Opini: Eks ISIS Minta Pulang, Indonesia Gimana Ya?

Oleh: Delta Septiasmara (Pengurus LPM Ukhuwah || Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)
Desain: Jaiwan Nada Rismin

Fokus pemerintah Indonesia saat ini ialah memberantas penyebaran virus Covid-19. Saat ini sudah menjangkit 1000 lebih pasien positif. Maka dari itu, banyak persoalan yang ditunda penyelesaiannya. Belum juga sempat menyelesaikan berbagai permasalahan, pemerintah malah ditambah lagi bebannya oleh virus yang berukuran nanometer dan membuat kepanikan masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Kendati begitu, kita jangan menutup mata dan memenjarakan pikiran kita dengan kondisi pandemi ini. Maksud saya, kita semua tetap aware untuk tetap dirumah aja supaya rantai penyebaran virus ini putus dan tenaga medis bisa fokus menangani pasien yang sudah terjangkit. Meskipun di rumah, kita tetap beraktivitas dengan menambah pengetahuan, atau bisa juga mencari tahu terkait permasalahan apa saja yang dihadapi Indonesia di awal tahun 2020 ini.

Salah satu permasalahan yang menggegerkan Indonesia ialah terkait pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks Islamis State in Iraq and Syria (ISIS) ke Indonesia. Berita ini ada sejak awal Februari higga Maret. Ketika virus dari Wuhan itu muncul, berita ini tenggelam dengan sendirinya. Karena prioritas pembenahan masalah yang dilakukan pemerintah beralih ke arah virus tersebut dan semua stakeholder kini berjuang untuk memutuskan rantai penyebaran virus yang muncul sejak Desember 2019 pertama kali di Wuhan, Cina.

Pemulangan WNI eks ISIS ke Indonesia menuai banyak tanggapan pro dan kontra dari masyarakat. Bayangan terorisme yang erat kaitanya dengan ISIS menjadi permasalahan pokok dan masih dipertimbangkan saat ini.

Apakah dengan menerima kembali WNI mantan ISIS ini menjadi solusi terbaik atau justru menjadi boomerang dan persoalan baru bagi Indonesia? Saya masih mempertanyakan kejelasan dari masalah ini. Bukan tidak mungkin dengan diterima kembalinya mereka justru akan memunculkan bibit baru organisasi terorisme.

Dilansir dari berita CNN Indonesia, pemerintah khususnya presiden menolak kepulangan eks ISIS. Namun, dia akan menerima anak – anak dari mantan eks ISIS. Saya sependapat dengan keputusan pemerintah untuk menolak, tetapi yang saya sayangkan kenapa presiden ingin memberi kesempatan untuk anak – anak eks ISIS.

Berbicara tentang kemanusiaan, menerima anak eks ISIS tanpa orangtuanya salah satu tindakan yang tidak manusiawi, bukan. Dan dari sisi lain juga, bukan tidak mungkin anak – anak eks ISIS ini sudah diberikan pelajaran, pemahaman, dan bekal yang berkaitan dengan ISIS.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan Kementerian Hukum dan HAM telah melakukan pemblokiran paspor terhadap WNI eks ISIS. Pemblokiran hanya diberikan terhadap WNI usia dewasa namun untuk anak di bawah 10 tahun yang telah terdata tidak dilakukan pemblokiran. Mereka akan dikembalikan ke Indonesia dan akan dilakukan upaya deradikalisasi.

Pemberian deradikalisasi mungkin cara paling ampuh untuk diterapkan dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia kembali, namun kita tidak bisa tutup mata bahwa kemungkinan terorisme itu tidak akan pernah hilang begitu saja. Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah, baik anggaran yang nantinya akan diperlukan maupun penangananya.

Saya akan lebih setuju apabila mereka tidak ada yang dikembalikan. Bukan tanpa alasan saya menolak mereka kembali, pembakaran paspor WNI oleh eks ISIS sudah menjadi salah satu bukti bahwa mereka memang sudah dengan sadar dan sukarela menolak Indonesia.

Menurut saya lebih baik kehilangan 689 WNI eks ISIS dari pada memberi ancaman bagi 269,6 juta jiwa di Indonesia saat ini. Dengan ini juga kita bisa lebih menekan semakin sempitnya perkembangan terorisme di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *