Fenomena Childfree, Pilihan Hidup yang Tuai Pro-Kontra

Ilustrasi: M. Reza Arya

Penulis: Wilda Halimatunnisa (Anggota LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Anak merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu dalam pernikahan. Ketika kesulitan untuk punya momongan, berbagai macam cara pun kemudian dilakukan pasangan agar bisa memiliki anak, baik melakukan pengobatan hingga adopsi.

Namun, ada beberapa pasangan yang tidak berniat untuk memiliki anak setelah mereka menikah. Dalam pernikahan, pilihan ini dikenal dengan istilah childfree.

Istilah childfree akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di media sosial dan menuai pro-kontra. Childfree adalah istilah yang digunakan untuk orang yang memilih tidak memiliki anak, atau tempat atau situasi tanpa anak.

Perbincangan ini menghangat di masyarakat setelah muncul pernyataan dari salah satu YouTuber, Gita Savitri. Gita secara terbuka mengungkapkan pilihannya untuk tidak memiliki anak.

Gita menyampaikan bahwa salah satu alasan memilih untuk childfree adalah karena faktor finansial dan kesiapan mental orang tua untuk memiliki dan mendidik anak.

Dilansir dari Tribun News, Ada beberapa alasan mengapa banyak pasangan yang memutuskan untuk childfree. Antara lain khawatir tidak bisa memberikan fasilitas yang layak untuk anak, keuangan terbatas, pekerjaan yang mengharuskan untuk berpindah-pindah lokasi serta lingkungan yang tidak memungkinkan.

Tentu saja hal ini merupakan hak pribadi masing-masing pasangan yang harus dihormati. Namun, sering kali masyarakat menganggap childfree sebagai sesuatu yang tabu atau bertentangan dengan fitrah pernikahan.

Penelitian berjudul Parenthood as a Moral Imperative? Moral Outrage and the Stigmatization of Voluntary Childfree Women and Men menyebutkan selama tiga dekade ini, pasangan yang memilih untuk tidak punya anak selalu dipandang rendah oleh masyarakat.

Pasangan childfree dinilai sebagai pasangan yang egois dan hidupnya mau bersenang-senang saja. Keputusan untuk tidak memiliki anak juga dianggap bertentangan dengan budaya yang sudah mengakar kuat di masyarakat.

Masyarakat menganggap pernikahan bertujuan untuk memiliki keturunan dan menjaga keberlangsungan hidup manusia. Tak hanya itu saja, masih banyak lagi stigma negatif di masyarakat soal pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Setelah banyak menuai pro-kontra, pilihan untuk childfree adalah kebebasan dari masing-masing pasangan. Namun, alasan yang mendasari pilihan menjadi childfree haruslah jelas, masuk akal, dan tidak menyalahi individu lainnya.

Memilih untuk mempunyai anak atau tidak bukanlah suatu hal yang patut untuk dipermasalahkan. Masyarakat haruslah paham bahwa tidak semua orang memiliki jalan yang sama.

Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *