Opini : Benarkah TPA adalah Tempat Berakhirnya Sampah?

Seorang anak menyantap makanan disela-sela menjadi pengepul sampah di TPA Sukawinatan. Sabtu (17/10/2020) Ukhuwahfoto/ Humaidy Kenedy

Penulis : Humaidy Aditya Kenedy (Pengurus LPM Ukhuwah UIN RF Palembang)

Sampah menjadi masalah yang sangat sensitif saat ini, sampah seringkali dianggap sebagai benda yang tidak berguna dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Karena anggapan tersebutlah terkadang membuat masyarakat pesimis dan apatis terhadap bagaimana pengelolaan sampah yang tidak berguna menjadi bisa berguna.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi tujuan akhir bagi sampah-sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga, perhotelan, perusahaan ataupun lainnya. Disetiap provinsi di Indonesia pasti memiliki tempat pembuangan akhir, akan tetapi setiap TPA yang ada memiliki system dan pengelolaan yang berbeda-beda.

TPA Sukawinatan, salah satu tempat pembuangan akhir bagi sampah yang kini sudah menggunung dan dijuluki sebagai gunung sampah. TPA yang terletak di Kel. Sukajaya Kec. Sukarami Kota Palembang ini memiliki sistem Open Dumping. Yaitu sistem terbuka, dimana sampah dikumpulkan dan dibiarkan begitu saja.

Sejumlah alat berat sedang beroperasi di tumpukan sampah TPA Sukawinatan. Selasa (20/10/2020). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Setiap hari TPA Sukawinatan menerima kiriman sampah dari berbagai kecamatan di Kota Palembang, dalam sehari terkadang sampah yang masuk sebanyak 600 ton. Sampah  diangkut menggunakan kendaraan roda empat. Sampah-sampah tersebut tidak melewati tahap pemilahan atau lainnya, langsung dibuang dan ditumpuk menjadi tumpukan sampah yang sekarang sudah menggunung.

TPA yang memiliki luas kurang lebih 25 hektar ini dalam pelaksanaanya masih menggunakan sistem Open Dumping, yaitu sistem pengelolaan sampah terbuka. Sampah yang datang kemudian ditumpuk dan diratakan begitu saja tanpa adanya penanganan lanjut dari pihak TPA Sukawinatan. Dengan sistem tersebut akan ada banyak masalah pencemaran yang akan ditimbulkan oleh TPA Sukawinatan ini.

Seperti yang dilansir oleh Vice.com dalam artikel mereka yang berjudul “Bom Waktu dari Aktivitas Gunung Sampah ‘Terbesar Sedunia” Dekat Jakarta”, mengatakan Sistem Open dumping sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan longsor dan melepaskan zat-zat kimia dari sampah ke udara. Misalnya seperti gas Methane Atau Metana (CH4) yang dihasilkan dari penguraian sampah organik. Paparan metana yang berlebihan dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia bahkan kematian dan merusak planet, karena gas metana memicu pemansan global, karena mampu menyerap panas 34 kali lebih tinggi daripada karbondioksida dalam skala waktu 100 tahun.

Antrian truck yang membawa sampah untuk dibuang ke TPA Sukawinatan. Sabtu (17/10/2020). Ukhuwahfoto/Krisna Aldrin

Dalam programnya TPA sukawinatan memiliki sejumlah teknologi yang bisa menjadi solusi dalam penanganan sampah yang ada di TPA Tersebut. Salah satunya adalah pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar gas untuk memasak dan listrik yang dihasilkan dari sampah di TPA Sukawinatan. Akan tetapi hal tersebut mempunyai hambatan, baik hambatan pendanaan ataupun sumber daya manusia yang kurang. Beberapa mesin yang menjadi penunjang penanganan sampah terlihat tidak beroperasi karena sudah rusak.

Selain aktivitas keluar masuk mobil pengangkut sampah dan alat berat meratakan sampah,  di gunung sampah ini juga ada aktivitas dari para pengepul sampah untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Setiap harinya para pengenpul ini memilah dan mengumpukan sampah-sampah yang masih bisa untuk dijual kembali, mulai dari plastik, alma, besi dan berbagai macam lainnya.

Yang menjadi pengepul sampah di TPA tersebut mayoritas orang dewasa, dimana mereka mencari uang untuk menghidupi keluarganya. Akan tetapi, tak hanya orang dewasa, terkadang terlihat juga anak-anak yang ikut membantu orang tuanya untuk mencari rejeki digunung sampah tersebut.

Tumpukan sampah dengan sistem Open dumping yang dekat dengan pemukiman warga. Sabtu (17/20/2020). Ukhuwahfoto/Humaidy Kenedy

TPA dengan sistem Open dumping biasanya hanya memanfaatkan para pengepul yang berjuang hidup, tentu hal ini akan menimbulkan banyak masalah dikemudian hari. Seperti pencemaran lingkungan, kesehatan masyarakat yang buruk dan penumpukan sampah yang terus bertambah. Oleh sebab itu, penanganan sampah harus menjadi perhatian yang sangat penting bagi pemerintahan, karena dampak yang ditimbulkan oleh sampah akan sangat merugikan kehidupan manusia.

Pilihan terbaik dalam mengelola TPA adalah dengan menggunakan sistem Sanitary Landfill, yaitu sarana pengurungan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematis. Atau mencontoh juga seperti yang dilakukan oleh TPA Kebon Kongok yang ada di Kota Lombok, dimana mereka menyulap sampah menjadi pelet Refuse Deived Fuel (RDF) untuk menjadi bahan bakar pengganti batubara.

Jadi sampah yang datang ke TPA bukanlah sampah yang tidak bisa dimanfaatkan, semuanya bisa menjadi berguna dengan pengeloloaan yang tepat dan baik. Perhatian pemerintah harus lebih lagi dalam menangani masalah sampah yang setiap harinya bertambah. Akan tetapi disisi lain masyarakat harus memperhatikan lagi dalam membuang sampah dengan bijak dan benar.

Editor : Yuni Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *