari CNNIndonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan setidaknya ada 65 perguruan tinggi di Indonesia yang menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) dari rumah untuk menekan penyebaran Covid-19.

“Sampai saat ini terdapat sekitar 65 perguruan tinggi yang menetapkan kebijakan perkuliahan dari rumah menyikapi persebaran covid-19 yang telah menjadi wabah di negara kita,” ujar Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam melalui CNNIndonesia.com, Senin (16/3/20).

Namun, perpanjangan masa kuliah daring ini akan membuat sejumlah mahasiswa sedikit kewalahan. Mengingat sebentar lagi mendekati Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS).

Kuliah daring juga memiliki kekurangan, karena tidak semua mahasiswa bisa menjangkau virtual learning dengan baik. Hal tersebut disebabkan banyaknya mahasiswa yang pulang ke kampung halaman dan mengakibatkan mereka sering bermasalah dengan jaringan internet.

Selain itu juga, kuliah daring memberatkan mahasiswa karena diskusi melalui daring justru menyulitkan dan membutuhkan pemahaman yang ekstra. Hal tersebutlah yang menjadi hambatan utama dalam kuliah daring.

Mengutip dari warta Ukhuwahnews.com, mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang jurusan Pendidikan Matematika semester empat, Padila Subari mengaku cukup kerepotan karena menjalankan perkuliahan via online.

“Jurusan Saya kan Matematika ya, jadi sulit mengerti jika dosen menjelaskan via online, kalau tatap muka lebih enak,” ujar dia dikutip dari Ukhuwahnews.com, Minggu malam (5/4/20).

Ketidaknyamanan kuliah daring juga dirasakan tenaga pengajar. Masih dari warta Ukhuwahnews.com, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Muhammad Randicha Hamandia turut mengalami kesulitan untuk memberikan penilaian karena indikator yang berbeda. Dia juga mengkhawatirkan jika menjelaskan dengan metode daring mahasiswa sulit memahami penjelasan dari dosen.

“Kasihan sebenarnya mahasiswa, belum tentu jelas tentang materi. Banyak keluhan dari mahasiswa, karena paket-lah, tidak maksimal-lah (kuliah online), sinyal-lah, gangguan-lah dan lainnya,” ucap dia pada Ukhuwahnews.com.

Berbicara masalah efektik tidaknya, menurut saya kurang efektif karena harus menerapkan metode baru dan adaptasi dengan suasana yang baru. Koneksi yang terbatas jarak dan ruang ini menjadi kendala untuk mahasiswa memahami materi yang disampaikan.

Selain itu juga, suasana debat di dalam kelas menjadi tidak terasa, meski di ruang chatt juga bisa debat, tetapi kondisi tukar pikiran antara mahasiswa yang mengeluarkan kekritisannya menjadi kurang terasa.

Meski banyak kendala dalam pelaksanaan kuliah daring, kita sebagai mahasiswa tidak bisa menolak. Bagaimana lagi cara kita untuk tetap bisa belajar dan melanjutkan perjuangan perkulihan ini. Kondisi yang semakin pandemik ini menjadikan kuliah daring sebagai solusi supaya kita tetap jaga jarak. Memutus rantai penyebaran Covid-19 merupakan tugas kita sama-sama sebagai manusia dan juga untuk kelangsungan hidup yang normal kembali.

Tidak perlu berkeluh kesah, hanya kerjakan apa yang sudah diberikan bapak/ibuk dosen. Mereka juga punya keluh kesah, menyambi mengurus rumah tangga. Mereka menjalankan tugasnya sebagai seorang tenaga pengajar, kita sang pelajar juga harus menjalankan tugas kita sebagai mahasiswa.

Kepada bapak/ibu dosen, kami sebagai mahasiswa berharap kalian bisa memaklumi kendala yang kami rasakan. Meski masa pandemi, belajar tetap bisa kita lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *