Diksi Kekerasan Seksual di Media Sering Salah Kaprah, Mengapa?

Ilustrasi : Radar Malang

Penulis : Wisnu Akbar Prabowo (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang)

Berita mengenai kekerasan seksual seringkali mendapat perhatian lebih dari publik. Tingginya kepekaan masyarakat Indonesia terhadap kasus tersebut menjadikannya sebagai berita penting bagi sebagian besar media.

Namun, di balik masif nya jumlah berita kekerasan seksual yang terpublikasi, isi pemberitaan tersebut cenderung tidak menguntungkan bagi para korbannya akibat penggunaan diksi bias yang sebenarnya menjauhkan makna kekerasan seksual.

Diksi-diksi yang digunakan rata-rata memperhalus perbuatan bejat tersebut dan malah merugikan korban yang sebagian besar merupakan kaum perempuan. Berita di media kerap kali menggunakan kata-kata pengganti yang berkonotasi menyudutkan korban.

Salah satunya terdapat di berita yang di terbitkan oleh media Suara.com, berjudul “Bohong dan Tawarkan Tumpangan, Tukang Ledeng Menggagahi Wanita 86 Tahun” yang diunggah pada September 2020 lalu. Pada judul berita itu termuat kata “menggagahi” sebagai kata ganti perkosaan.

Di sinilah titik permasalahannya, mengingat kekerasan seksual bukanlah perbuatan yang ‘gagah’ bagi siapapun. Penggunaan kata “menggagahi” itu seolah mempertegas bahwa ‘meniduri’ seseorang secara paksa adalah perbuatan yang erat kaitannya dengan kecakapan pelaku. Pelaku dianggap gagah setelah mampu meluapkan nafsu bejatnya terhadap korban.

Selanjutnya, penggunaan kata ganti perkosaan juga terdapat pada berita di media Surabaya.tribunnews.com, berjudul “Pria Trenggalek Ini Setubuhi Gadis Belia di Ruang Tamu Saat Istrinya di Rumah, Rayuannya Bikin Miris”. Kata “setubuhi” atau “bersetubuh” memiliki makna hubungan badan tanpa kekerasan. Kata tersebut berbanding terbalik jika digunakan dalam peristiwa tragis seperti perkosaan dan pelecehan seksual, seolah-olah kekerasan seksual terjadi tanpa paksaan layaknya hubungan suami istri pada umumnya.

Kemudian pada berita lain di media Lampung.tribunnews.com yang berjudul “Wanita Muda Pasrah Layani Nafsu Bejat Pria Kenalan dari Facebook karena Foto Syur” terdapat kata “pasrah”, dapat diartikan sebagai ungkapan tidak memiliki daya atau kekuatan lagi untuk melawan pelaku. Kendatipun artinya tidak terlalu menjauhkan, akan tetapi kata tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa korban kekerasan tidak memiliki ketangguhan untuk melawan pelaku.

Parahnya, isi berita tersebut memuat kata “melayani nafsu” yang secara harfiah telah memutarbalikkan arti kekerasan seksual di mata masyarakat. Kata “melayani” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti menerima ajakan dan membantu menyiapkan keperluan seseorang. Jika ditelaah secara etimologis, maka korban kekerasan seksual tidak ada bedanya dengan pelacur yang berprofesi sebagai pelayan kebutuhan seksual.

Berita tentang kekerasan seksual, apalagi yang dilakukan pria dewasa terhadap perempuan di bawah umur, bisa membuat pembaca menjadi terkecoh. Kekerasan seksual yang sejatinya adalah perbuatan tidak senonoh bisa dimaknai sebagai peristiwa kejahatan yang biasa akibat kata-kata yang digunakan oleh para jurnalis.

Pengemasan berita juga tak jarang menimbulkan kesan spontan, yang berarti kekerasan tersebut terjadi secara tidak sengaja. Padahal kenyataannya, kekerasan seksual tersebut telah disengaja tak hanya sekali pada korban, namun dapat berulang kali dan dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius terhadap korban.

Sebab dari penggunaan kata inilah yang memicu pembelokan fakta dari apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Media menyulap tragedi tersebut menjadi kekerasan yang bersifat halus dan menempatkan korban pada titik serendah-rendahnya. Akhirnya, berita-berita kekerasan seksual hanya akan menumbuhkan rasa empati pembaca saja tanpa menimbulkan efek jera terhadap pelaku.

Di sini, redaksi media lah yang berperan penting dalam memanusiakan korban kekerasan seksual. Sejatinya, berita-berita yang tayang harus memberitakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa adanya pembiasan. Selain menimbulkan efek terhadap pelaku dan korban, berita tersebut juga berperan terhadap edukasi masyarakat penikmat berita.

Berita yang dikemas dengan ‘apik’ justru berkesan menyudutkan korban dan mengunggulkan pelaku kejahatan seksual. Sedini mungkin penggunaan diksi-diksi bias tersebut harus diminimalisasi agar tidak menimbulkan persepsi negatif bagi korban kekerasan seksual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *