Alerta! Jurnalis Perlu Paham Perspektif Gender

Sumber : Google Image

Penulis : Yuni Rahmawati (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang)

Isu bias gender sejak dulu sudah menjadi hal lumrah yang terus tersaji di depan mata kita. Pola pikir masyarakat telah sepakat, bahwa laki-laki menduduki derajat lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal inilah yang menjadikan stereotip terhadap perempuan dan menumbuhkan budaya patriarki di kalangan masyarakat.

Stereotip terhadap perempuan dipengaruhi oleh inovasi teknologi yang semakin luas. Adanya media televisi swasta dan media massa untuk memudahkan semua orang mendapatkan informasi, menjadikan stereotip ini terus tumbuh dan melekat.

Berdasarkan hasil penelitian Tempo Institute bersama Pusat Data dan Analisis Tempo pada 2018 hasil penelitian menyatakan hanya 11 persen atau sekitar 2.500an narasumber perempuan dari hampir 23 ribu narasumber yang dikutip pada media Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, Jawa Pos, Tempo.co, Kompas.com, dan Detik.com. Artinya isu bias gender ini dipengaruhi oleh kurangnya database narasumber perempuan pada redaksi media di Indonesia.

Jika bisa dilihat, sebenarnya media massa menjadi sebuah sasaran strategis bagi alat untuk menyuarakan identitas dan kepentingan perempuan. Hal ini dikarenakan karakter dan peran media massa yang khas sebagai sumber informasi, pendidikan, dan hiburan. Media massa diyakini sebagai pembentuk pemahaman masyarakat terhadap sesuatu dengan cara digencarkan secara berulang hingga menjadi hal yang biasa di telinga dan mata masyarakat.

Media selalu mempromosikan sosok perempuan. Karena, menurut pasar penonton media, perempuan lebih menjual dibandingkan laki-laki. Eksploitasi terus berlanjut hingga detik ini, dimana iklan, sponsor, drama, serial televisi dan pemberitaan selalu menggunakan “perempuan” sebagai objek.

Akhirnya perempuan hanya dijadikan sebagai pemenuh dalam urusan domestik. Lalu, terbentuklah perspektif perempuan harus cantik, tinggi, putih, menawan dan seksi melalui promosi shampo, sabun, body lotion dan bahkan promosi ajang kecantikan.

Perempuan juga dianggap sebagai makhluk lemah lembut, mudah menangis, mudah tergoda dan mudah tersakiti melalui tayangan drama televisi. Akhirnya, perspektif itu terus timbul dan menjadi konsumsi publik. Lebih meyakinkan lagi, sering muncul juga berita penyiksaan, pemerkosaan, penindasan yang juga menjadikan perempuan sebagai objek utama peliputan.

Objek liputan tersebut bukan hanya menjurus pada tulisan-tulisan yang umum saja. Namun, beberapa ditulis secara seksisme oleh wartawan sehingga menimbulkan layak jual sebuah berita dan mendapatkan klik paling atas atau utama di Google.

Contohnya judul berita media Viva Indonesia di laman onlinenya yaitu viva.co.id dengan memberi judul berita “Duh, Pose Mengangkang Bidadari Bulutangkis Australia Bikin Ngilu”, “Bikin Gagal Fokus Pose Seksi Bidadari Bulutangkis Australia di Gym”, dan “Wow Bidadari Bulutangkis Australia Foto Seksi Tampak Bokong”, yang dikemas secara sensual oleh wartawan laki-laki asal media Viva tersebut.

Kemudian, hal yang masih terus berlanjut hingga kini adalah menulis judul dengan cara menyudutkan korban perempuan dalam kasus kekerasan seksual dengan memberi judul berita yang sensasionalisme seperti “disetubuhi”, “dicabuli”, “digilir”, dan lainnya. Lewat pemberian judul saja bisa dilihat jika pemberitaan berobjek perempuan menjadi daya tarik tersendiri pada kasus-kasus kriminal, judulnya pun sudah tidak bersahabat lagi di telinga.

Perempuan selalu menjadi objek seksual dan menjadi kaum terpojok demi kenaikan kelas pasar sebuah media. Ini dikarenakan sistem Kapitalisme yang dianut oleh pemegang modal dalam suatu media. Pemilik media tentunya tidak ingin pasar mereka jatuh. Sehingga, isu seksisme seperti ini masuk pada ruang redaksi dan menggadaikan kode etik juranlistik itu sendiri.

Efek dari media massa adalah memperkokoh anggapan atau stereotip terhadap perempuan yang telah dibangun kepada masyarakat. Ketika media menyajikan sesuatu yang konsisten terhadap perempuan, akhirnya masyarakat cenderung untuk mengikuti apa yang telah tampak oleh mata dan pendengaran. Akhirnya, stereotip terhadap perempuan tidak akan usai jika kita berbicara tentang konsumen pasar media.

Peran media massa tidak bisa dipandang enteng, media juga dianggap menjadi peneguh apa yang sudah terbangun serta memberi pembenaran, bahkan mendukung kondisi yang memfasilitasi praktik-praktik kekerasan terhadap perempuan akibat media massa. Meminimalisir hal-hal berbau stereotip terhadap perempuan di media dan pemberitaan adalah hal yang urgent. Menyamakan perspektif dan rutin menayangkan perkara tidak bias gender bisa dilakukan dalam mengubah pola pikir masyarakat terhadap perempuan. Hal ini bisa dilakukan oleh reporter dan pemegang keputusan redaksi di sebuah media. Namun, ini yang masih menjadi kekurangan.

Peran media massa hingga saat ini masih bias gender, tidak berpihak kepada perempuan, malahan perempuan dijadikan komoditas produk acara atau iklan, berita atau sinetron yang dijual di media massa, seharusnya jurnalis mampu berperan sebagai watchdog bagi pemerintah dalam membongkar perspektif patriarkis di negeri ini, sehingga liputan media massa yang dihasilkan menjadi peka terhadap isu-isu perempuan.

Dirujuk dari buku Jejak Jurnalis Perempuan karya Luviana yang diterbitkan oleh Aliansi Juranlis Independen (AJI) Indonesia. Dalam analisis data tentang jumlah jurnalis perempuan di Indonesia menunjukkan, dari 10 jurnalis, hanya ada 2 sampai 3 jurnalis perempuan. Atau dari 1000 jurnalis, 200-300 adalah perempuan, selebihnya jurnalis laki-laki. Data juga menunjukkan, hanya 6 persen jurnalis perempuan yang duduk sebagai petinggi redaksi. 94 persen atau mayoritas jurnalis perempuan bekerja sebagai reporter atau bukan pengambil keputusan redaksional. Minimnya jumlah jurnalis perempuan dalam dapur redaksi, membuat banyak kebijakan media kurang ramah terhadap kebutuhan perempuan, termasuk dalam tugas peliputan.

Kuantitas tersebut tak bisa kita elakan. Memang, kebanyakan jurnalis laki-laki menduduki ruang dan pemegang keputusan lebih banyak dibanding perempuan. Tetapi dalam kasus-kasus kekerasan seksual, laki-laki tidak memiliki sensitifitas lebih dalam peliputan.

Akhirnya timbul bias gender yang sering kita dengar, perempuan menjadi terpojokan dan menjadi objek utama peliputan. Contohnya saja kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan, namun yang disalahkan adalah perempuan dengan dalih pakaian yang terbuka sehingga mengundang nafsu atau syahwat seorang laki-laki. Dalam kasus ini, perempuan yang menjadi korban akan merasa terus saja disalahkan.

Hal inilah yang menjadi tantangan besar para jurnalis, baik pekerja media konvensional atau bahkan pers mahasiswa. Yang seharusnya kita kaji, perjuangkan dan kita kokohkan adalah bagaimana pemahaman tentang isu gender ini bisa masuk kepada seluruh jurnalis di media. Sebelum mengubah perspektif dan pola pikir terhadap stereotip perempuan di mata masyarakat, lebih dulu jurnalis lah yang harus mengubah perspektif dan pola pikir tersebut. Karena, hadirnya pemahaman isu gender diantara jurnalis inilah yang akan menjadi bekal untuk mengubah mindset masyarakat.

Seharusnya hal ini bisa ditanamkan sejak awal, melalui pendidikan. Sudah banyak kampus negeri bahkan swasta yang mempunyai program studi (prodi) khusus Jurnalistik dan bahkan prodi yang konsentrasinya jurnalistik. Fungsi dibentuknya prodi ini adalah menumbuhkan bibit calon jurnalis yang profesional. Menanamkan sejak awal materi tentang Media dan Gender juga sangat penting.

Sehingga pada saat menjadi seorang jurnalis profesional mereka sudah memahami alur dan ketentuan sebuah media dan menjadi jurnalis yang taat. Diluar dari itu, setiap kampus juga memberikan ruang untuk mahasiswa dalam mengekspresikan minat dan bakat terhadap menulis dalam wadah Lembaga Pers Mahasiswa. Disini jugalah tempat menanamkan dan menumbuhkan bibit baru jurnalis.

Melalui pemahaman tentang isu gender juga, kita bisa meminilaisir kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dalam hal fisik dan non-fisik. Dan tentunya, memahami kode etik jurnalistik juga sudah semestinya dilakukan oleh para jurnalis. Sehingga akhirnya nanti, terciptalah perspektif gender yang dianut oleh para jurnalis dan masuk ke dapur redaksi yang akhirnya nanti bisa mengubah stereotip masyarakat terhadap perempuan.

Lantas, bagaimana jika seorang pekerja media tidak memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan lulusan prodi Jurnalistik? Jawabannya adalah terus menumbuhkan pemahaman-pemahaman mengenai isu media dan gender ini. Perusahana media harus memberi ruang belajar para jurnalis untuk mempelajari isu tersebut. Dalam hal ini, seharusnya pemegang perusahaan media sudah bisa membuka diri tentang pentingnya memahami isu gender sehingga tidak terjadi ketimpangan.

Pemilik media bisa menyeleksi siapa yang pantas naik ke posisi pemegang keputusan redaksi, yaitu mereka yang telah paham tentang media dan gender. Ini yang menjadi solusi konkret agar media bisa menghilangkan stereotip masyarakat terhadap perempuan dan menjadi media yang bisa menjadi rujukan. Karena, seiring berkembangnya teknologi, media akan terus menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam melihat dan mendapatkan informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *