Kemerdekaan di Saat Pandemi, Kemerdekaan Untuk Semua Kah?

Penulis: Bagus Rizki (Anggota Lpm Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang)

Bulan ini Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaan yang ke-76.  Namun, karena pandemi yang tak kunjung berakhir pemerintah membuat beberapa kebijakan. Entah kebijakan yang mensejahterakan rakyat atau sebaliknya.

Merdeka berarti bebas dari belenggu, lepas dari tuntutan, tidak terikat dan bergantung pada pihak tertentu. Sayangnya, hal ini hanya berlaku bagi mereka yang mempunyai kekuasaan tidak untuk mereka kalangan bawah.

Indonesia sudah merdeka 76 tahun, tetapi yang merasa merdeka hanya mereka yang punya kuasa, dan oknum yang punya kuasa ini terkadang melakukan tindakan sewenang-wenang, salah satu yang paling sering adalah korupsi.

Dari sekian banyak oknum berkuasa, salah satu oknum yang terjerat kasus korupsi merupakan menteri sosial. Ia seharusnya melakukan tugas-tugasnya seperti, menyelenggarakan urusan di bidang rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, dan penanganan fakir miskin untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara dan inklusivitas.

Dapat disimpulkan bahwa tugas menteri sosial ialah mengayomi masyarakat khususnya kalawan bawah tapi justru menyengsarakan rakyat dengan mengkorup Bantuan Sosial (Bansos).

Mirisnya sekarang oknum ini ingin di bebaskan? Lalu, setelah berbuat tindak kejahatan, pejabat bisa dengan mudah minta dibebaskan. Di mana letak implementasi dari sila kelima?

Perbuatannya membuat banyak rakyat kecil yang seharusnya mendapatkan bansos menjadi kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup selama pandemi, belum lagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang levelnya semakin naik (diperpanjang).

Rakyat yang pekerjaaanya tidak bisa diwakili dengan virtual hanya bisa terdiam, mereka yang jualan digusur sedangkan bansos yang di janjikan tak kunjung datang.

Inikah kemerdekaan yang diinginkan leluhur kita? Kata-kata presiden pertama kita Dr. Ir. H. Soekarno benar benar terjadi “perjuangan ku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Harusnya pemerintah memperhatikan dampak dari suatu kebijakan yang dibuat, serta pemerintah harus lebih tegas terhadap oknum-oknum yang menyalahgunakan tanggung jawabnya. Sehingga semua kalangan masyarakat merasakan apa arti dari merdeka sesungguhnya.

Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *