Benarkah Indonesia Negara yang Kaya Akan Air ?

Sumber : Freepik

Penulis : Bunga Yunielda (Pengurus LPM Ukhuwah)

Air menjadi sumber kehidupan yang sangat penting bagi makhluk hidup, tidak hanya untuk manusia, tetapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kurangnya air di suatu tempat dapat menjadi permasalahan besar karena mampu membunuh kehidupan di sekitarnya, tak terlepas juga di Indonesia.

Fenomena kelangkaan air di Indonesia, setiap hari semakin sering terjadi. Berdasarkan laporan Water Environment Partneship in Asia (WEPA), Indonesia merupakan negara yang  memiliki 6% potensi air dunia. Namun, kebutuhan air penduduk Indonesia masih belum tercukupi.

Indonesia dikenal dengan iklimnya yang tropis, hal ini mempengaruhi musim yang ada daerah ini yakni, musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga bulan April, membuat daerah yang didatanginya menjadi berlimpah air sehingga air yang jatuh dapat memenuhi kebutuhan penduduk sekitar.

Dari pernyataan di atas, menimbulkan tanggapan dari pihak luar bahwa air sangat mudah didapatkan di Indonesia, karena hujan selalu turun setiap tahunnya.  Sumber air pun tak hanya berasal dari air hujan, ada juga air yang berasal dari air sungai.

Tapi pada kenyataannya kelangkaan air masih terjadi di Indonesia, salah satu contohnya adalah Kota Jakarta. Mengutip dari Indonesia.go.id, pada tahun 2018 cakupan air bersih di Jakarta baru mencapai 60%. Maka,  masih ada 40% penduduk Jakarta yang belum mendapatkan akses air bersih.

Jika sekelas ibukota negara, seperti Kota Jakarta yang diketahui mumpuni dengan infrastukturnya, justru masih mengalami kelangkaan air bersih. Lalu bagaimana dengan kondisi daerah terpencil yang aksesnya sulit dijangkau?

Mendukung pernyataan tersebut, BMKG menyatakan bahwa Indonesia mengalami bencana kekeringan yang terjadi selama 30 tahun, sejak tahun 1979 hingga tahun 2009. Hal ini terjadi di Pulau Jawa, salah satu daerah sentral yang menjadi langganan bencana kekeringan di tahun tersebut dan diprediksi di tahun 2040 hal serupa berupa kelangkaan air akan terjadi.

Sungguh ironi bukan? Kekeringan di daerah pusat atau sentral di Indonesia disebabkan oleh faktor mendasarnya yaitu, perubahan iklim. Selain perubahan iklim, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kekeringan bertahan dan kersediaan air yang tak memadai yaitu, pertumbuhan penduduk yang signifikan, serta perubahan tata guna lahan, seperti kurangnya daerah resapan air dan dibangunnya rumah atau bangunan yang mengurangi cadangan air tanah di daerah tersebut.

Walau Indonesia memiliki cadangan sumber air berupa air sungai namun berdasarkan data yang dilansir dari dari greeners.co pada bulan Desember 2018, sebanyak 550 sungai yang berada di Indonesia, 82% diantaranya dalam keadaan tercemar.

Sumber air yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai cadangan saat kekeringan melanda, justru tak mampu dikonsumsi dan bahkan menjadi sumber penyakit.

Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegah bencana ini. Pertama, Reboisasi.  Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang ditebang secara berlebihan. Karena dengan berkurangnya pohon maka akan membuat air sulit terserap ke tanah. Bukan itu saja, pohonpun merupakan penyaring alami untuk menjaga kualitas air bersih. Hal ini tidak hanya bagus untuk kualitas air tapi juga membuat hutan memiliki air tanah yang nantinya dapat dimanfaatkan.

Hal yang dapat kita lakukan berikutnya adalah tidak boros dalam pengunaan air. Selalu biasakan untuk tidak membuang ataupun boros terhadap pengunaan air. Tanpa kita sadari hal ini merupakan penyebab utama kelangkaan air. Dengan menghemat air hari ini kita dapat menyimpan air untuk di masa depan.

Dan terakhir, jangan biasakan membuang sampah sembarangan. Sampah tidak hanya mengangu di daratan, tapi juga sangat mengangu di perairan. Karena dapat mencemari dan menggangu ekosistem alami yang ada. Contohnya, pembuangan limbah pabrik dan rumah tangga secara sembarangan, baik itu limbah padat ataupun cair.

Dengan banyaknya kasus kelangkaan air, sudah seharusnya kita melakukan penghematan dan lebih peduli pada lingkungan karena tentunya kita tidak mau kehabisan sumber daya alam yang sangat berharga ini untuk masa depan nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *