Hasil Itu Pasti, Proses Itu Mesti

ilustrasi : Ilham Panutan

Penulis: Yusuf Wicaksono (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam 2018)

Bertambahnya angka di kalender menandakan akan bertambahnya usia disetiap diri manusia. Selaras dengan itu, tak semua manusia akan menikmati perjalanan tahun ini. 

Ada yang lebih dulu menghadap sang ilahi, ada yang ditimpa musibah kelaparan, kedinginan, beserta kehancuran harta benda, ada yang hidup berdampingan dengan gangguan kesehatan.

Namun, ada juga yang menjalani tahun ini dengan bahagia karena rasa syukur kepada sang maha pemberi rezeki.

Banyak yang tua namun belum dewasa, yang hidup namun tak bernafas, yang bernafas namun tak bergerak, bergerak namun tak berpindah, berpindah namun tak berubah.

Jika dalam hidup tak berubah maka dapat dikatakan mati dalam kehidupan. Sebagian orang pernah mendengar istilah tanda hidup tersebut, tapi hanya sebagian yang mengamalkannya. Selebihnya hanya sebatas mendengarkan.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, capaian Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Indonesia pada tahun 2019 masih sangat rendah. Skor IPP Indonesia hanya 51,50. Padahal IPP merupakan hal krusial karena menjadi salah satu barometer untuk menilai kemajuan pembangunan pemuda di Indonesia.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 jumlah pemuda di Indonesia yang berusia 16-30 tahun sekitar 64,19 juta jiwa atau 24,0 persen dari total penduduk Indonesia.

Artinya setengah dari rakyat Indonesia adalah pemuda. Bahkan pernah disebutkan dalam salah satu syair “Syubanul Yaum Rijalul Ghad” pemuda hari ini pemimpin masa depan.

Syair ini juga selaras dengan pernyataan Dr. Yusuf Al Qardhowi beliau mengatakan, “pemuda jika di ibaratkan maka sama halnya seperti mentari yang bersinar terang terik di tengah siang”. 

Secara tersirat perkataan ini menunjukkan seorang pemuda identik dengan semangat berkobar, yang mampu menjadi lentera di suluh kegelapan.

Maka sudah selayaknya pemuda sebagai calon pemimpin bangsa memiliki karakteristik jiwa kepemimpinan yang baik. Memiliki semangat yang tinggi dalam membangun negeri. Sesuai dengan cita-cita bapak Presiden Joko Widodo yaitu istiqomah dalam membangun negeri. Selain itu, pemuda juga haruslah memiliki nilai spiritual, emosional serta intelejensi yang optimal.

Namun, bicara pemuda pada hari ini, realitas yang terjadi bahwa pemuda sekarang sedang ternina bobokan dengan kecanggihan teknologi. Dimana dulu teknologi menjadi perandaian dalam memajukan sebuah bangsa, bukan menjadi kerikil penghambat majunya bangsa.

Bukankah teknologi menjadi salah satu penemuan besar setelah di kombinasi dengan internet seperti dalam buku Networking with Microsoft TCP/IP, karya Drew Heywood. Perkembangan internet bermula pada tahun 1960an ketika departemen pertahanan Amerika Serikat meluncurkan program Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET).

Kemudian seiring berjalannya waktu, Institut Teknologi Massachusetts (ITM) berhasil menemukan program World Wide Web Consortium dan Tim Berners Lee menemukan program browser yang berbasis jaringan.

Tapi hal ini menjadi dualisme dampak dengan banyaknya sisi positif tidak menutup kemungkinan adanya sisi negatif. Bahkan dalam buku filsafat ilmu karangan Prof. Dr. Amsal Bachtiar, mengutip perkataan John Naisbitt seorang penulis dari Amerika, salah satu kecacatan dari teknologi adalah dalam bentuk game.

Namun, bukan berarti game ini menjadi haram dan mutlak tidak boleh di mainkan. Hanya saja ada waktu dengan penempatan yang sesuai.

Maka islam menjawab akan hal itu, seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Q.S Al Mu’minun ayat 3, artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,” maka dalam Tafsir Al-Wajiz ditulis oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir beliau berpendapat  yaitu perbincangan yang tidak ada muatan kebaikan dan kegunaannya sama sekali “mereka menjauhkan diri,” karena kebencian dan ingin menjaga diri serta keengganan.

Bila mendapati tindakan sia-sia, mereka sekedar melewatinya dengan menjaga kehormatan diri. Jika mereka berpaling dari tindakan yang sia-sia, maka sudah semestinya mereka lebih menjauhi dari perkara-perkara yang diharamkan.

Kalau seorang hamba mampu menguasai lisannya dan menyimpannya kecuali dalam kebaikan, maka dia akan berhasil mengendalikan perkara (agamanya). 

Maka ini dapat menjadi pemicu bekerjanya otak setiap pemuda sehingga akan menghasilkan pemikiran, gerakan, ide, terobosan baru dalam meningkatkan diri, kualitas, untuk dakwahnya agama islam.

Hanya mimpi belaka jika ingin pintar tidak belajar, ingin kuat tidak bertahap, ingin sukses tidak berproses, ingin bisa tidak mencoba, dan ingin berhasil tapi takut gagal.

Bukankah Zubair bin Awwam dilatih keberanian oleh ibunya sejak kecil ditempat gelap. Khalid bin Walid dilatih oleh jajaran keluarganya dalam memanah dan berperang. Bukankah ulama yang dijadikan Imam Mazhab selalu belajar disetiap harinya.

Bukankah para penemuan didunia ini mengkaji, mencoba, meneliti terhadap suatu hal tanpa takut gagal. Bukankah Prof. Fazlur Rahman dalam 24 jam menyisihkan 6 jam membaca kemudian 6 jamnya lagi menulis. Bukankah Buya Hamka dalam penjaranya mampu menuliskan Tafsir Akbar Al Azhar.

Dari sini pemuda harus tau betapa lelahnya belajar, betapa sakitnya mencari ilmu, betapa pahitnya mengejar pengetahuan dan betapa sulitnya menimbulkan rasa ghirah, gairah sehingga euphoria dalam mendapatkan hasilnya itu maksimal.

Boleh saja tidak belajar, boleh saja tidak membaca, boleh saja tidak menulis, boleh saja tidak diskusi jikalau memang sudah dapat memahami hakikat, tujuan, dan arti penting hidup didunia ini. Karena tujuan hidup bukan kita yang menentukan, tapi kita hanya menjalankan.

Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *