Kemelut Vaksinasi, Mulai dari Vaksin Palsu Hingga Kedaluwarsa

Penulis : Syifa Nabila (Pengurus LPM Ukhuwah)

Maraknya kejahatan yang berkaitan dengan vaksin Covid-19 saat ini dimanfaatkan sebagian orang demi meraup keuntungan pribadi, seperti halnya vaksin palsu yang dijajakan ke China dan Afrika Selatan. Tidak hanya itu, permasalahan Covid-19 semakin membuncah dengan hadirnya vaksin kedaluwarsa. Namun, Kementerian Kesehatan Indonesia, menjamin vaksin AstraZeneca terpakai sebelum basi.

Mula-mula Adanya Vaksin Palsu  

Dilansir dari BBC Indonesia, sindikat jaringan pemalsu vaksin Covid-19 di China dan Afrika Selatan terbongkar setelah Interpol mendapat laporan mengenai hal ini. Kepolisian China menangkap 80 orang yang diduga membuat vaksin palsu dan menyita sebanyak 3.000 dosis, sementara kepolisian Afrika Selatan menyita sedikitnya 2.400 dosis vaksin palsu.

Ketika diumumkan pembekuan jaringan vaksin yang diduga palsu, Interpol menekankan saat ini tidak ada vaksin yang beredar untuk dijual secara online. Setiap vaksin yang diiklankan di internet atau situs web gelap, bukan yang sah, tidak teruji dan mungkin berbahaya.

Bulan Februari 2021 lalu, China menangkap bos penipuan bernilai 8 juta yuan atau setara dengan Rp. 3,9 miliar menurut putusan pengadilan, yang mengungkapkan larutan garam dan air mineral dimasukkan ke dalam jarum suntik kemudian menjajakannya sebagai vaksin Covid-19. Tersangka itu, yang hanya diidentifikasi sebagai Kong, telah meneliti desain kemasan vaksin asli sebelum membuat lebih dari 58.000 dosisnya sendiri.

Sejumlah vaksin palsu diselundupkan ke luar negeri tetapi tidak diketahui ke mana mereka dikirim.

Desas-desus Vaksin Kedaluwarsa

Dilansir dari situs Medisiana.net, sejumlah 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca mendarat di Indonesia minggu lalu. Namun, vaksin tersebut kedaluwarsa di bulan Mei mendatang. Penyuntikan vaksin belum mendapat persetujuan World Health Organization disebabkan terjadinya pembekuan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT) , serta emboli paru di beberapa negara Eropa.

Berdasarkan jumlah kasus yang telah diterima oleh AstraZeneca pada 8 Maret 2021, di seluruh Uni Eropa dan Inggris, terdapat 15 kejadian DVT dan 22 kejadian emboli paru dari 60.000 peserta yang ikut serta dalam uji klinis. Dari data tersebut jumlah kejadian trombotik lebih rendah pada kelompok yang divaksinasi.

Sehingga hal ini mengakibatkan menurunnya keyakinan masyarakat terhadap keamanan vaksin Covid-19, setelah melihat beberapa kasus mengerikan perihal vaksin tersebut. Menurunnya tingkat kepercayaan ini menyebabkan menumpuknya masyarakat bebal akan kebijakan pemerintah.

Vaksin merupakan alat penting untuk mengatasi pandemi dan persaingan di seluruh dunia menjadi ketat dalam upaya membeli dosis yang tersedia, menyusul persetujuan dari otoritas medis perihal banyaknya permintaan produk dalam beberapa bulan terakhir. Vaksinasi ialah jalan terakhir yang dapat dilakukan untuk tetap bertahan di tengah kekacauan dunia dalam menghadapi Covid-19 yang menyerang tahun lalu.

Pandemi ini telah meningkatkan perhatian petugas medis dalam kasus individu dan melakukan upaya lebih dibanding praktik standar dalam memantau keamanan obat-obatan yang diedarkan tekait dengan pelaporan kejadian akibat vaksin, untuk memastikan keamanan publik.

Keamanan bagi seluruh masyarakat akan selalu diutamakan. Vaksin AstraZeneca akan terus dikaji dengan ketat, walaupun bukti yang tersedia tidak mengkonfirmasi bahwa vaksin adalah penyebab adanya DVT. Untuk mengatasi pandemi, penting bagi masyarakat untuk melalukan vaksinasi jika diminta oleh pemerintah.

Editor : Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *