Minim Literasi Pembeli, Benarkah COD Sebuah Solusi?

Sumber : Freepik

Penulis : Aisyah Safitri (Pengurus LPM Ukhuwah)

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, apalagi di tengah wabah Corona yang saat ini tak henti-hentinya menghantui dunia. Membuat seluruh aktivitas manusia terbatas dalam segala aspek, mulai dari pendidikan, ibadah, sosial dan lain sebagainya.

Salah satunya yang terkena dampak dari pandemi ini ialah aspek jual beli. Saat ini, banyak orang-orang yang lebih memilih untuk berbelanja secara online atau e-commerce dibandingkan harus berbelanja secara langsung di toko-toko.

Sebenarnya sudah lama tren berbelanja online ini dipakai oleh hampir seluruh orang di dunia. Namun, di masa pandemi seperti sekarang, belanja online ini semakin naik daun. Karena orang-orang lebih mudah mencari, berbelanja, dan berjualan langsung melalui gawainya tanpa harus keluar rumah.

Selain memudahkan dalam berbelanja, sistem pembayaran yang digunakan pun sangat mudah. Sistem pembayaran yang saat ini paling banyak digunakan ialah sistem bayar di tempat atau Cash On Delivery (COD).

Cash On Delivery atau biasa disingkat COD merupakan salah satu sistem pembayaran yang dilakukan oleh pembeli kepada penjual dalam bertransaksi secara tunai ketika pesanan tiba.

Pada beberapa kondisi, COD bisa dilakukan oleh kurir yang mengantarkan barang tersebut kepada pembeli.

Namun, akhir-akhir ini banyak kasus yang membuat kita bingung karena tak sedikit pembeli yang salah mengartikan makna dibalik sistem COD ini. Hal ini memicu terjadinya pertengkaran antara pembeli dan kurir yang pada dasarnya hanya mengantarkan barang tersebut.

Beberapa video yang viral di media sosial menunjukkan kurir yang sempat diancam dengan senjata tajam dan bahkan juga dicaci maki oleh pembeli.

Bahkan diantaranya menunjukkan pembeli merasa kecewa terhadap barang yang dipesan. Lebih parahnya tidak mau membayar karena tak sesuai dengan yang diinginkannya. Padahal, kurir tidak bertanggung jawab terhadap isi paket tersebut.

Kurir hanyalah jasa pengantar barang agar selamat sampai di tangan pembeli dan menerima uang dari pembeli tersebut.

Hal ini sungguh disayangkan, mengingat kasus ini bisa mengancam keselamatan kurir yang notabenenya tidak ada sangkut paut terkait apakah barang yang dibeli tidak sesuai ekspektasi.

Disini bisa kita pertanyakan, apakah sistem pembayaran COD ini adalah metode yang tepat untuk dijadikan solusi pembayaran belanja online atau hanya menimbulkan permasalahan di dunia e-commerce?

Dalam hal ini, Koordinator Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sularsi menyebut adanya minim literasi pada pembeli sebagai konsumen.

Ia menjelaskan bahwa banyak pembeli yang belum paham betul sistem COD ini. Literasi konsumen yang kecil menjadi tugas semua pihak terkait, termasuk platform e-commerce.

Terkait kasus ini, pihak e-commerce harus memberikan suatu edukasi terkait sistem pembayaran COD kepada konsumennya. Hal ini bisa mereka antisipasi dengan menampilkan kembali aturan COD tersebut sebelum pembeli mengonfirmasi transaksi belanja.

Bukan hanya pihak e-commerce saja yang harus turut andil. Kita sebagai pembeli pun haruslah bijak dengan bisa membedakan permasalahan apa yang bisa dikomplain. Lalu seperti apa yang menjadi urusan penjual agar kurir yang hanya mengantarkan barang tidak disalahkan oleh pembeli.

Pada dasarnya, sistem COD ini sebenarnya tepat untuk dijadikan sistem pembayaran belanja online. Mengingat COD ini memiliki resiko kecil bagi pembeli asalkan kita sebagai pembeli harus paham terlebih dahulu apa makna COD yang sebenarnya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lagi kasus kurir yang diancam akibat kita sebagai pembeli yang memiliki literasi rendah terkait metode ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *