Delik Omeli Suami Berujung Bui

ilustrasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Sumber Foto: IST
Penulis: Ilham Panutan (Pengurus LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Lantaran memarahi suami yang pulang mabuk, Valencya (Nancy Lim) harus dituntut 1 tahun penjara atas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Psikis.

Kasus ini bermula dari laporan Valencya terhadap suaminya atas delik penelantaran anak dan istri. Namun, CYC (suami Valencya) balik melaporkan Valencya pada September 2020 yang membuat Valencya dituntut 1 tahun pada sidang di Pengadilan Negeri Karawang pada 11 November 2021.

Dilansir dari kompas.com Valencya membuat pernyataan agar para ibu-ibu tidak lagi memarahi suami ketika pulang dalam keadaan mabuk.

“Ini pesan buat ibu-ibu agar jangan lagi memarahi suami, terima dengan baik ketika pulang dalam keadaan mabuk,” singgungnya.

Dalih atas delik ini adalah tekanan psikis dan pengusiran oleh Valencya kepada CYC saat mabuk, namun sampai saat ini belum ada kepastian yang jelas apakah ada surat keterangan psikolog terhadap CYC yang menyatakan adanya tekanan psikis yang dialami.

Padahal tertuang dalam pedoman No 1 tahun 2021 tentang Akses Keadilan Bagi Perempuan dan Anak dalam Penanganan Perkara Pidana, delik atas KDRT salah satunya harus dilengkapi surat keterangan medis.

Selanjutnya, Angel anak dari Valencya bingung atas delik ini lantaran seharusnya Valencya yang terganggu akibat ulah ayahnya yang pemabuk.

“Anak-anaknya tahu betul kelakuan papa, mama setiap hari menangis oleh kelakuan papa. kok ini jadi kebalik, kesaksian saya di polisi tidak di pertimbangkan hukum,” ucapnya.

Berbanding terbalik, Kuasa Hukum CYC Hotma Raja Bernard Nainggolan mengungkapkan bahwa, CYC tak mabuk-mabukan dan masalah yang dialami adalah keuangan.

“Itu enggak benar. Ributnya karena keuangan,” ungkapnya.

Jika diamati kembali, kasus ini hanyalah prahara rumah tangga yang berujung saling lapor. Padahal dalam penanganannya dapat diselesaikan dengan mediasi atau hanya dalam internal saja. 

Baca Juga: Seberapa Besar Pemuda Tahankan Jiwa Nasionalisnya Kini?

Dikutip dari Kompas.com Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kabupaten Karawang, Asep Agustian menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan sidang kasus Valencya.

“Itu (kasus itu) seharusnya tidak terjadi jika ditangani secara restorative justice dan mengedepankan keadilan terhadap perempuan,” ucapnya.

Selanjutnya, pada Selasa, (16/11/21) kemarin sidang lanjutan yang seharusnya sudah dilaksanakan justru ditunda akibat jaksa penuntut yang belum siap. Tidak kesiapan ini kian membuat publik bertanya-tanya atas delik ini.

Sorotan publik atas kasus ini membuat Kejaksaan Agung (Kejagung) mengambil alih perkara setelah dilakukannya tindakan penelitian dan pemeriksaan atau eksaminasi terhadap berkas perkara.

Kriminalisasi dan tidak adanya sense of crisis dalam penanganan perkara ini juga membuktikan adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap pedoman Jaksa Agung yang tidak mengedepankan upaya restoratif.

Ditambah lagi, seharusnya CYC selaku suami dari Valencya buka suara apa yang sebenarnya terjadi. Kisruh ini tidak patut untuk berujung satu tahun penjara bagi Valencya, alangkah baiknya kasus tersebut diselesaikan melalui mediasi kedua belah pihak saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *