Membudayakan Literasi di mulai dari Sekolah

Oleh : Denny Kurniawan (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)
Desain: Jaiwan Nada Rismin

Pendidikan di Indonesia saat ini berada pada tahap gawat darurat. Sebanyak 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimum pendidikan. Hasil pemetaan akses dan mutu pendidikan oleh Trends in International Mathematic and science Stadies (TIMSS) dan The Curves-Person pada tahun 2011, 2013 serta 2014, Indonesia menepati posisi ke-40 dari 40 negara dalam literasi sains.

Hasil tes dari Progres Internasional Reanding Literacy Study (PIRLS) tahun 2011 yang  mengevaluasi kemampuan membaca siswa kelas IV, menempatkan Indonesia  pada peringkat ke-45 dari 48 negara, dengan skor 428 dibawah niali rata-rata 500 (IEA Internationa associantion for evaluation of educational Achievement). Hasil tes tersebut, tidak jauh berbeda dengan hasil survei dari Programme for International Student Assessment (PISA). Survei PISA ini dilakukan guna mengevaluasi kemampuan siswa usia 15 tahun yang mencakup kemampuan membaca dalam bidang studi matematika dan sains.

Siswa Indonesia berpartisipasi dalam PISA pada tahun 2009 dan 2012. Program yang diadakan selama dua periode ini diikuti oleh 65 negara, terkhusus dalam bidang kemampuan membaca. Indonesia semula pada tahun 2019 berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 standar OECD-Organization for Ekonomic Coparation and Delepment, ternyata pada PISA 2012 peringkatnya menurun, yaitu berada diurutan ke-64 dengan skor 396.

Data di atas seimbang dengan temuan UNESCO pada tahun 2012, terkait kebiasaan masyarakat Indonesia bahwa hanya satu dari 1000 masyarakat Indonesia yang gemar membaca. Maka dari  itu, pemerintah harus membenahi diri untuk meningkatakan kegiatan literasi  di masyarakat umumnya dan khusunya peserta didik.

Dalam peraraturan menteri pendidikan dan  kebudayaan telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah  yang tertuang dalam perarturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 pasal 2, yang berbunyi : Penumbuhan budi pekerti  (PBP) bertujuan untuk: (a). Menjadikan sekolah sebagi taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan, (b). Menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakater sejak dari keluarga, sekolah, dan masyarakat, (c). Menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan keluarga dan (d). Menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah,  dan masyarakat.

Dengan adanya perarturan tersebut siswa diwajibkan membaca 15 menit sebelum belajar. Mereka bisa pilih sendiri sesuai ketertarikan terhadap buku tersebut. Semoga dengan kegiatan literasi yang dimulai dari sekolah tersebut dapat meningkatkan kemampuan literasi, menumbuhkan budi pekerti, dan semakin banyak sekolah yang menerapkan kegiatan literasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *