Kesetaraan Pendidikan Bagi Penyandang Difabel

Sumber: Suarakebebasan.id

Penulis: Krisna Aldrin Gunawan (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Pendidikan merupakan proses pembelajaran bagi manusia agar menuntun seseorang yang tidak mengetahui sesuatu menjadi tahu. Proses pendidikan biasanya dilakukan di ruang kelas atau pembelajaran secara formal dengan bertahap mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga bangku perkuliahan.  

Pendidikan berfungsi sebagai tempat mengembangkan kemampuan, membentuk watak, dan membentuk kepribadian peserta didik agar memiliki akhlak yang baik dan dapat berguna bagi orang lain. Selain itu, pendidikan juga berfungsi sebagai ruang pelestarian budaya dan adat istiadat yang ada di ruang lingkup sekitarnya.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional. Pendidikan semestinya dilaksanakan secara adil, demokratis, serta tidak mendiskriminasi.

Dibandingkan negara-negara eropa terkhusus Finlandia, dari segi pendidikan Indonesia masih dikatakan tertinggal. Ironisnya permasalahan yang ada saat ini terus berlarut dan menjadi-jadi.

Salah satu masalah pendidikan yang amat sangat serius saat ini ialah pendidikan bagi kelompok difabel. Ternyata masih banyak dari mereka yang kesulitan mencari sekolah inklusi.  

Dikutip dari CNBC Indonesia, rendahnya jumlah anak difabel memperoleh pendidikan disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infrastruktur yang kurang memadai, kurangnya tenaga pengajar khusus, dan juga stigma masyarakat terhadap anak difabel.

Sekolah inklusi merupakan sekolah dimana anak-anak difabel dapat belajar bersama dengan anak reguler lainya, namun anak difabel tetap di dampingi oleh guru pendamping selama kegiatan belajar.

Karena keterbatasan mengharuskan anak difabel belajar dengan giat, dikarenakan mereka mengejar ketertinggalan dalam pendidikan. Karena hal ini pula, sebenarnya dibutuhkan keseimbangan dalam proses belajar bagi kelompok difabel.

Belum lagi sarana prasarana yang tidak ramah bagi kelompok difabel. Padahal, segala sesuatu harus dibangun sesuai  standar. Bukan karena minoritas, setidaknya dengan pembanganunan yang ramah bagi penyandang difabel maka orang umum juga dapat mengaksesnya.

Maka dari itu, untuk mendorong pendidikan agar dapat diperoleh setiap orang tak terkecuali kelompok difabel semua guru harus belajar tentang dikdaktik metodik pembelajaran bagi mereka yang memang berkebutuhan khusus.

Dengan minoritasnya penyandang difabel, mereka harus tetap memiliki hak yang sama di dalam dunia pendidikan. Karena berdasarkan sila ke-5 dalam pancasila bahwa setiap rakyat di Indonesia harus mendapatkan keadilan, tak terkecuali juga di dunia pendidikan.

Editor: Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *